Dari Moderator: Yahudi memang sudah menguasai ekonomi Indonesia. Krisis Moneter tahun 1998 di mana spekulan Yahudi yang didukung IMF, George Soros menghancurkan nilai rupiah dari Rp 2.400 / 1 US$ jadi Rp 16.700 / 1 US$ menunjukkan itu.
Jika Soros kemudian berteman dan mengunjungi Wapres Boediono, itu satu tanda bahwa Yahudi beteul2 menguasai ekonomi di sini. Saya yang sama-sama orang Indonesia saja sulit menemui Wapres Boediono, mungkin anda juga.... Silahkan baca ini: http://syiarislam.wordpress.com/2010/02/10/yahudi-kuasai-ekonomi-indonesia Wassalam Pertemuan Soros-Boediono semakin mengukuhkan paham neo-liberalisme yang dijalankan pemerintah. Kemungkinan dalam pertemuan akan ada saran bidang ekonomi, keuangan dan investasi berdasarkan cara pandang mereka dan kemungkinan besar pula para pejabat pemerintah kita akan menerima saran-saran, sebagaimana peribahasa (maaf) "bagaikan kerbau dicucuk hidungnya". Soros datang didampingi Direktur International Operation Open Society Institute Geogre Vickeris, Indonesia Program Directur Open Society Institute Zohra Dawood, dan Yuli Ismartono dmari Yayasan TIFA. Dalam yayasan TIFA ini dapat kita lihat berkecimpung kaum liberal seperti Gunawan Muhammad (Pendiri) dan Luthfi Assyaukanie (anggota direktur). sumber: http://www.tifafoundation.org Pertemuan berlangsung tertutup. Belum diketahui agenda yang dibahas. Soros merupakan keturunan Yahudi yang kini menjadi warga Amerika Serikat (AS). Ia juga dikenal sebagai seorang kapitalis radikal. Menurut informasi, pertemuan Soros-Boediono membahas sejumlah agenda penting terkait dengan kerjasama dua belah pihak. Sebelumnya, mantan presiden PKS, Tifatul Sembiring yang sekarang berkuasa dalam pemerintahan sebagai menteri komunikasi dan informasi, mengutarakan ketidak berdayaannya menolak kemungkinan hadirnya Amdocs perusahaan yang dimiliki kaum Yahudi Isral dalam bisnis Telkomsel. Dikatakan oleh Tifatul, Kami sudah meminta klarifikasi dari Telkomsel dan Kedutaan Besar Amerika, ternyata Amdocs terdaftar di New York Stock Exchange dan berkantor di Missiouri. Indonesia memang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Karena itu, Indonesia tidak memiliki hubungan dagang dengan Israel dan tidak ada kantor perdagangan Israel di Indonesia. Tapi, kalau berdomisili di Amerika Serikat, meski sahamnya dimiliki orang Israel, sulit ditolak kehadirannya di sini ? Suatu alasan ketidakberdayaan penolakan yang mencedarai hati nurani rakyat muslim Indonesia dimana saudara-saudara muslim kita di Palestina banyak terbunuh oleh Yahudi Israel. Sedangkan di beberapa negara, kehadiran Amdocs dapat diboikot lantaran dianggap sebagai kaki tangan Pemerintah Israel. Boikot atau penolakan pada umumnya hanya berdasarkan perusahaan itu sebagai penyokong kebijakan pertahanan Israel, yang membunuh 1.400 orang Palestina dalam invasinya ke Gaza. Kedua kejadian tersebut memperlihatkan bagaimana perlakuan pejabat tinggi negara di negeri yang mayoritas muslim terhadap kaum Yahudi / Israel. Alih-alih negeri kita memberikan "bantuan" pada rakyat Palestina, tampaknya rasa "empati" pun tak tampak dari perlakuan pejabat-pejabat tsb. Allah telah mengingatkan dalam firmanNya, "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82). Kedua kejadian tersebut mengingatkan kembali perlakuan Abdurrahman Wahid (AW) terhadap kaum Yahudi / Zionis. Ketika Abdurrahman Wahid menjabat sebagai presiden RI. Beliau mengeluarkan Keputusan Presiden RI Nomor 69 Tahun 2000, Tentang pencabutan Keputusan Presiden RI No. 264 Tahun 1962, tentang larangan adanya organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha'i (Tentang Baha'i silahkan kunjungi http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/02/10/bahaiyah/ ) Keppres ini pun tampaknya tidak disadari oleh kebanyakan kaum muslim di negeri ini. Pelarangan terhadap organisasi-organisasi bentukan atau pendukung kaum Yahudi / Zionisme ditambah organisasi Baha'i (organisasi yang berusaha menyatukan semua agama) dikeluarkan oleh Presiden RI pertama, Sukarno pada tahun 1962. Menurut kabar, sesungguhnya "kejatuhan" Sukarno, salah satunya ditenggarai karena terbitnya Keppres No. 264 tahun 1962, yang "mengusik" kaum Yahudi dan menggerakkan "konspirasi". Kenyataannya beberapa tahun kemudian Sukarno pun terjungkal. Wallahu a'lam Zon

