Kadang-kadang kita bingung mau ngikutin cerita yang mana yang bener
tentang Pawang Ternalem.

Tiba - tiba banyak sekali temen-temen berpartisipasi dan angkat
bicara tentang cikal bakal Pawang Ternalem, dan semuanya merasa
paling bener dan tau tengtang cerita tsb...Tapi pada perakteknya
sampai saat ini  tidak satu orangpun yang bisa mengangkat kisah
tersebut kepermukaan masya, hanya banyak omong doang,Terlepas bener
atau tidaknya cerita itu.

Seharusnya kalaulah kita sadar bahwa kita ini hidup bukan dizaman
Pawang Ternalem..yach sangatlah wajar apabila kisah yang kita angkat
sedikit banyaknya pasti ada distorsi..apalagi untuk saat ini tidak
ada orang yang menjadi saksi hidup, namun kesempurnaan kebenaran
cerita ini tetap diupayakan.Kita seharusnya sangat berterima kasih
kepada temen kita JOEY BANGUN karena niatnya untuk mengangkat
kembali cerita/kisah Pawang Ternalem ketengah masyarakat melalui
media Teatherical.

Untuk itu sebagai rasa keingin tau masyarakat, kiranya event ini
segera diwujudkan dan jangan ditunda-tunda lagi...yakinlah bahwa
masih banyak orang akan mendukung dan menunggu-nunggu kapan saatnya
akan dipentaskan kisah Pawang Ternalem ini.Show must go on..Bujur








--- In [EMAIL PROTECTED], Aron on Arts <arontainment@>
wrote:
>
> Banyak versi tentang cerita Pawang Ternalem. Salah satunya seperti
dikutip dari website Kafe Gaul :
> http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=74737&page=14
> Itulah sebabnya Tim Kreatif Teater Aron melakukan penelitian dan
riset untuk mencari kebenaran fakta dan cerita beberapa waktu lalu.
> Pertektekken, daerah bau kematian
>
> Daerah Pertektekken dikenal sangat angker. Apapun yang melintas di
atasnya akan jatuh dan mati. Kabarnya, tempat ini adalah tempat
pembuangan ilmu sakti dari seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat
Foker di sekitar pegunungan Sibayak disebabkan pula
oleh 'keberanian' pesawat tersebut melintasi daerah keramat ini.
>
> Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di
atas Pertektekken akan mati secara mengenaskan. Memang, daerah yang
terletak di kaki bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan
dengan gunung Sibayak memiliki kisah mistik yang menyeramkan. Kisah
itu berawal dari sebuah desa, Daulu yang hanya berjarak beberapa
kilometer dari tempat ini. Daulu terletak di bagian Selatan kota
Medan, kira-kira 55 kilometer.
>
> Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang
Ternalem dan Berru Pattimar. Dikisahkan sepasang dukun tersebut
sering mengembara ke berbagai daerah untuk melakukan pengobatan
dengan meninggalkan kedua anakanya.
>
> Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit.
Seorang tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang
dukun tersebut. Namun Pawang Ternalem dan istrinya menolak pulang.
Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit atau sampai meninggal dunia
mereka toh bisa menghidupkan lagi.
>
> Benar, selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan
mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Sepasang dukun
sakti ini enggan untuk pulang. Pasalnya, hanya dengan satu
centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu menghidupkan
kembali anaknya.
>
> Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketika Pawang
Ternalem pulang ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong.
Kabarnya, jasad anaknya telah dicuri oleh dukun yang lebih sakti
lagi. Ia adalah Nini Kertah Ernala, penunggu gunung Sibayak. "Bila
ingin bertemu bentangkan kain putih. Ingat, jangan menjamah anak itu
karena bayangan tersebut akan lenyap," pesan Nini Kertah.
>
> Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah. Ketika
mereka membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul.
Karena rindu yang begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua
anaknya. Namun bayangan itupun tiba-tiba menghilang. Pasangan
tersebut sangat terpukul dengan kematian anaknya. Apalagi mereka tak
mampu menghidupkan lagi.
>
> Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk
membuang ilmunya. "Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki
kalau anak kita tak bisa kembali. Marilah sekarang juga kita buang
semua ini," katanya sambil menuju ke sebuah kaki bukit. Sebelum
memotong alat perdukunannya, Beru Pattimar sempat bersumpah, "Apapun
yang nantinya melintas di atas kepalaku akan mati". Seketika tempat
itupun seperti meledak, menerima sumpah saktinya.
>
> Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi
kenyataan. Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan
bangkai burung yang mati. Malah mereka pun sering menemukan bangkai
harimau atau beruang yang mereka ambil kulitnya untuk membuat
perhiasan. Benarkah sumpah sakti itu yang menjadi sumbernya?
>

--- End forwarded message ---


Kirim email ke