bagus sekali tulisan ini Bang Joey...padat dan ringkas
trims krn mau menuliskannya dlm bhs indonesia shg lbh mudah saya mengerti...
sering2 menulis ttg karo...banyak gunanya soalnya...
bujur n mejuah2..
salam perjodohan:-)
siregar, erwin
--- Joey Bangun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Karo dan Gaya Hidup dalam catatan JOEY BANGUN
>
>
>
> copyright by
> www.joeybangun.com
>
>
>
>
> Perjodohan
> Ala Karo
>
> Bibi yang ngenalkan aku sama dia,! kata Agita (bukan nama sebenarnya)
> pada saya suatu hari. Agita melanjutkan, Sekarang semua keluarga kami ribut
> gara-gara kami ngga jadian!
>
> Saya bertemu dengan bebere Biring ini di sebuah acara Karo di Jakarta
> beberapa waktu lalu. Kebetulan saya didaulat menjadi pengisi acara di pesta
> itu. Tahu saya ada di acara itu, Agita yang memang teman lama saya lalu
> menghampiri saya. Kemana aja lo? Jarang kelihatan lo sekarang ya. Gue mau
> curhat nih. Lo paham adatkan? Kasi gue solusi dong! kata gadis manis berusia
> 28 tahun itu. Untung saja saat itu saya sudah selesai ngisi acara. Jadi
> sedikit
> lebih rileks. Kalau tidak, mungkin kosentrasi saya bisa pecah.
>
> Sebenarnya cowok itu saudara jauh kami. Bibi yang kenalkan dia sama aku.
> Bibi cowok itu juga yang ngenalkan aku sama dia. Kenapa sih di Karo ini orang
> ribut masalah jodoh. Berebut untuk menjodoh-jodohkan semua. Apa mereka pikir
> aku engga bisa dapat jodoh apa?! lanjut Agita menumpahkan kekesalannya. Saya
> hanya mangut-mangut mencoba menyelami curhat gadis ini dulu.
>
> Bibi ketemu bibi, lalu mereka saling menjodohkan anak atau permainnya.
> Perjodohan yang dilandaskan hubungan kekerabatan. Kalau bisa dekat-dekat
> kenapa cari yang jauh-jauh, kata bibi saya suatu hari mencoba menjodohkan
> saya
> dengan seorang Beru Karo. Saya hanya tertawa mendengarnya. Saya mencoba
> maklum
> berhubung usia saya memang sudah matang untuk menikah. Tiba-tiba saya
> teringat
> tulisan saya berjudul Bercinta Ala Don Juan yang dimuat di majalah
> Cosmopolitan Desember lalu. Di tulisan itu saya berikan tips-tips untuk
> menundukkan hati wanita. Masak saya menulis begituan, tiba-tiba saya
> dijodohkan. Para redaktur Cosmopolitan bisa terpingkal-pingkal mendengar
> berita
> ini.
>
> Hari gini main jodoh-jodohan bo? Kemane aje! kata teman saya seorang
> Fashion Stylist yang mengenalkan saya pada majalah lifestyle itu.
>
>
> Jodoh = Impal
>
> Dalam estetika masyarakat Karo pengertian seorang jodoh lazim disebut
> impal. Maksudnya, dari awal pihak laki-laki akan direkomendasikan untuk
> mengambil
> impalnya. Walau tidak tertulis, hal ini semacam peraturan adat yang tidak
> baku.
> Artinya, kalau bisa sih laki-laki ngambil impalnya. Kalau tidak bisa, ambil
> beru yang sama dengan nandenya alias singumban nande. Kalau tidak bisa juga,
> yang penting asal wanita Karo. Kalau memang tidak bisa lagi, apa boleh buat,
> siapa aja juga boleh asal bisa menikah daripada dijuluki si jomblo ting-ting.
>
> Di kemasyarakatan Karo, tanggung jawab pihak orang tua begitu besar pada
> anaknya. Dengan sabar mereka akan membesarkan anaknya, mendidik dengan
> pendidikan non formal di rumah. Lalu melanjutkan pendidikan formal di
> sekolah.
