Mengenal Sekutu Zionis Sheikh Hamad bin Khalifa al-Tsani (lahir 1950 di Doha, Qatar) adalah Emir Qatar saat ini. Raja yang fasih berbahasa Inggris ini dipandang oleh Amerika sebagai tokoh penting dalam kawasan Timur Tengah dan Teluk setelah Arab Saudi mulai dianggap kurang mampu membasmi wahabi ekstrim sejak Pemboman WTC. Ialulus dari Royal Military Academy Sandhurst (Inggris) tahun 1971. Ia melakukan kudeta tahun 1995 ketika ayahnya, Emir Khalifa bin Hamad al-Tsani) berada di Jenewa (Swiss) untuk memulai proses modernisasi di negerinya. Iadikenal oleh dunia barat karena sifatnya yang sering membantu keuangan jaringan televisi Al Jazeera. Time menyebutnya sebagai bidan kelahiran Al-Jazeera. Pada pertengahan 1990-an, saat siaran BBC World dalam bahasa Arab yang didanai sejumlah investor di Arab Saudi mengalami masalah sensor pemberitaan dengan pemerintah setempat. Setelah ditutupnya BBC Arab, ia memboyong sejumlah jurnalis Arab untuk menyeberang ke teluk. Dengandana US$ 150 juta, ia mendirikan stasiun televisi berbahasa Arab. Ia pun mendapuk sepupunya, Syekh Hamad bin Thamir al-Tsani untuk memimpin. Ia memang membutuhkan media untuk membawa angin perubahan di negerinya. PamorAl-Jazeera kian dikenal selepas serangan 11 September 2001 dan menjadi satu-satunya media elektronik di dunia yang menyiarkan rekaman pernyataan Usamah bin Ladin. Karenaitu, Hamad sering dikritik pemerintahan Amerika Serikat membantu pihak musuh ketika perang Irak dan intifada Palestina.Walaupundemikian Syekh Hamad merupakan sekutu penting Amerika Serikat di Timur Tengah. Qatar juga disebut sebagai kampusnya universitas-universitas Amerika Serikat di Timur Tengah dalam sebuah proyek dari Yayasan Qatar yang disebut Kota Pendidikan yang dijalankan oleh istri Emir, Syaikha Muzah binti Nassir al-Missnad. Orang yang menjadi penerus dari Emir Hamad adalah Sheikh Tamim bin Hamad al-Tsani, anaknya yang keempat. Sekutu Zionis dari Jordan Ia adalah raja yang lebih lama hidup di Inggris ketimbang di Jordania, negara yang diciptakan oleh Inggris setelah memberikan Hijaz kepada Abdul Aziz Al-saud. Abdullah merupakan putra langsung Raja Hussein dengan Putri Muna al-Hussein, terlahir Antoinette (Toni) Avril Gardiner. Ia memiliki 4 saudara dan 6 saudari. Pangeran Abdullah memulai pendidikannya di Islamic Educational College dan menerima pendidikan lanjutan di St. Edmund’s School di Surrey, Inggris, Eaglebrook School di Massachusetts, kemudian di Akademi Deerfield di Amerika Serikat. Pada 1980, Pangeran Abdullah memasuki Royal Military Academy Sandhurst di Britania Raya, di mana ia menerima pendidikan militernya. PangeranAbdullah menamatkan universitas pada 1984, menjalani setahun kursus Studi Khusus di Politik Internasional dan Urusan Luar Negeri. Setelah kembali, ia melanjutkan kemiliterannya, menambah pengalaman dan bekerja pada jalannya sebagai Kapten dan Komandan Kompi Tank pada Brigade Lapis Baja ke-91. Antara 1986-1987, juga sebagai Kapten, ia bekerja pada Satuan Anti Tank Helikopter AU Royal Jordanian sebagai Instruktor Taktik, di mana ia menerima kualifikasi sebagai Pilot Helikopter Serangan Kobra. Pada1987, Pangeran Abdullah mengikuti Fakultas Dinas Luar Negeri di Universitas Georgetown di Washington, D.C., dan tinggal di tempat kerja sebagai Anggota Pertengahan Karir. Ia menjalani Studi dan Riset Lanjutan di Urusan Internasional di bawah bantuan M.Sc dalam Program Dinas Luar Negeri. Saatkembali, ia diangkat pada Batalion Tank ke-17, Brigade Pengawal Kerajaan ke-2 dan di musim panas 1989, ia menjadi Batalion orang kedua dalam pimpinan, dengan pangkat mayor. Pada 