um'at, 06 Juni 2008
Ekonomi dan Bisnis Harga Minyak Indonesia US$ 150, APBN Masih Aman

Produksi gas dan batu bara diusulkan masuk asumsi makroekonomi.

*JAKARTA *-- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008 masih aman kendati harga minyak
Indonesia (ICP) dari Juni sampai Desember naik hingga rata-rata US$ 150 per
barel. "APBN Perubahan 2008 masih bisa berkelanjutan," katanya dalam rapat
kerja Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat, pemerintah, dan
Bank Indonesia di Jakarta kemarin.

Defisit anggaran, kata dia, juga bisa dipertahankan di bawah target APBN
2008 sebesar 2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB). Volume konsumsi
BBM akan meningkat menjadi 38,93 juta kiloliter dari semula 35 juta
kiloliter. Pada kondisi harga itu, jumlah subsidi BBM diperkirakan mencapai
Rp 198,73 triliun. "Ini skenario terburuk yang sudah dihitung pemerintah,"
kata Sri.

Menurut dia, pemerintah akan mengambil langkah kebijakan fiskal dan
nonfiskal untuk mengurangi beban subsidi BBM tersebut, di antaranya
pembatasan pembelian Premium (bensin bersubsidi), minyak tanah, dan solar
bersubsidi, juga percepatan konversi minyak tanah ke gas dan pengenaan pajak
kendaraan bermotor yang lebih tinggi (pajak progresif) bagi pemilik
kendaraan bermotor lebih dari satu unit.

Berdasarkan pemantauan perkembangan harga minyak, harga rata-rata ICP
periode Januari-Mei masih sekitar US$ 104,8 per barel. Jika Juni-Desember
harga minyak bertahan rata-rata US$ 120 per barel, menurut dia, sepanjang
2008 rata-rata ICP mencapai sedikit di atas US$ 110 per barel. Seandainya
rata-rata ICP di atas US$ 110 per barel, APBN Perubahan 2008 masih bisa
dikelola dengan baik dan defisit masih dapat dikendalikan pada tingkat 1,8
persen.

Begitu pula jika harga minyak Juni-Desember mencapai level US$ 135 per
barel, dia melanjutkan, harga ICP sepanjang 2008 akan berada pada level
sekitar US$ 122 per barel. "Skenario ini bisa diantisipasi. Yang paling
sulit diprediksi justru volume konsumsi BBM," kata Sri. Kemarin, harga
minyak dunia diperdagangkan pada level US$ 121,74 per barel.

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta mengakui
kenaikan volume BBM selalu menghantui pemerintah dalam menyusun anggaran.
"APBN tidak akan bisa bertahan jika subsidi terus membengkak," katanya.

Dia mengajak anggota Dewan memformulasikan cara mengurangi beban subsidi
secara bertahap, yang tidak menimbulkan guncangan sosial yang besar.
Pemerintah tidak bisa menjamin harga BBM tak akan dinaikkan lagi. "Harga BBM
dalam negeri memang harus dinaikkan secara bertahap," kata Paskah.

Di tempat terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo
Yusgiantoro mengusulkan produksi gas dan batu bara dimasukkan pada asumsi
makroekonomi dalam APBN. Usul Purnomo itu untuk mengantisipasi lonjakan
harga minyak dunia yang mendekati US$ 140 per barel. Selama ini hanya
produksi minyak yang diperhitungkan dalam asumsi makro APBN tersebut. "Ada
perubahan paradigma untuk memasukkan gas dan batu bara di tengah situasi
produksi minyak yang terus menyusut," katanya dalam rapat dengar pendapat
dengan Komisi Energi DPR, Rabu malam lalu. *Gunanto ES | Yuliawati*

**

*Sumber : Tempo*


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke