Selasa, 06 Mei 2008 00:00 WIB
Pemkab Sergai Mengaku Silap
Soal Buku Serdang Bedagai In Brief 2007

WASPADA Online
Seirampah

Penerbitan buku "Serdang Bedagai In Brief 2007" oleh Pemerintah
Kabupaten Serdang Bedagai melalui Bappeda menuai kontroversi. Dalam
buku itu tidak dicantumkan salah satu etnis yang merupakan etnis
terbesar di Sergai yakni Simalungun. Buku sebanyak 25 eks ditambah 13
eks untuk kecamatan dicetak pada tahun 2007 lalu.

Kepada Bappeda Sergai selaku pembuat buku mengakui adanya kesilapan
dan kelalian untuk itu pihaknya minta maaf. Drs Azwir Sinaga, MSi
Senin (5/5) di ruang kerjanya mengakui adanya kesilapan atas isi buku
yang diterbitkan itu. Karena Untuk itu Azwir secara sadar melakukan
pemintaan maaf kepada semua etnis Simalungun baik itu yang berada di
Sergai maupun di luar Sergai.

Hal itu di buktikan dengan dikeluarkannya surat pernyataan permintaan
maaf dengan nomor 050/805/TU/2008 yang ditujukan kepada seluruh
masyarakat Batak Simalungun yang ada di Kabupaten Sergai yang
ditandatangani oleh Kepala Bappeda Drs Azwir Sinaga, MSi selaku
penerbit buku "Serdang Bedagai In Brief 2007".

Dikatakan Azwir, pada pernyataan itu, saya atas nama Pemkab Serdang
Bedagai selaku penerbit buku melakukan permintaan maaf yang
sebesarbesarnya kepada etnis Simalungun baik dimanapun berada atas
kesilapan dan kesalahan saya tidak mencantumkan etnis Simalungun pada
buku itu. Kita mengakui memang ada kesalahan dan kita minta maaf atas
kesilapan itu kepada etnis Simalungun, tulis Azwir.

Untuk itu, kata Azwir, Bappeda Sergai segera mencabut buku dan
dinyatakan buku itu kini tidak berlaku. Pada penerbitan buku yang akan
di terbitkan nanti kita sudah melakukan revisi secapatnya dan untuk
terbitan yang akan datang kita telah memasukan etnis Simalungun di
buku `'Serdang Bedagai In Brief 2007, katanya.

Diminta Bersikap Tenang
Anggota DPD RI Perwakilan Sumut Parlindungan Purba SE.MM yang juga
Etnis Simalungun saat dikonfirmasi wartawan di sela-sela pemantauan UN
SMP hari pertama di SMPN 1 Perbaungan menyatakan, dirinya sudah
berbicara via telefon kepada Bupati Sergai HT.Erry Nuradi.

`'Pada hari ini bukan lagi berbicara via telefon,tetapi sudah langsung
bertemu dan Pemkab Serdang Bedagai telah menyatakan maafnya dalam
bentuk pernyataan juga secara lisan,'' katanya.

Selain itu yang kedua, kata Parlindungan, Pemkab Sergai akan menarik
buku tersebut dari peredaran. Dan hal ini adalah merupakan suatu upaya
untuk menciptakan suasana yang jernih sembari mengatakan bahwa
pihaknya melihat tidak ada unsur kesengajaan.

Pihaknya mengharapkan masyarakat Simalungun supaya bersikap tenang dan
juga membuka komunikasi kepada Bupati Serdang Bedagai. Walau
bagaimanapun etnis Simalungun hampir 30 persen di Serdang Bedagai.

Dia juga menegaskan, untuk menciptakan kesejukan hubungan yang
harmonis antar suku maka hal itu adalah merupakan modal dasar
pembangunan di Serdang Bedagai.

`'Saya meminta agar komunikasi yang baik antar Pemkab dengan Partuha
Maujana Simalungun yang ada di Sergai dan lembaga lembaga lainnya
dengan catatan harus diwujudkan dalam bentuk keikhlasan,'' kata
Parlindungan. (a07)

KOMENTAR:
Untunglah ada yang berusaha menghilangkan Simalungun (yang katanya
khilaf), sehingga dia bangkit menunjukkan dirinya ada. Kalau tidak
dihilangkan begitu, Simalungun betul-betul akan hilang.

Bagaimana dengan kantor-kantor camat di Pemko Medan yang semuanya
bergaya arsitektur Melayu? Ini yang lebih berbahaya sebenarnya,
orang-orang jadi percaya bahwa Medan adalah kota Melayu, padahal .... 



