Thanks Bang Joe Bangun...

Bagus sekali tulisan kam, memang masalah perjodohan tidak hanya menjadi
dominasi orang karo saja, karena perjdohan ada di mana mana, hanya saja
perjodohan akan menjadi masalah apabila adanya "keterpaksaan" apabila
dilandasi oleh sama sama senang setelah di kenalkan akan menjadi sangat
baik, karena biasanya orang yang mengenalkan pasti sedikit bertanggung
jawab atas yang dikenalkan dan akan sedikit banyak tau latar belakang yang
dikenalkan, apabila tidak baik yang mengenalkan tidak akan berani
merekomendasikan.

Menurut saya memperkenalkan atau menjodohkan buat kita masyarakat karo
sangat lah penting dan berguna, apalagi buat kita tinggal di Kota besar
seperti Jakarta, waktu dihabiskan di kantor berangkat pagi pulang malam,
sehingga waktu untuk ketemu orang karo sangat lah jarang, sehingga di
sinilah waktunya kita butuhkan Bibi Bibi tadi, karena banyak saya temukan
diteman-teman baik orang karo, toba, jawa dan suku lainnya, menemukan jodoh
yang tepat setelah di Jodohkan.

Pengalaman pribadi nih....  sudah dua teman saya  jodohkan dan mereka
menikah dan bahagia.