1991, Pangeran Abdullah merupakan Perwakilan Baju Baja dalam Jabatan Inspektur Jenderal.. Ia naik pangkat menjadi LetKol di akhir tahun dan mengambil komando Resimen Mobil Lapis Baja ke-2 pada Brigade ke-10. Padapenyerahan batalion pada Januari 1993, Pangeran Abdullah naik pangkat sebagai Kolonel dan bertugas sebagai Wakil Komandan Angkatan Khusus Yordania. Pada Juni 1994, ia naik pangkat sebagai BrigJen, dan memikul komando Angkatan Khusus Kerajaan Yordania, setelah bertugas sebagai Wakil Komandan selama 6 bulan. Ia diangkat sebagai komandan pada Komando Operasi Khusus pada Oktober 1997, dan pada Mei 1998, ia naik pangkat sebagai MayJen. Disamping karirnya sebagai opsir pasukan, Pangeran Abdullah telah bertugas di Yordania dalam banyak waktu dalam kapasitas resmi pengawas dalam absennya Raja Hussein, dan ia secara berkala berjalan dengan Raja Hussein. Sebelum naik tahta, Pangeran Abdullah mewakili Yordania dan ayahandanya dalam banyak kunjungan ke seluruh negara di seantero dunia, dan mengembangkan hubungan akrab dengan pemimpin dan pejabat sejumlah negara Arab selama kursus karirnya. Abdullah menikah dengan seorang kelahiran Palestina, Rania Al-Yassin (kini Ratu Rania al-Abdullah) pada 10 Juni 1993. Mereka memiliki empat anak: Raja Abdullah merupakan pilot dan prajurit tentara payung terjun bebas.. Perhatian lainnya ialah balap mobil (ia merupakan mantan Juara Balap Reli Nasional Yordania), olah raga air, penyelaman dan mengumpulkan senjata dan alat perang kuno. Raja Abdullah memangku kekuasaan konstitusionalnya sebagai Raja Yordania pada 7 Februari 1999, hari saat ayahandanya, Raja Hussein bin Talal, mangkat. Raja Abdullah berfokus pada pembangunan warisan yang ditinggalkan Raja Hussein untuk institusionalisasi demokrasi Yordania di masa depan dan pluralisme politik, saat bekerja untuk keadilan dan perdamaian menyeluruh dalam iklim keterbukaan dan toleransi. Karenasejak pendiriannya Yordania ditopang dari subsidi negara imperialis, kebijakan ekonomi penguasa Yordania tidak lebih selain mengikuti arahan para donatur yang memberikan utang. Jeratan utang ini pulalah yang menyebabkan ambruknya ekonomi Yordania. Atas nama reformasi ekonomi dan perbaikan kualitas hidup, Raja Abdullah II bekerja sama dengan IMF. Rezimnya juga melakukan liberalisasi perdagangan dengan menjadi anggota WTO (2000) serta melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan AS. Akibatnya yang menderita ialah rakyat. Utang luar negeri sebagian besar bocor dan masuk ke kantong penguasa. Dan investasi maupun cadangan berada dalam kontrol raja dan kroninya yang terdiri dari para tokoh maupun pejabat. Mereka melakukan utang luar negeri sesuai arahan IMF. Mereka melaksanakan apapun yang dituntut baik dalam masalah dana, budaya maupun sosial. Mereka mendanaianya dengan dana publik dari suap, spekulasi, maupun komisi. Selanjutnya, untuk menyempurnakan aktivitasnya, mereka menyempurnakan UU ekonomi, seperti tentang inestasi, privatisasi, otonomi wilayah Aqobah, pajak umum penjualan, dsb. Ini dilakukan di bawah jargon ‘perbaikan ekonomi’. Ini membuat adanya penjualan tanah dan perusahaan terhadap nonmuslim termasuk Yahudi. Ini mengakibatkan kefakiran, kelaparan, PHK massal, merajalelanya penyakit dan kehinaan. Saat utang itu telah jatuh tempo, untuk menutupi dan membayar bunganya, dengan bantuan pemerintah IMF menaikkan pajak maupun pungutan, meningkatkan harga, mengurangi dana publik dengan memensiundinikan pegawai negeri. Raja Abdullah juga mendukung perang melawan terorismenya AS dengan latih perang bersama antara tentara AS dengan Yordania. Ini