Kalau ku tidak salah , Bapak Hendri Bangun pernah mengangkat cerita ini ke
layar Casette,( tahun 80-an bad yang lalu dan di putar bersambung di Radio
Penerangan Kabanjahe. saya yakin di juga telah menelusuri ceritanya terlebih
dahulu sebelum mengangkatnya menjadi cerita drama.

Cuba sungkun  ia kade-kade.

2008/6/17 tariganw <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Kadang-kadang kita bingung mau ngikutin cerita yang mana yang bener
> tentang Pawang Ternalem.
>
> Tiba - tiba banyak sekali temen-temen berpartisipasi dan angkat
> bicara tentang cikal bakal Pawang Ternalem, dan semuanya merasa
> paling bener dan tau tengtang cerita tsb...Tapi pada perakteknya
> sampai saat ini tidak satu orangpun yang bisa mengangkat kisah
> tersebut kepermukaan masya, hanya banyak omong doang,Terlepas bener
> atau tidaknya cerita itu.
>
> Seharusnya kalaulah kita sadar bahwa kita ini hidup bukan dizaman
> Pawang Ternalem..yach sangatlah wajar apabila kisah yang kita angkat
> sedikit banyaknya pasti ada distorsi..apalagi untuk saat ini tidak
> ada orang yang menjadi saksi hidup, namun kesempurnaan kebenaran
> cerita ini tetap diupayakan.Kita seharusnya sangat berterima kasih
> kepada temen kita JOEY BANGUN karena niatnya untuk mengangkat
> kembali cerita/kisah Pawang Ternalem ketengah masyarakat melalui
> media Teatherical.
>
> Untuk itu sebagai rasa keingin tau masyarakat, kiranya event ini
> segera diwujudkan dan jangan ditunda-tunda lagi...yakinlah bahwa
> masih banyak orang akan mendukung dan menunggu-nunggu kapan saatnya
> akan dipentaskan kisah Pawang Ternalem ini.Show must go on..Bujur
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] <senimankaro%40yahoogroups.com>, Aron
> on Arts <arontainment@>
> wrote:
>
> >
> > Banyak versi tentang cerita Pawang Ternalem. Salah satunya seperti
> dikutip dari website Kafe Gaul :
> > http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=74737&page=14
> > Itulah sebabnya Tim Kreatif Teater Aron melakukan penelitian dan
> riset untuk mencari kebenaran fakta dan cerita beberapa waktu lalu.
> > Pertektekken, daerah bau kematian
> >
> > Daerah Pertektekken dikenal sangat angker. Apapun yang melintas di
> atasnya akan jatuh dan mati. Kabarnya, tempat ini adalah tempat
> pembuangan ilmu sakti dari seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat
> Foker di sekitar pegunungan Sibayak disebabkan pula
> oleh 'keberanian' pesawat tersebut melintasi daerah keramat ini.
> >
> > Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di
> atas Pertektekken akan mati secara mengenaskan. Memang, daerah yang
> terletak di kaki bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan
> dengan gunung Sibayak memiliki kisah mistik yang menyeramkan. Kisah
> itu berawal dari sebuah desa, Daulu yang hanya berjarak beberapa
> kilometer dari tempat ini. Daulu terletak di bagian Selatan kota
> Medan, kira-kira 55 kilometer.
> >
> > Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang
> Ternalem dan Berru Pattimar. Dikisahkan sepasang dukun tersebut
> sering mengembara ke berbagai daerah untuk melakukan pengobatan
> dengan meninggalkan kedua anakanya.
> >
> > Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit.
> Seorang tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang
> dukun tersebut. Namun Pawang Ternalem dan istrinya menolak pulang.
> Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit atau sampai meninggal dunia
> mereka toh bisa menghidupkan lagi.
> >
> > Benar, selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan
> mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Sepasang dukun
> sakti ini enggan untuk pulang. Pasalnya, hanya dengan satu
> centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu menghidupkan
> kembali anaknya.
> >
> > Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketika Pawang
> Ternalem pulang ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong.
> Kabarnya, jasad anaknya telah dicuri oleh dukun yang lebih sakti
> lagi. Ia adalah Nini Kertah Ernala, penunggu gunung Sibayak. "Bila
> ingin bertemu bentangkan kain putih. Ingat, jangan menjamah anak itu
> karena bayangan tersebut akan lenyap," pesan Nini Kertah.
> >
> > Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah. Ketika
> mereka membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul.
> Karena rindu yang begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua
> anaknya. Namun bayangan itupun tiba-tiba menghilang. Pasangan
> tersebut sangat terpukul dengan kematian anaknya. Apalagi mereka tak
> mampu menghidupkan lagi.
> >
> > Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk
> membuang ilmunya. "Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki
> kalau anak kita tak bisa kembali. Marilah sekarang juga kita buang
> semua ini," katanya sambil menuju ke sebuah kaki bukit. Sebelum
> memotong alat perdukunannya, Beru Pattimar sempat bersumpah, "Apapun
> yang nantinya melintas di atas kepalaku akan mati". Seketika tempat
> itupun seperti meledak, menerima sumpah saktinya.
> >
> > Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi
> kenyataan. Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan
> bangkai burung yang mati. Malah mereka pun sering menemukan bangkai
> harimau atau beruang yang mereka ambil kulitnya untuk membuat
> perhiasan. Benarkah sumpah sakti itu yang menjadi sumbernya?
> >
>
> --- End forwarded message ---
>
> 
>

Kirim email ke