Mejuah Juah


Iwan Tarigan
Jakarta




On 5/22/08, Erwin Siregar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   saya kira bukan karena supaya gak lari ke suku lain...
> pasti ada alasan lain...
> mis seorg brad pit jalan2 ke kabanjahe krn dia niat menikah dengan boru
> sinulingga (misalnya)...pasti impalnya si ceweq itu setuju n mendukung
> saja...soalnya brad pit sih:-)coba kalao mike tyson mungkin si impal or
> keluarga pasti menolak...he..he
>
> salam dari pencinta boru karo:-)
> --- irna karina <[EMAIL PROTECTED] <irna_karina%40yahoo.com>> wrote:
>
> > hahaha.. aku pernah mengalaminya
> > tapi untung-nya orangtuaku cukup demokratis menyerahkan semuanya ke
> > anak2nya
> > tp aku pernah dengar dari bibi2-ku mereka sengaja menjodohkan supaya
> > anak-anaknya ga lari ke suku yang lain.
> > hmm...
> >
> > Joey Bangun <[EMAIL PROTECTED] <joeybangun%40yahoo.com>> wrote:
> > Karo dan Gaya Hidup dalam catatan JOEY BANGUN
> >
> >
> >
> >
> >
> > copyright by
> > www.joeybangun.com
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Perjodohan Ala Karo
> >
> > "Bibi yang ngenalkan aku sama dia,!" kata Agita (bukan nama sebenarnya)
> > pada saya suatu hari. Agita melanjutkan, "Sekarang semua keluarga kami
> ribut
> > gara-gara kami ngga jadian!"
> >
> > Saya bertemu dengan bebere Biring ini di sebuah acara Karo di Jakarta
> > beberapa waktu lalu. Kebetulan saya didaulat menjadi pengisi acara di
> pesta
> > itu. Tahu saya ada di acara itu, Agita yang memang teman lama saya lalu
> > menghampiri saya. "Kemana aja lo? Jarang kelihatan lo sekarang ya. Gue
> mau
> > curhat nih. Lo paham adatkan? Kasi gue solusi dong!" kata gadis manis
> berusia
> > 28 tahun itu. Untung saja saat itu saya sudah selesai ngisi acara. Jadi
> > sedikit lebih rileks. Kalau tidak, mungkin kosentrasi saya bisa pecah.
> >
> > "Sebenarnya cowok itu saudara jauh kami. Bibi yang kenalkan dia sama aku.
> > Bibi cowok itu juga yang ngenalkan aku sama dia. Kenapa sih di Karo ini
> orang
> > ribut masalah jodoh. Berebut untuk menjodoh-jodohkan semua. Apa mereka
> pikir
> > aku engga bisa dapat jodoh apa?!" lanjut Agita menumpahkan kekesalannya.
> Saya
> > hanya mangut-mangut mencoba menyelami curhat gadis ini dulu.
> >
> > Bibi ketemu bibi, lalu mereka saling menjodohkan anak atau permainnya.
> > Perjodohan yang dilandaskan hubungan kekerabatan. "Kalau bisa dekat-dekat
> > kenapa cari yang jauh-jauh," kata bibi saya suatu hari mencoba
> menjodohkan
> > saya dengan seorang Beru Karo. Saya hanya tertawa mendengarnya. Saya
> mencoba
> > maklum berhubung usia saya memang sudah matang untuk menikah. Tiba-tiba
> saya
> > teringat tulisan saya berjudul "Bercinta Ala Don Juan" yang dimuat di
> majalah
> > Cosmopolitan Desember lalu. Di tulisan itu saya berikan tips-tips untuk
> > menundukkan hati wanita. Masak saya menulis begituan, tiba-tiba saya
> > dijodohkan. Para redaktur Cosmopolitan bisa terpingkal-pingkal mendengar
> > berita ini.
> >
> > "Hari gini main jodoh-jodohan bo? Kemane aje!" kata teman saya seorang
> > Fashion Stylist yang mengenalkan saya pada majalah lifestyle itu.
> >
> >
> > Jodoh = Impal
> >
> > Dalam estetika masyarakat Karo pengertian seorang jodoh lazim disebut
> > impal. Maksudnya, dari awal pihak laki-laki akan direkomendasikan untuk
> > mengambil impalnya. Walau tidak tertulis, hal ini semacam peraturan adat
> yang
> > tidak baku. Artinya, kalau bisa sih laki-laki ngambil impalnya. Kalau
> tidak
> > bisa, ambil beru yang sama dengan nandenya alias singumban nande. Kalau
> tidak
> > bisa juga, yang penting asal wanita Karo. Kalau memang tidak bisa lagi,
> apa
> > boleh buat, siapa aja juga boleh asal bisa menikah daripada dijuluki si
> > jomblo ting-ting.
> >
> > Di kemasyarakatan Karo, tanggung jawab pihak orang tua begitu besar pada
