Sebagai masyarakat muda karo, aku mungkin kurang paham dengan
masalah perjodohan. Tapi tulisan dari abang joiy bangun enda bagi payo
kuakap.

Adi kuakap, adi mampu kita ndalenken bagi uraian si iteruh enda,
masalah perjodohan si i konflik ken ibas kita kalak karo banci teratasi.


> Perjodohan
> Ala Karo
>
> "Bibi yang ngenalkan aku sama dia,!" kata Agita (bukan nama sebenarnya)
> pada saya suatu hari. Agita melanjutkan, "Sekarang semua keluarga
kami ribut
> gara-gara kami ngga jadian!"
>
> Saya bertemu dengan bebere Biring ini di sebuah acara Karo di Jakarta
> beberapa waktu lalu. Kebetulan saya didaulat menjadi pengisi acara
di pesta
> itu. Tahu saya ada di acara itu, Agita yang memang teman lama saya lalu
> menghampiri saya. "Kemana aja lo? Jarang kelihatan lo sekarang ya.
Gue mau
> curhat nih. Lo paham adatkan? Kasi gue solusi dong!" kata gadis
manis berusia
> 28 tahun itu. Untung saja saat itu saya sudah selesai ngisi acara.
Jadi sedikit
> lebih rileks. Kalau tidak, mungkin kosentrasi saya bisa pecah.
>
> "Sebenarnya cowok itu saudara jauh kami. Bibi yang kenalkan dia sama
aku.
> Bibi cowok itu juga yang ngenalkan aku sama dia. Kenapa sih di Karo
ini orang
> ribut masalah jodoh. Berebut untuk menjodoh-jodohkan semua. Apa
mereka pikir
> aku engga bisa dapat jodoh apa?!" lanjut Agita menumpahkan
kekesalannya. Saya
> hanya mangut-mangut mencoba menyelami curhat gadis ini dulu.
>
> Bibi ketemu bibi, lalu mereka saling menjodohkan anak atau permainnya.
> Perjodohan yang dilandaskan hubungan kekerabatan. "Kalau bisa
dekat-dekat
> kenapa cari yang jauh-jauh," kata bibi saya suatu hari mencoba
menjodohkan saya
> dengan seorang Beru Karo. Saya hanya tertawa mendengarnya. Saya
mencoba maklum
> berhubung usia saya memang sudah matang untuk menikah. Tiba-tiba
saya teringat
> tulisan saya berjudul "Bercinta Ala Don Juan" yang dimuat di majalah
> Cosmopolitan Desember lalu. Di tulisan itu saya berikan tips-tips untuk
> menundukkan hati wanita. Masak saya menulis begituan, tiba-tiba saya
> dijodohkan. Para redaktur Cosmopolitan bisa terpingkal-pingkal
mendengar berita
> ini.
>
> "Hari gini main jodoh-jodohan bo? Kemane aje!" kata teman saya seorang
> Fashion Stylist yang mengenalkan saya pada majalah lifestyle itu.
>
>
> Jodoh = Impal
>
> Dalam estetika masyarakat Karo pengertian seorang jodoh lazim disebut
> impal. Maksudnya, dari awal pihak laki-laki akan direkomendasikan
untuk mengambil
> impalnya. Walau tidak tertulis, hal ini semacam peraturan adat yang
tidak baku.
> Artinya, kalau bisa sih laki-laki ngambil impalnya. Kalau tidak
bisa, ambil
> beru yang sama dengan nandenya alias singumban nande. Kalau tidak
bisa juga,
> yang penting asal wanita Karo. Kalau memang tidak bisa lagi, apa
boleh buat,
> siapa aja juga boleh asal bisa menikah daripada dijuluki si jomblo
ting-ting.
>
> Di kemasyarakatan Karo, tanggung jawab pihak orang tua begitu besar pada
> anaknya. Dengan sabar mereka akan membesarkan anaknya, mendidik dengan
> pendidikan non formal di rumah. Lalu melanjutkan pendidikan formal
di sekolah.
> Setelah tamat sekolah menengah atas. Orang tua Karo pasti akan
meminta anaknya
> untuk melanjutkan kuliah. Bahkan beberapa teman kuliah saya dulu
yang berasal
> dari kampung Karo, orang tua mereka rela menjual ladangnya asal
anaknya bisa
> kuliah. Yang pasti pendidikan si anak menjadi prioritas bagi mereka.