kebohongan, karena AS mempersiapkan serangan serangan ke Irak dan penguasa Yordania memfasilitasi AS untuk itu. Sebagai imbalannya, hadiahnya ialah utang. Tanpamempertimbangkan hukum syari’at tentang larangan melakukan hubungan ápapun dengan muóuh yang sedang memerangi kaum muslimin, kecuali hubungan perang, pada September 2002 penguasa Yordania melakukan kerja sama dengan Israel. Mereka sepakat membangun saluran air dari Laut Merah ke Laut Mati. Proyek yang menghabiskan dana $800 juta ini merupakan kerja sama terbesar kedua negara. DalamPemilu pertama di bawah pemerintahan Raja Abdullah II pada Juni 2003, dua pertiga kursi dimenangkan loyalis raja, yang kekritisan dan kekonsekuenannya untuk mengurusi urusan rakyat dipertanyakan. Sekutu Zionis dari Mesir Muhammad Hosni Said Mubarak, (lahir di Kafr-El Meselha, Al Monufiyah, 4 Mei 1928; umur 80 tahun) yang menjadi presiden Mesir sejak 14 Oktober 1981 adalah figur presiden mirip Soeharto karena menciptakan partai-partai oposisi ‘palsu” dengan parlemen palsu. Berikut profilnya: Mubarak ditunjuk sebagai wakil presiden setelah pangkatnya naik di jajaran Angkatan Udara Mesir. Kemudian, ia menjadi presiden untuk menggantikan presiden Anwar Al Sadat yang terbunuh pada 6 Oktober 1981 oleh kelompok radikal. Ia merupakan Presiden Mesir keempat untuk masa jabatan lebih dari 15 tahun sejak menjabat pada tahun 1981. Sebagai Presiden Mesir, ia dianggap sebagai pemimpin yang paling berkuasa di wilayahnya. Mubarak lahir pada 4 Mei 1928 di “Kafr El-Meselha”, Governorat Al Monufiyah (Mesir). Saat masih belajar di perguruan tinggi, ia bergabung dengan Akademi Militer Mesir hingga meraih gelar Bachelor’s Degree dalam Pengetahuan Militer pada tahun 1949. Pada tahun 1950, ia bergabung dengan Akademi Angkatan Udara dan kembali meraih gelar Bachelor’s Degree untuk Pengetahuan Aviation serta Ia mengajar di Akademi Angkatan Udara pada periode 1952-1959. Pada tahun 1964, ia diangkat sebagai Kepala Delegasi Militer Mesir untuk USSR. Dibawah Konstitusi Mesir 1971, Presiden Mubarak memiliki kuasa yang luas atas Mesir. Bahkan, dia dianggap banyak orang sebagai seorang diktator, meskipun moderat. Ia dikenal karena posisinya yang netral dalam Konflik Israel-Palestina dan sering terlibat dalam negosiasi antar kedua pihak. Setelahbergabung di Akademi Militer FROUNZ (Uni Soviet), ia menjadi Komandan Pangkalan Udara Barat Kairo (1964) dan menjabat Direktur Akademi Angkatan Udara pada tahun 1968. Pada tahun 1969, ia menjabat Kepala Staf Angkatan Udara dan Komandan Angkatan Udara serta Wakil Menteri Peperangan (1972). Pada 1974, ia dipromosikan ke peringkat Letnan Jendral dan Wakil-Presiden Republik Arab Mesir (1975). Pada1979, ia menjabat Wakil-Presiden Partai Demokratik Nasional (NDP) dan langsung menjabat Presiden Republik Arab Mesir pada 1981. Pada 1982, ia menjabat Presiden Partai Demokratik Nasional dan terpilih kembali sebagai presiden (1987). Periode 1989-1990, ia menjabat Ketua Umum Organisasi Persatuan Afrika “OAU”. Ia terpilih kembali sebagai presiden pada 1993 dan menjabat lagi sebagai Ketua Umum Organisasi Persatuan Afrika “OAU” pada periode 1993-1994. Sejak Juni 1996, ia menjabat Ketua Umum Arab Summit. Ia terpilih kembali sebagai presiden pada 1999 dan menjabat Ketua Umum G-15 pada periode 1998-2000.[Sumber Islam Protes]