> > anaknya. Dengan sabar mereka akan membesarkan anaknya, mendidik dengan
> > pendidikan non formal di rumah. Lalu melanjutkan pendidikan formal di
> > sekolah. Setelah tamat sekolah menengah atas. Orang tua Karo pasti akan
> > meminta anaknya untuk melanjutkan kuliah. Bahkan beberapa teman kuliah
> saya
> > dulu yang berasal dari kampung Karo, orang tua mereka rela menjual
> ladangnya
> > asal anaknya bisa kuliah. Yang pasti pendidikan si anak menjadi prioritas
> > bagi mereka. Dengan kata lain pendidikan anak menjadi tolak ukur
> kemampuan si
> > orang tua sekaligus mengangkat citra status sosial keluarga.
> >
> > Setelah kuliah selesai, yang menjadi tanggung jawab orang tua berikutnya
> > yaitu jodoh anaknya. Semua orang tua Karo berharap anaknya bisa menikah.
> > Dalam kultur Karo tanggung jawab orang tua pada anaknya belum selesai
> jika
> > anaknya belum menikah. Itulah sebabnya pernikahan menjadi hal yang
> penting
> > dan mutlak. Bahkan lebih baik anaknya cepat menikah daripada cepat dapat
> > kerja. Toh kerjaan bisa saja diwariskan dari harta milik orang tua.
> >
> > Orang tua akan telihat gusar ketika anaknya belum menikah juga. Mereka
> > segera merekomendasikan si anak untuk menikahi impalnya. Jika si anak
> tidak
> > mau, mereka mencari lain. Misalnya mencoba bantuan keluarga dari pihak
> nande
> > atau bapa untuk mencarikan jodoh buat anaknya. Disinilah kemudian
> bibi-bibi
> > berlomba memberikan referensi bahwa si anu atau si ini yang cocok buat
> anak
> > itu.
> >
> > Orang tua akan mendorong anak itu untuk menjalin hubungan dengan calon
> > referensi dari pihak keluarga. Kadang ada anak yang mau, tapi banyak juga
> > memberontak. Jangan seperti teman saya, orang tuanya malu karena anaknya
> > akhirnya dijuluki PANGLATU alias Panglima Lajang Tua.
> >
> >
> > Status Sosial Perlu
> >
> > Ise gelarndu? Ise simupus kam? Ja kutandu? Kai dahindu? Tamatan ja kam?
> >
> > Serentetan pertanyaan itu menjadi pertanyaan mutlak yang ditanyakan orang
> > tua Karo ketika seorang laki-laki bertandang ke rumahnya. Apalagi
> laki-laki
> > itu bertandang karena anak gadisnya.
> >
> > Pernah saya bertandang ke rumah seorang gadis yang saya cintai.
> Serentetan
> > pertanyaan itu menghujam saya. Saya mencoba menjawab apa adanya. Saya
> melihat
> > ekspresi calon mama itu berubah pada saya. Yang tadinya ramah akhirnya
> dia
> > menghindar pergi ke kamar. Mulai saat itu saya berpikir harus mencari
> calon
> > mama dan mami yang mempunyai apresiasi yang baik pada kesenian.
> >
> > Tidak hanya orang Karo, semua orang tua di muka bumi ini berharap anaknya
> > bahagia. Hidup berbahagia dengan pasangannya. Itulah sebabnya mereka
> berharap
> > anaknya mendapat pasangan terbaik. Tidak hanya terbaik bagi anaknya tapi
> juga
> > terbaik bagi mereka, paling tidak menurut mereka.
> >
> > Dalam budaya Karo, perkawinan seorang lelaki dan seorang perempuan tidak
> > hanya perkawinan dalam bentuk perjodohan atau ikatan suami istri.
> Perkawinan
> > disini juga disebut perkawinan dua keluarga. Baik keluarga besar pihak
> > laki-laki maupun pihak keluarga perempuan. Itu makanya antara kedua pihak
> > keluarga harus mengetahui dulu secara dalam calon besannya. Kalau memang
> > tidak cocok mereka secara tegas katakan tidak. Jarang sekali di
> > kemasyarakatan Karo terjadi seperti lakon Romeo dan Juliet, kedua
> keluarga
> > bermusuhan, anak mereka malah saling mencintai.
> >
> > Itulah makanya status sosial dan berbagai persyaratan ini membuat pihak
> > laki-laki terkadang menjadi minder saat melihat status sosial pihak
> perempuan
> > ternyata lebih tinggi. Status sosial bisa menyangkut keluarga, maupun
> > pendidikan perempuan itu. Dari pihak perempuan malah akan senang jika
> lelaki
> > yang datang memang seorang mandiri dan bisa mempertanggungjawabkan anak
> gadis
> > mereka kelak.
> >
