sumber: 
http://indonesiasaram.wordpress.com/2007/01/06/batak-karo-fenomena-salah-kaprah/
Sudah
menjadi hal yang umum di nusantara bahwa masyarakat Batak amatlah
dominan di Sumatera Utara. Bahkan kota Medan sendiri sering dianggap
sebagai kotanya rakyat Batak. Akibatnya, setiap orang yang berasal dari
kota tersebut selalu dianggap mampu berbahasa Batak. Padahal Medan
merupakan kota yang masyarakatnya jamak sehingga bahasa Batak tentu
saja bukan menjadi bahasa dominan.
Penduduk salah satu kota terbesar di Indonesia ini sangat majemuk.
Di antaranya ada etnis India, Cina, Jawa, Melayu, Sunda, Minang, Ambon,
Manado, dan tentu saja Batak. Dengan demikian, bahasa Indonesia tentu
saja menjadi bahasa yang dominan. Tentunya di kalangan etnis
masing-masing penggunaan bahasa Indonesia tidak selalu ditekankan.
Misalnya saja, etnis Cina di sana akan memakai bahasa Hokkian,
sedangkan etnis Indianya kadang berbahasa India (apakah itu bahasa Urdu
atau bukan saya kurang tahu).
Sebenarnya, Provinsi Sumatera Utara tidak hanya dihuni oleh etnis
Batak sebagai etnis yang (mungkin) paling dominan, khususnya di daerah
Tapanuli. Masih ada etnis lain, yaitu Karo. Sebagai etnis yang mandiri,
suku Karo memiliki bahasanya sendiri. Dan ini tentunya membedakan
bahasa Karo dengan bahasa Batak. Misalnya, untuk menyebut ‘ini’, orang
Batak akan menyebut on sedangkan orang Karo akan menyebutnya endah.
Namun, berkembang pula suatu bentuk salah kaprah, khususnya bagi
orang-orang di luar provinsi tersebut. Sebagian besar orang berpendapat
bahwa etnis Karo adalah Batak juga. Maka seringlah terdengar, misalnya,
“Wah, saya tadi bertemu dengan seorang Batak Karo.” Padahal, Batak dan
Karo, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah dua etnis yang berbeda.
Saya menangkap salah kaprah ini didasarkan pada kenyataan bahwa
etnis Batak sendiri terdiri dari beberapa, katakanlah, cabang lagi. Di
antaranya ada Simalungun, Mandailing, dan Toba. Oleh karena itu, orang
sering mendengar Batak Simalungun untuk menyebut orang Simalungun,
demikian seterusnya. Kiranya inilah yang terjadi pada etnis Karo.
Saya juga pernah mendengar hal yang sama mengenai etnis Jawa dan
etnis Sunda. Beberapa orang menyebutkan etnis Sunda itu sebagai orang
Jawa juga. Apakah benar demikian? Rasanya tidak juga.
Salah satu strategi untuk melihat kebenaran hal ini ialah melalui
bahasa. Perbandingan tersebut dalam ilmu linguistik disebut linguistik
komparatif. Bila bertujuan menyelidiki persamaan/perbedaan rumpun
bahasa namanya linguistik historis komparatif. Misalnya saja, bila ada
satu kata yang cara pelafalan maupun penulisannya serupa, bisa
dicurigai sebagai satu bahasa yang sama/serumpun. Setelah itu, selidiki
apakah maknanya mendekati atau tidak. Tentu saja penyelidikannya tidak
bisa didasarkan hanya pada satu kata saja.
Amatlah penting bagi kita untuk mempelajari hal seperti ini untuk
menghindari salah paham dengan saudara-saudari kita dari etnis berbeda.
Malahan akan lebih baik lagi bila kita bertanya langsung mengenai hal
ini. Yah, hitung-hitung menghindari hal-hal yang tidak diinginkanlah.
                                                        

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net



      

Kirim email ke