Dengan
> kata lain pendidikan anak menjadi tolak ukur kemampuan si orang tua
sekaligus mengangkat
> citra status sosial keluarga.
>
> Setelah kuliah selesai, yang menjadi tanggung jawab orang tua berikutnya
> yaitu jodoh anaknya. Semua orang tua Karo berharap anaknya bisa
menikah. Dalam
> kultur Karo tanggung jawab orang tua pada anaknya belum selesai jika
anaknya
> belum menikah. Itulah sebabnya pernikahan menjadi hal yang penting
dan mutlak.
> Bahkan lebih baik anaknya cepat menikah daripada cepat dapat kerja.
Toh kerjaan
> bisa saja diwariskan dari harta milik orang tua.
>
> Orang tua akan telihat gusar ketika anaknya belum menikah juga. Mereka
> segera merekomendasikan si anak untuk menikahi impalnya. Jika si
anak tidak
> mau, mereka mencari lain. Misalnya mencoba bantuan keluarga dari
pihak nande
> atau bapa untuk mencarikan jodoh buat anaknya. Disinilah kemudian
bibi-bibi
> berlomba memberikan referensi bahwa si anu atau si ini yang cocok
buat anak
> itu.
>
> Orang tua akan mendorong anak itu untuk menjalin hubungan dengan calon
> referensi dari pihak keluarga. Kadang ada anak yang mau, tapi banyak
juga
> memberontak. Jangan seperti teman saya, orang tuanya malu karena anaknya
> akhirnya dijuluki PANGLATU alias Panglima Lajang Tua.
>
>
> Status Sosial Perlu
>
> Ise gelarndu? Ise simupus kam? Ja kutandu? Kai dahindu? Tamatan ja kam?
>
> Serentetan pertanyaan itu menjadi pertanyaan mutlak yang ditanyakan
orang
> tua Karo ketika seorang laki-laki bertandang ke rumahnya. Apalagi
laki-laki itu
> bertandang karena anak gadisnya.
>
> Pernah saya bertandang ke rumah seorang gadis yang saya cintai.
Serentetan
> pertanyaan itu menghujam saya. Saya mencoba menjawab apa adanya.
Saya melihat
> ekspresi calon mama itu berubah pada saya. Yang tadinya ramah
akhirnya dia
> menghindar pergi ke kamar. Mulai saat itu saya berpikir harus
mencari calon
> mama dan mami yang mempunyai apresiasi yang baik pada kesenian.
>
> Tidak hanya orang Karo, semua orang tua di muka bumi ini berharap
anaknya
> bahagia. Hidup berbahagia dengan pasangannya. Itulah sebabnya mereka
berharap
> anaknya mendapat pasangan terbaik. Tidak hanya terbaik bagi anaknya
tapi juga
> terbaik bagi mereka, paling tidak menurut mereka.
>
> Dalam budaya Karo, perkawinan seorang lelaki dan seorang perempuan tidak
> hanya perkawinan dalam bentuk perjodohan atau ikatan suami istri.
Perkawinan
> disini juga disebut perkawinan dua keluarga. Baik keluarga besar pihak
> laki-laki maupun pihak keluarga perempuan. Itu makanya antara kedua
pihak
> keluarga harus mengetahui dulu secara dalam calon besannya. Kalau
memang tidak
> cocok mereka secara tegas katakan tidak. Jarang sekali di
kemasyarakatan Karo
> terjadi seperti lakon Romeo dan Juliet, kedua keluarga bermusuhan,
anak mereka
> malah saling mencintai.
>
> Itulah makanya status sosial dan berbagai persyaratan ini membuat pihak
> laki-laki terkadang menjadi minder saat melihat status sosial pihak
perempuan
> ternyata lebih tinggi. Status sosial bisa menyangkut keluarga,
maupun pendidikan
> perempuan itu. Dari pihak perempuan malah akan senang jika lelaki
yang datang
> memang seorang mandiri dan bisa mempertanggungjawabkan anak gadis
mereka kelak.