> > Itulah sebabnya peran keluarga menjadi hal penting dalam mencari jodoh
> > anaknya. Misalnya peran bibi-bibi itu tadi. Mereka akan melihat mana
> > laki-laki atau perempuan yang cocok buat permain atau anak mereka. Kalau
> > memang sudah cocok, mereka akan segera merekomendasikan. Mereka tidak
> akan
> > merekomendasikan yang tidak cocok dengan permain atau anak mereka dari
> segi
> > keluarga maupun status sosial.
> >
> > Bibi-bibi ini secara langsung sudah jadi mak comblang keluarga. Istilah
> > lainnya mak comblang yang memberikan garansi keluarga. Itulah sebabnya
> jika
> > bibi si anu dan si ani sudah saling cocok menjodohkan dan akhirnya tidak
> > jadi, biasanya antara pihak keluarga yang sudah suka menjadi menjauh atau
> > tidak enakan lagi. Seperti yang dialami Agita teman saya itu.
> >
> >
> > Tips-Tips Perjodohan Karo
> >
> > 1. Berani katakan tidak
> > Kalau tidak cocok, katakan tidak! Jangan karena keinginan keluarga, hidup
> > kita jadi tidak bahagia. Wajar jika keluarga merekomendasikan yang cocok
> > dengan mereka. Wajar pula jika menolak jika seseorang tidak cocok dengan
> > kita. Jangan pernah takut untuk yang satu ini. Ingat, menikah hanya
> sekali
> > seumur hidup. So looking for the best!
> >
> > 2. Jangan khawatir gagalnya perjodohan
> > Jika keluarga akhirnya akhirnya tidak enakan dengan keluarga yang
> > dijodohkan, jangan khawatir. Itu adalah bentuk resiko. Resiko selalu ada
> > kapan saja dan dimana saja. Haruskah setiap orang yang dijodohkan pada
> kita
> > akan menjadi pendamping kita? Kalau memang gitu, betapa mengerikannya
> > perjodohan itu.
> >
> > 3. Patuh pada orang tua adalah syarat mutlak
> > Bagaimana mungkin kita bahagia dengan pasangan yang kita cintai kalau
> kita
> > tidak bisa menyenangkan orang tua kita karena kehadirannya. Orang tua
> sudah
> > membesarkan kita hingga sekarang. Ini bukan karena tugas tanggung jawab
> > mereka, tapi karena rasa sayang mereka pada kita anaknya. Bukankah kita
> harus
> > membalas rasa sayang mereka. Jika ada pasangan yang kita cintai akan
> > mengalami permasalahan dengan orang tua kita saat kita perkenalkan.
> Berikan
> > orang tua pelan-pelan pengertian mengapa kita harus memilih pasangan kita
> > itu. Coba pahami keinginan orang tua kita dari pasangan kita itu. Dari
> situ
> > pasti bisa diambil benang merahnya.
> >
> > 4. Atasi halangan
> > Survei membuktikan banyak lelaki Karo ketika mendekati wanita lebih
> banyak
> > memakai prinsip menghindari halangan daripada mengatasi halangan dalam
> > mencapai keinginannya. Hal ini justru membuat rasa rendah diri di
> kemudian
> > hari. Percaya diri saja. Atasi semua halangan yang mencoba kita untuk
> bersatu
> > dengan kekasih kita itu. Dengan begitu kita akan lebih mencintainya.
> Bukankah
> > semua lelaki diciptakan bersifat ksatria.
> >
> > 5. Jangan milih-milih
> > Umur semakin uzur tapi masih saja milih. Si ini kurang itulah, si itu
> > kurang inilah. Ada-ada saja. Manusia tidak ada sempurna. Pasti ada
> kekurangan
> > dari calon pasangan kita. Untuk itulah kita hadir untuk mencukupkan
> > kekurangannya dari kelebihan kita.
> > Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan saya tentang umur dan perjodohan.
> > Katanya gini : Umur 20-25 tahun = siapa elo? Umur 25-30 tahun = siapa
> gue?
> > Umur 30 ke atas = siapa saja?!
> >
> >
> > Tulisan ini adalah bentuk tafsiran saya dari bentuk perjodohan pada
> > masyarakat Karo berdasarkan pengalaman dan curhat orang lain pada saya.
> Jika
> > ada yang tersinggung, tersudut, atau pernah mengalaminya, saya minta maaf
> > sebesar-besarnya. Sentabi!
> >
> >
> >
> >
> > Tulisan lain bisa disimak di : www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
> __________________________________________________________
> Live Chat NOW!
> http://asia.yahoo.com/meetic/
>
> 
>

Kirim email ke