> Setelah tamat sekolah menengah atas. Orang tua Karo pasti akan meminta
> anaknya
> untuk melanjutkan kuliah. Bahkan beberapa teman kuliah saya dulu yang berasal
> dari kampung Karo, orang tua mereka rela menjual ladangnya asal anaknya bisa
> kuliah. Yang pasti pendidikan si anak menjadi prioritas bagi mereka. Dengan
> kata lain pendidikan anak menjadi tolak ukur kemampuan si orang tua sekaligus
> mengangkat
> citra status sosial keluarga.
>
> Setelah kuliah selesai, yang menjadi tanggung jawab orang tua berikutnya
> yaitu jodoh anaknya. Semua orang tua Karo berharap anaknya bisa menikah.
> Dalam
> kultur Karo tanggung jawab orang tua pada anaknya belum selesai jika anaknya
> belum menikah. Itulah sebabnya pernikahan menjadi hal yang penting dan
> mutlak.
> Bahkan lebih baik anaknya cepat menikah daripada cepat dapat kerja. Toh
> kerjaan
> bisa saja diwariskan dari harta milik orang tua.
>
> Orang tua akan telihat gusar ketika anaknya belum menikah juga. Mereka
> segera merekomendasikan si anak untuk menikahi impalnya. Jika si anak tidak
> mau, mereka mencari lain. Misalnya mencoba bantuan keluarga dari pihak nande
> atau bapa untuk mencarikan jodoh buat anaknya. Disinilah kemudian bibi-bibi
> berlomba memberikan referensi bahwa si anu atau si ini yang cocok buat anak
> itu.
>
> Orang tua akan mendorong anak itu untuk menjalin hubungan dengan calon
> referensi dari pihak keluarga. Kadang ada anak yang mau, tapi banyak juga
> memberontak. Jangan seperti teman saya, orang tuanya malu karena anaknya
> akhirnya dijuluki PANGLATU alias Panglima Lajang Tua.
>
>
> Status Sosial Perlu
>
> Ise gelarndu? Ise simupus kam? Ja kutandu? Kai dahindu? Tamatan ja kam?
>
> Serentetan pertanyaan itu menjadi pertanyaan mutlak yang ditanyakan orang
> tua Karo ketika seorang laki-laki bertandang ke rumahnya. Apalagi laki-laki
> itu
> bertandang karena anak gadisnya.
>
> Pernah saya bertandang ke rumah seorang gadis yang saya cintai. Serentetan
> pertanyaan itu menghujam saya. Saya mencoba menjawab apa adanya. Saya melihat
> ekspresi calon mama itu berubah pada saya. Yang tadinya ramah akhirnya dia
> menghindar pergi ke kamar. Mulai saat itu saya berpikir harus mencari calon
> mama dan mami yang mempunyai apresiasi yang baik pada kesenian.
>
> Tidak hanya orang Karo, semua orang tua di muka bumi ini berharap anaknya
> bahagia. Hidup berbahagia dengan pasangannya. Itulah sebabnya mereka berharap
> anaknya mendapat pasangan terbaik. Tidak hanya terbaik bagi anaknya tapi juga
> terbaik bagi mereka, paling tidak menurut mereka.
>
> Dalam budaya Karo, perkawinan seorang lelaki dan seorang perempuan tidak
> hanya perkawinan dalam bentuk perjodohan atau ikatan suami istri. Perkawinan
> disini juga disebut perkawinan dua keluarga. Baik keluarga besar pihak
> laki-laki maupun pihak keluarga perempuan. Itu makanya antara kedua pihak
> keluarga harus mengetahui dulu secara dalam calon besannya. Kalau memang
> tidak
> cocok mereka secara tegas katakan tidak. Jarang sekali di kemasyarakatan Karo
> terjadi seperti lakon Romeo dan Juliet, kedua keluarga bermusuhan, anak
> mereka
> malah saling mencintai.
>
> Itulah makanya status sosial dan berbagai persyaratan ini membuat pihak
> laki-laki terkadang menjadi minder saat melihat status sosial pihak perempuan
> ternyata lebih tinggi. Status sosial bisa menyangkut keluarga, maupun
> pendidikan
> perempuan itu. Dari pihak perempuan malah akan senang jika lelaki yang datang
> memang seorang mandiri dan bisa mempertanggungjawabkan anak gadis mereka
> kelak.