________________________________ Dari: Zul Padli <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 15 Januari, 2009 09:36:21 Topik: [syiar-islam] Resolusi 1860 Bukti Nyata Pengecutnya Para Penguasa Negeri Islam Normal 0 false false false IN X-NONE AR-SA MicrosoftInternetEx plorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTabl e {mso-style-name: "Table Normal"; mso-tstyle-rowband- size:0; mso-tstyle-colband- size:0; mso-style-noshow: yes; mso-style-priority: 99; mso-style-qformat: yes; mso-style-parent: ""; mso-padding- alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin- top:0cm; mso-para-margin- right:0cm; mso-para-margin- bottom:10. 0pt; mso-para-margin- left:0cm; line-height: 115%; mso-pagination: widow-orphan; font-size:11. 0pt; font-family: "Calibri" ,"sans-serif" ; mso-ascii-font- family:Calibri; mso-ascii-theme- font:minor- latin; mso-fareast- font-family: "Times New Roman"; mso-fareast- theme-font: minor-fareast; mso-hansi-font- family:Calibri; mso-hansi-theme- font:minor- latin;} Resolusi 1860 Bukti Nyata Pengecutnya Para Penguasa Negeri Islam بسم الله الرحمن الرحيم RESOLUSI 1860 BUKTI NYATA PENGECUTNYA PARA PENGUASA NEGERI ISLAM; Mereka Tidak Hanya Menghinakan Gaza dengan Tentara Mereka, Justru Gaza Mereka Serahkan kepada Yahudi melalui Resolusi PBB Pagi hari ini, Resolusi DK PBB No. 1860 tentang serangan biadab terhadap Jalur Gaza telah dikeluarkan. Dalam redaksinya telah digunakan substil politik yang busuk, yang sebelumnya telah digunakan dalam Resolusi PBB No. 242, setelah serangan tahun 1967 M. Pada saat itu dinyatakan, “Harus menarik diri dari tanah…” padahal seharusnya, “Menarik diri dari seluruh tanah.” Tujuannya agar tetap menyisakan ruang untuk negara Yahudi menduduki wilayah yang dikehendakinya! Begitulah Resolusi ini, yang tidak secara tegas menyatakan, “Harus menarik diri dari Gaza…” sebaliknya hanya menyatakan, “Harus menghentikan pertempuran (gencatan senjata)” yang berujung pada penarikan diri. Tetapi kapan dan bagaimana itu bisa terjadi? Lalu, bagaimana dengan Resolusi yang sengaja masih diliputi kekaburan untuk menghentikan serangan Yahudi, di mana Yahudi tetap tidak akan menghentikan serangan, meski sudah ada sejumlah resolusi yang jauh lebih keras dan tegas?! Sekalipun sejumlah Resolusi DK PBB tidak pernah bisa menyelesaikan masalah, bahkan sudah sangat banyak resolusi-resolusi seperti ini yang tidak dilaksanakan oleh negara Yahudi… Namun, AS dan sekutunya tetap saja menolak dikeluarkannya resolusi apapun dari DK PBB. Semuanya itu agar bisa memberikan kemudahan yang cukup bagi negara Yahudi untuk menumpahkan darah dalam serangan biadabnya terhadap Gaza, hingga negara Yahudi itu bisa mewujudkan tujuannya. Karena mengikuti dan membebek kepada AS, para penguasa negeri Muslim itu pun benar-benar patuh pada kemauan AS, dengan senang atau terpaksa, sehingga mereka pun tidak kompak, berselisih satu sama lain, dan tidak ada kata sepakat.. Namun, setelah negara Yahudi menyaksikan perlawanan dahsyat yang harus dihadapi, dan tampak bahwa dengan operasi militernya itu negara Yahudi tidak mampu mewujudkan apa yang ditargetkan, sehingga boleh jadi masalahnya berlarut-larut, sementara pemilihan umum mereka sudah di depan mata, dan mereka pun membutuhkan kondisi “kemenangan”, baik melalui peperangan maupun perdamaian, agar pemilihan umum tersebut bisa berlangsung di sela-sela itu, saat itulah AS aktif sekali mewujudkannya untuk mereka melalui DK PBB, sehingga Condolezza Rice menjadi magnet yang luar biasa dalam bebagai pertemuan dan meeting. Dia pun menggerakkan para penguasa yang menjadi kepanjangan tangannya, sehingga mereka bergegas pergi untuk menemui DK PBB; siang malam mereka bekerja keras dengan penuh semangat.. Mereka itulah yang sebelumnya memandang perlunya membantu Gaza dengan tentara-tentara mereka dengan pandangan bak orang pingsan dari kematian. Padahal andai saja