Masih tetap diambil dari suatu sumber..... Sekarang Lebih Berani Sakit gigi membuat Joko sangat tersiksa. Tapi ia sangat takut dengan jarum suntik dan peralatan dokter gigi. Karena sudah sangat tak tahan, akhirnya Joko nekad pergi juga. Dokter menjelaskan bahwa gigi gerahamnya harus dicabut. Ketika akan disuntik, Joko berkata,"Dok tolong jangan disuntik, saya takut dok!" Tahu Joko takut, dokter menawarkan segelas bir untuk diminumnya agar rasa takutnya bisa berkurang. Lalu si dokter berkata,"Bagaimana, anda sudah lebih berani sekarang?" Joko menjawab,"Benar. Sekarang saya merasa lebih berani. Siapapun yang menyentuh gigi saya akan tahu akibatnya!!!" ????!!!!!?? Marah Dengan Pak Polisi Sedang enak-enak naik motor Roni diberhentikan oleh polisi. "Mana SIM saudara ?" tanya polisi. "Ini Pak," kata Roni sambil menunjukkan sebuah kartu. "Ini bukan SIM, ini KTP!" bentak sang polisi lagi. "Oh, kartu itu tidak bisa jadi SIM ya pak, ini ada SIM punya teman saya," jawab Roni. "Mengapa kamu naik sepeda motor memakai SIM orang lain? kamu telah melanggar, kamu akan ditilang!!" hardik polisi dengan mata melotot. "Lho, Pak Polisi kok marah!!?? Saya dipinjami SIM ini secara sah sama kawan saya. Yang punya SIM saja tidak marah, masa Bapak marah!" jawab si Roni melotot juga. Melihat Rumah Dijual Pak Sadrah lagi jalan-jalan sama dua anaknya, Sarah (4 tahun) dan Hana (5 tahun). Waktu perjalanan pulang ke rumah, mereka melewati sebuah rumah yang ada tulisannya "DIJUAL". Pak Sadrah kelihatannya tertarik dan berhentiin mobilnya di depan rumah itu. Waktu lihat papanya sedang ngangguk-ngangguk sambil ngelihat rumah itu, Sarah langsung komentar, "Papa ngapain sih?" Pak Sadrah bilang dia sedang melihat rumah itu karena bagus banget. Lalu Sarah tanya lagi, "Emangnya Papa mau beli rumah baru ya?" "Mungkin," jawab Pak Sadrah. Dengan kening berkerut Sarah bertanya, "Tapi Pa, gimana cara membawanya pulang?" Semprotan Nyamuk Nani masuk ke sebuah toko hendak membeli semprotan nyamuk. Saat membayar dia bertanya kepada kasir, "Ini bagus untuk nyamuk?" Sang kasir yang baru satu minggu bekerja mengamati sejenak dan berkata, "Wah semprotan ini gak bagus buat nyamuk, Nyonya. Soalnya mereka bisa mati nanti." ^...@!!* Terlambat Memberi Pertolongan Seorang insinyur muda yang baru lulusdari fakultasnya ikut TKS Butsi di pedalaman Kalimantan unutk membuka hutan yang akan di jadikan pemukiman bagi para transmigran. Pada saat dia sedang menghitung luas lahan dengan kalkulatornya, seorang pekerja kasar nggak lulus SD tergopoh-gopoh menghampirinya. "Pak Insinyur, si Kamal ketiban pohon besar!" lapornya. "Sebesar apa pohonya? Tingginya berapa? Diameter berapa? Jatuh dari ketinggian berapa? Posisinya bagaimana? Posisinya si Kamal dan dia sedang apa? Apakah dibawahnya ada pohon lain atau padang rumput? Ada air tidak disana?" tanya insinyur itu. "Bapak lihat sajalah sendiri. Atau kami tolong segera?" "Jangan bertindak apapun tanpa komando saya!" kata Sang Insinyur sambil bergegas menuju tempat kejadian. Ia segera memerintahkan mengukur panjang pohon yang menimpa Kamal, diameter kayunya, ketinggian tanahnya, kecepatan angin pada waktu itu, dan menyelidiki keadaan tanah di sekitarnya, apa penyebab kecelakaan tersebut, dan yang terakhir, dia segera membentuk Panitia Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Si Kamal (Panitia P3KSK) dengan tema: "Dengan kecelakaan si Kamal kita tingkatkan persatuan dan kesatuan bangsa." Maka Kamal pun mati sebelum Sang Insinyur berhasil mengukur diameter kayu yang menimpa Kamal. Seperti Bayi yang Baru Lahir Dua orang kakek-kakek yang sudah pensiun sedang duduk di sebuah bangku di bawah pohon sambil ngobrol. Salah seorang kakek berkata kepada kakek yang satunya, "Bejo, sekarang aku berusia 73 tahun dan sekarang aku sering sakit-sakitan. Umurmu juga sama denganku, apakah kamu mengalami seperti yang aku rasakan?" "Wahhh ... kalau aku malah merasa seperti bayi yang baru lahir," jawab Kakek Bejo. "Benarkah!? Seperti bayi yang baru lahir!?" tanya kakek satunya tidak percaya. "Iya ..., botak, ompong ..., bahkan saat ini aku sedang ngompol! Melihat Hidup Berkeluarga "Bu, hari ini ada kenalan yang akan datang berkunjung ke rumah kita." kata sang suami kepada istrinya. "Kau sembarangan. Lihat saja rumah kita, berantakan seperti kapal pecah. Lantai belum disapu. Pakaian kotor menumpuk di kamar mandi. Masakanku hangus. Anak kita sedang diare. Aku juga belum mandi, masih dasteran begini. Tetapi kamu, malah enak-enakan mengundang kenalan kemari." "Jangan marah dulu, sayang. Lupakan semuanya itu. Kenalanku ini mau menikah. Aku sengaja mengundang mereka, supaya mereka melihat hidup berkeluarga yang sesungguhnya. Robby Nuzly, S.Si., Apt. Direktorat Pengawasan Produksi Produk Terapetik dan PKRT Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Jl. Percetakan Negara NO. 23 Jakarta E-mail:[email protected] [Non-text portions of this message have been removed]