>
> Itulah sebabnya peran keluarga menjadi hal penting dalam mencari jodoh
> anaknya. Misalnya peran bibi-bibi itu tadi. Mereka akan melihat mana
laki-laki
> atau perempuan yang cocok buat permain atau anak mereka. Kalau
memang sudah
> cocok, mereka akan segera merekomendasikan. Mereka tidak akan
merekomendasikan
> yang tidak cocok dengan permain atau anak mereka dari segi keluarga
maupun
> status sosial.
>
> Bibi-bibi ini secara langsung sudah jadi mak comblang keluarga. Istilah
> lainnya mak comblang yang memberikan garansi keluarga. Itulah
sebabnya jika
> bibi si anu dan si ani sudah saling cocok menjodohkan dan akhirnya
tidak jadi,
> biasanya antara pihak keluarga yang sudah suka menjadi menjauh atau
tidak
> enakan lagi. Seperti yang dialami Agita teman saya itu.
>
>
> Tips-Tips Perjodohan Karo
>
> 1. Berani katakan tidak
> Kalau tidak cocok, katakan tidak! Jangan karena keinginan keluarga,
hidup
> kita jadi tidak bahagia. Wajar jika keluarga merekomendasikan yang
cocok dengan
> mereka. Wajar pula jika menolak jika seseorang tidak cocok dengan
kita. Jangan
> pernah takut untuk yang satu ini. Ingat, menikah hanya sekali seumur
hidup. So
> looking for the best!
>
> 2. Jangan khawatir gagalnya perjodohan
> Jika keluarga akhirnya akhirnya tidak enakan dengan keluarga yang
> dijodohkan, jangan khawatir. Itu adalah bentuk resiko. Resiko selalu
ada kapan
> saja dan dimana saja. Haruskah setiap orang yang dijodohkan pada
kita akan
> menjadi pendamping kita? Kalau memang gitu, betapa mengerikannya
perjodohan
> itu.
>
> 3. Patuh pada orang tua adalah syarat mutlak
> Bagaimana mungkin kita bahagia dengan pasangan yang kita cintai
kalau kita
> tidak bisa menyenangkan orang tua kita karena kehadirannya. Orang
tua sudah
> membesarkan kita hingga sekarang. Ini bukan karena tugas tanggung
jawab mereka,
> tapi karena rasa sayang mereka pada kita anaknya. Bukankah kita
harus membalas
> rasa sayang mereka. Jika ada pasangan yang kita cintai akan mengalami
> permasalahan dengan orang tua kita saat kita perkenalkan. Berikan
orang tua
> pelan-pelan pengertian mengapa kita harus memilih pasangan kita itu.
Coba
> pahami keinginan orang tua kita dari pasangan kita itu. Dari situ
pasti bisa
> diambil benang merahnya.
>
> 4. Atasi halangan
> Survei membuktikan banyak lelaki Karo ketika mendekati wanita lebih
banyak
> memakai prinsip menghindari halangan daripada mengatasi halangan
dalam mencapai
> keinginannya. Hal ini justru membuat rasa rendah diri di kemudian
hari. Percaya
> diri saja. Atasi semua halangan yang mencoba kita untuk bersatu
dengan kekasih
> kita itu. Dengan begitu kita akan lebih mencintainya. Bukankah semua
lelaki
> diciptakan bersifat ksatria.
>
> 5. Jangan milih-milih
> Umur semakin uzur tapi masih saja milih. Si ini kurang itulah, si itu
> kurang inilah. Ada-ada saja. Manusia tidak ada sempurna. Pasti ada
kekurangan
> dari calon pasangan kita. Untuk itulah kita hadir untuk mencukupkan
> kekurangannya dari kelebihan kita.
> Tiba-tiba saya ingat apa yang dikatakan saya tentang umur dan
perjodohan.
> Katanya gini : Umur 20-25 tahun = siapa elo? Umur 25-30 tahun =
siapa gue? Umur
> 30 ke atas = siapa saja?!
>
>
> Tulisan ini adalah bentuk tafsiran saya dari bentuk perjodohan pada
masyarakat
> Karo berdasarkan pengalaman dan curhat orang lain pada saya. Jika
ada yang
> tersinggung, tersudut, atau pernah mengalaminya, saya minta maaf
> sebesar-besarnya. Sentabi!
>
>
>
> Tulisan lain bisa disimak di : www.tanahkaro.com kolom Joey Bangun
>


Kirim email ke