saat itu ada satu atau setengah front pertempuran di sana yang dibuka oleh para penguasa itu, pasti entitas Yahudi itu akan rontok, atau bahkan lenyap tak berbekas.. Melalui resolusi ini, sebenarnya para penguasa (goodfather) itulah yang mewujudkan kepentingan Yahudi yang justru tidak bisa diwujudkan melalui serangan biadab mereka. Resolusi itu akan tetap melanggengkan tentara Israel di Gaza, dan memastikan blokade terhadap Jalur Gaza tetap berlangsung dari sejumlah faktor yang bisa menguatkan dan mempersenjatai mereka. Jangan tertipu dengan penjelasan yang dibungkus dengan indah, tentang dibukanya blokade makanan dari mereka. Untuk mensosialisasikan resolusi ini, AS sengaja abstain, agar tampak bahwa AS seolah-olah tidak berada di belakang resolusi tersebut, sehingga para penguasa itu pun bisa menunjukkan kemenangan gemilang yang jauh dari pengaruh AS. Mereka sesungguhnya bohong. Setiap orang yang berakal dan mempunyai kesadaran politik pasti tahu, bahwa andai saja AS tidak berada di belakangnya, pasti AS sudah memveto resolusi tersebut. Wahai seluruh kaum Muslim: Sungguh tepat sekali apa yang disabdakan oleh manusia jujur dan terpercaya, Nabi saw.: «إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ» “Jika Anda sudah tidak mempunyai rasa malu, maka lakukanlah apa saja.” (H.r. Bukhari, Ibn Majah dan Ahmad) Para penguasa itu melihat Gaza memang harus diluluhlantakkan, di mana darah-darah orang tak bersalah berhak ditumpahkan. Mereka pun tidak menggerakkan tentaranya untuk membantu Gaza. Tidak juga melepaskan satu roket pun dari peluncurnya, bahkan lebih dari itu, justru mereka menghalang-halangi relawan untuk membantu Gaza… Ironisnya, mereka justru bergegas dan berlomba-lomba untuk mengeluarkan sebuah resolusi yang menghalangi Gaza dari akses senjata dan faktor-faktor yang bisa menopang kekuatannya. . Semoga mereka dilaknat oleh Allah; bagaimana mereka sampai bisa berpaling seperti itu? Siapa pun yang melihat entitas Yahudi, perampas Palestina, dan dia tinggal berdekatan dengan para penguasa itu, pasti tahu persis keberlangsungan eksistensi Yahudi ini benar-benar digadaikan pada keberlangsungan para penguasa itu. Merekalah yang melindunginya, jauh lebih baik daripada melindungi diri mereka sendiri. Bahkan AS dan negara-negara Barat yang lain, yang mendukung entitas ini, tidak akan mempunyai pengaruh apapun, kalau seandainya ada satu saja dari para penguasa itu orang yang waras.. Wahai kaum Muslimin: Kami telah mengingatkan berkali-kali. Kami ulangi lagi dan kami tambahkan, bahwa siapa saja yang ingin menghancurkan entitas Yahudi dan mengembalikan Palestina secara utuh ke pangkuan negeri Islam, maka dia harus berjuang untuk mewujudkan seorang penguasa yang ikhlas, negara yang benar, yaitu Khilafah Rasyidah. Sebab, seorang imam (pemimpin) itu bagaikan perisai, di mana orang berperang di belakangnya, dan kepadanya mereka berlindung, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw. Pada saat itulah, negara Yahudi itu tidak akan pernah lagi ada, bahkan negara-negara Kafir penjajah yang jauh lebih kuat dan digdaya ketimbang entitas Yahudi pun akan dihinadinakan. Allah berfirman: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Q.s. Qaf [50]: 37) 13 Muharram 1430 H 9 Januari 2009 M Hizbut Tahrir ------------ --------- --------- --- Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! [Non-text portions of this message have been removed] ___________________________________________________________________________ Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ [Non-text portions of this message have been removed]