--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bupati Sergai Tidak Cukup Hanya Minta Maaf Tetapi Harus Mengundurkan
Diri
>    
>   Tebingtinggi (SIB)
> Masyarakat Simalungun di 9 Desa Silinda Serdang Bedagai (Sergai)
memprotes keras HT Erry Nuradi selaku Bupati Sergai dan sebaiknya
segera mengundurkan diri dari jabatannya karena telah menyakiti
perasaan masyarakat Simalungun dengan menghilangkan sejarah Simalungun
di buku gSedang Bedagi In Brief 2007h.
> Demikian dikatakan Ketua UPAS ( Usaha Penyelemat Asset Simalungun)
Sergai Maspriadi Girsang SH bersama Sekretaris Drs Sugeng Surya
Saragih kepada SIB, Minggu (4/5) di Kota Tebingtinggi. Ditegaskannya,
Bupati Sergai HT Erry Nuradi tidak cukup hanya meminta maaf terhadap
masyarakat Simalungun namun harus mengundurkan diri dari jabatannya
sebagai bupati.
> gSangat disayangkan, buku eSerdang Bedagi In Brief 2007h telah
melukai hati masyarakat Simalungun dengan meniadakan sejarah
Simalungun dan sepertinya tidak ada masyarakat Simalungun di bumi
Sergai. Ini sudah sangat keterlaluan, menghilangkan sejarah dan
etnis Simalungunh, tegas Maspriadi Girsang.
> Padahal lanjutnya, di Desa Silinda sejak zaman penjajahan sudah ada
yang namanya Kerajaan Nagori Simapang dan Kerajaan Pamah di bawah
pimpinan Raja Naluan Silangit pada tahun 1800-an. Tahun 1900 -1950
tanah di kerajaan tersebut dikontrakkan kepada Tuan Volender berbangsa
Swiss yang ditandatangani Sultan Sulaiman Alamsyah yang keturunannya
masih ada di Desa Silinda.
> Hal senada juga diungkapkan BM Saragih yang merupakan cucu pada
Kerajaan Pamah dan Benteng Saragih tokoh pemuda Simalungun di Sergai.
Mereka dengan nada tinggi mengatakan etnis Simalungun merupakan etnis
tertua di Sergai. gApa alasan Bupati Sergai menghilangkan etnis
Simalungun dalam buku gSerdang Bedagai In Brief 2007. Hal ini harus
diusut sampai tuntash, katanya.
> Pemkab Sergai melalui buku gSerdang Bedagai In Brief 2007h sudah
sengaja menciptakan suasana yang tidak harmonis sehingga etnis
Simalungun sedunia marah dan akan melakukan perlawanan. gBupati
Sergai HT Erry Nuradi tidak cukup hanya meminta maaf melalui media
namun harus minta maaf secara adat Simalungun dan kepada leluhur
Simalungunh, tandas Maspriadi Girsang SH.
> KNPSI Belum Mengetahui Permohonan Maaf Bupati Sergai
> Sementara itu, DPC Komite Nasional Pemuda Simalungun Indonesia
(KNPSI) Sergai, mengaku belum mengetahui permohonan maaf Pemkab Sergai
atas terbitnya buku eSerdang Bedagai In Brief 2007Œ yang dinilai
telah meremehkan Etnis Simalungun.
> gKapan, kepada siapa..? Sampai sekarang kami belum mendengar kalau
Pemkab Sergai telah menyatakan permohonan maafnyah, ungkap ketua DPC
KNPSI Sergai, Eric Sandhy Purba dengan nada bertanya didampingi
pengurus dan anggota KNSPI, kepada SIB, Minggu (4/5) di Sei Rampah.
> Permohonan maaf yang bagaimana pula . Pemkab harus membuat
permintaan maaf secara terbuka, sehingga seluruh masyarakat tau.
Menurutnya, tidaklah mudah mengobati hati masyarakat Simalungun yang
sudah tersayat-sayat karena diremehkan. gBukan segampang itu meminta
maaf atas peremehan etnis Simalungun ini, harus terbukalah donk,
katanya lagi.
> Soal buku yang dicetak jumlahnya sedikit, menurut dia, bukan alasan
untuk melemahkan perjuangan Etnis Simalungun untuk memperkarakan kasus
ini. Bukan soal sedikit atau banyak jumlah buku yang dicetak, yang tau
jumlahnya hanya Pemkab dan itu kan masalah kejujuran saja.
Persoalannya sekarang adalah, isi buku tersebut jelas-jelas telah
menyinggung perasaan, dan yang pasti, buku terbitan Pemkab Sergai
tersebut sudah menyebar kemana-mana. Buktinya, Etnis Simalungun yang
di Jakarta sudah ada yang melihatnya.
> Menurut Eric , KNPSI dan lembaga etnis Simalungun lainnya, sudah
memusyawarahkan persoalan ini agar ditindaklanjuti sampai ke meja
hukum. Dan sebagai ungkapan protes, ribuan massa Simalungun yang
tergabung dalam KNSPI dan wadah Simalungun lainnya, dalam waktu dekat,
akan unjuk rasa besar-besaran ke kantor Bupati Sergai. gDi Sergai,
etnis Simalungun bukanlah pendatang, tetapi penghuni yang sudah
bermukim sejak dulu-dulunya. Sejarah membuktikan !!h, tandasnya.
(S10/M-34/c)
>   --
>    
>   KOMENTAR
>    
>   Penduduk asli Sumtim adalah orang Karo, Simalungun dan Melayu
fdelangf atau Melayu Deli-Langkat yang berasal dari penduduk asli
Sumtim (Karo). Orang-orang Melayu yang datang dari luar Sumtim, dari
luar Sumatra atau apalagi dari luar negeri seperti Malaysia, mereka
ini bukanlah penduduk asli Sumtim tetapi pendatang. Usaha-usaha kaum
pendatang Melayu atau pendatang lainnya (Tapanuli/Mandailing) di
Sergai untuk menghilangkan Simalungun sebagai penduduk asli Sumtim
dari salah satu daerah Sumtim adalah sangat ceroboh dan hanya
menununjukkan buta sejarah, semangat kesombongan-pendatang atau nafsu
dominasi dan hegemoni  internal-colonialism warisan Orba. 
>    
>   Simalungun harus bangkit. Membiarkan nafsu dominasi kolonial kaum
pendatang ini adalah fatal bagi survival penduduk asli Sumtim (Karo,
Simalungun dan Melayu fdelangf).
>    
>   Teruskan Semangat Ethnic Revival/Cultural Revival!
>   Teruskan Revolusi Besar Kebudayaan Etnis-Etnis Dunia
>   MUG
>   --
> 
>        
> ---------------------------------
> Låna pengar utan säkerhet.
> Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.
>


Kirim email ke