>
> Itulah sebabnya peran keluarga menjadi hal penting dalam mencari jodoh
> anaknya. Misalnya peran bibi-bibi itu tadi. Mereka akan melihat mana
> laki-laki
> atau perempuan yang cocok buat permain atau anak mereka. Kalau memang sudah
> cocok, mereka akan segera merekomendasikan. Mereka tidak akan
> merekomendasikan
> yang tidak cocok dengan permain atau anak mereka dari segi keluarga maupun
> status sosial.
>
> Bibi-bibi ini secara langsung sudah jadi mak comblang keluarga. Istilah
> lainnya mak comblang yang memberikan garansi keluarga. Itulah sebabnya jika
> bibi si anu dan si ani sudah saling cocok menjodohkan dan akhirnya tidak
> jadi,
> biasanya antara pihak keluarga yang sudah suka menjadi menjauh atau tidak
> enakan lagi. Seperti yang dialami Agita teman saya itu.
>
>
> Tips-Tips Perjodohan Karo
>
> 1. Berani katakan tidak
> Kalau tidak cocok, katakan tidak! Jangan karena keinginan keluarga, hidup
> kita jadi tidak bahagia. Wajar jika keluarga merekomendasikan yang cocok
> dengan
> mereka. Wajar pula jika menolak jika seseorang tidak cocok dengan kita.
> Jangan
> pernah takut untuk yang satu ini. Ingat, menikah hanya sekali seumur hidup.
> So
> looking for the best!
>
> 2. Jangan khawatir gagalnya perjodohan
> Jika keluarga akhirnya akhirnya tidak enakan dengan keluarga yang
> dijodohkan, jangan khawatir. Itu adalah bentuk resiko. Resiko selalu ada
> kapan
> saja dan dimana saja. Haruskah setiap orang yang dijodohkan pada kita akan
> menjadi pendamping kita? Kalau memang gitu, betapa mengerikannya perjodohan
> itu.
>
> 3. Patuh pada orang tua adalah syarat mutlak
> Bagaimana mungkin kita bahagia dengan pasangan yang kita cintai kalau kita
> tidak bisa menyenangkan orang tua kita karena kehadirannya. Orang tua sudah
> membesarkan kita hingga sekarang. Ini bukan karena tugas tanggung jawab
> mereka,
> tapi karena rasa sayang mereka pada kita anaknya. Bukankah kita harus
> membalas
> rasa sayang mereka. Jika ada pasangan yang kita cintai akan mengalami
> permasalahan dengan orang tua kita saat kita perkenalkan. Berikan orang tua
> pelan-pelan pengertian mengapa kita harus memilih pasangan kita itu. Coba
> pahami keinginan orang tua kita dari pasangan kita itu. Dari situ pasti bisa
> diambil benang merahnya.
>
> 4. Atasi halangan
> Survei membuktikan banyak lelaki Karo ketika mendekati wanita lebih banyak
> memakai prinsip menghindari halangan daripada mengatasi halangan dalam
> mencapai
> keinginannya. Hal ini justru membuat rasa rendah diri di kemudian hari.
> Percaya
> diri saja. Atasi semua halangan yang mencoba kita untuk bersatu dengan
> kekasih
> kita itu. Dengan begitu kita akan lebih mencintainya. Bukankah semua lelaki
> diciptakan bersifat ksatria.
>
> 5. Jangan milih-milih
> Umur semakin uzur tapi masih saja milih. Si ini kurang itulah, si itu
> kurang inilah. Ada-ada saja. Manusia tidak ada sempurna. Pasti ada kekurangan
> dari calon pasangan kita. Untuk itulah kita hadir untuk mencukupkan
> kekurangannya dari kelebihan kita.
> Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan saya tentang umur dan perjodohan.
> Katanya gini : Umur 20-25 tahun = siapa elo? Umur 25-30 tahun = siapa gue?
> Umur
> 30 ke atas = siapa saja?!
>
>
> Tulisan ini adalah bentuk tafsiran saya dari bentuk perjodohan pada
> masyarakat
> Karo berdasarkan pengalaman dan curhat orang lain pada saya. Jika ada yang
> tersinggung, tersudut, atau pernah mengalaminya, saya minta maaf
> sebesar-besarnya. Sentabi!
>
>
>
> Tulisan lain bisa disimak di : www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun
>
>
>
__________________________________________________________________
Tired of visiting multiple sites for showtimes?
Yahoo! Movies is all you need
http://sg.movies.yahoo.com