--- In [email protected], Kaipe_labo_mis iting
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> aneh!
> namanya pun udah TENGKULAK? 
> Apa masih ada sisi positifnya dari seorang TENGKULAK? 
> Jika seorang JK bilang mendukung pengembangan TENGKULAK? 
> andikoooooo..............
> makin mengerikan saja tingkah petinggi2 ini huhuhu 
> 
> *speechless*


rasionalisitas dibelakangnya mungkin begini kak (yg saya pun
terheran2),silahkan dikoreksi atau ditambahi.

untuk mendukung ekonomi rakyat, bener, mesti ada dukungan permodalan
terhadap ekonomi rakyat misalnya petani dan nelayan. Untuk itu
interest rate harus dibikin rendah dan arus modal sebaiknya dibikin
longgar atau tidak ketat. Pelakunya (peminjam modal) memang seharusnya
instituional banking.

tapi pada kenyataanya interest rate di Indonesia itu tinggi dan
kebijakan uang ketat, susah kali cari pinjaman modal buat orang
ekonomi bawah. Koq bisa gitu ya ? ada dua hal , soal kebijakan uang
ketat ini memang syarat atau paksaan dari badan dunia ketika mereka
meminjamkan modalnya kepada Indonesia , ini doktrin neo-liberal; dalam
soal interest rate , ternyata high interest rate diperlukan untuk
menekan inflasi (padahal dengan interest rate yg tinggi sekalipun,
inflasi masih tinggi karena utang LN indonesia dan neoliberalisasi
ekonomi) kedua, investor asing di indonesia menginginkan high interest
rate agar mereka tetap bermain di  pasar modal indonesia, kalau
dibikin turun, kemungkinan mereka mengambil dananya dan pertahanan
rupiah jebol. Jadi Indonesia, mungkin sekali, berada dalam lingkaran
Paradoksikal. Ini sisi makronya. Padahal coba kita bandingkan dengan
ekonomi di barat, di AS interest rate diset kecil sekali ketika
terjadi consumer crisis. Jadi memang tidak adil, badan dunia yang
disetir negara barat memaksakan high interest rate untuk negara
berkembang sementara negara barat lebih leluasa memberikan low rate
interest rate agar consumer cyclenya jalan terus.

( Got it ? Ini praktek neo-kolonialisme abad 21 ).


Balik ke tengkulak tadi.Maka wajar saja, jika memang itu yang terjadi
kalau pemerintah tidak terlalu berhasil mengembangkan sektor riil dan
meminjamkan uang kepada sektor UKM, karena ketidak berdayaan itulah,
maka akses peminjaman modal , katanya Wapres, diserahkan saja kepada
Tengkulak.

Cara lain selain tengkulak adalah microfinancing atau direct banking
to the poor tanpa birokrasi. Mungkin bedanya tengkulak dengan
microfinancing adalah jangka waktu pengembalian uang yang jauh lebih
flexible yang bisa dilakukan oleh microfinancing organization.

Nah, kalau kita bicara dari wawasan bagaimana mencari solusi secara
makro ? dalam deepthought pemikiran saya, ini merupakan masalah
sangat komplex dan persoalan global. Dalam pemikiran saya, yang
*mungkin* bisa merubah keadaan ekonomi Indonesia (dan dunia) adalah
Barack Obama. Kalau Obama naik, kemungkinan munculnya pemimpin(s) dan
sistem ekonomi dengan ideologi pro-rakyat di Indonesia akan lebih
mudah (regardless of their internal ideology whether it's
religious background or secularist/nationalistics views).

Ini kalau kita bicara 5-30 tahun kedepan ya , itupun kalau harapan
harapanya sesuai dengan faktanya nanti. Menurut saya kita berada di
persimpangan jalan. Makanya menarik sekali, kalau Pemilihan presiden
AS yang dilakukan November nanti berlangsung duluan disusul pemilu di
Indonesia pada April 2009.

Ada banyak alasan kenapa saya bilang Obama mungkin adalah bagian dari
solusi, karena tanda2 jaman makin memperlihatkan "apa dan siapa yang
benar" , seperti gagalnya perjanjian WTO di doha dalam soal Tariff,
bangkitnya China-India-Brazil sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru dan
krisis failed-capitalism-neoliberal dibawah GWB yang hanya bisa
disaingi great depression pada 1930an. 

Mungkin perlu tulisan tersendiri untuk hal itu.



bujur,



MCP Sembiring
















> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Sunday, August 3, 2008 5:06:36 AM
> Subject: [tanahkaro] kembangkan tengkulak
> 
> 
> Wapres Dukung Pengembangan Tengkulak 
> Jakarta, (Analisa) 
> Wakil Presiden M Jusuf Kalla mendukung pengembangan tengkulak agar
bisa diatur lebih baik karena selama ini membantu masyarakat nelayan
dalam memperoleh modal tanpa birokratis. 
> "Jangan salah, tengkulak itu pedagang menengah, itu sama dengan
grosir hanya kedengarannya jelek. Dan tidak semua tengkulak itu
jelek," kata Wapres M Jusuf Kalla kepada wartawan usai sholat Jumat di
Jakarta. 
> Menurut Wapres, tengkulak yang disebut juga punggawa, sudah hidup
sejak puluhan tahun dan sampai sekarang masih tetap bertahan. Karena
itu, lebih baik dikembangkan dan diatur supaya lebih baik. 
> "Tengkulak itu realita yang hidup, kita berikan rivalitas dengan
servis yang lebih baik. Ditandingkan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
KUR yang berikan persaingan," kata Wapres. 
> Ketika ditanyakan bunga yang diberikan oleh tengkulak cukup tinggi,
Wapres mengatakan sebenarnya tengkulak tidak mengambil untung dari
bunga, tetapi dari penjualan.  
> Dan kelebihan tengkulak, tambah Wapres, bisa memberikan modal bagi
nelayan pada saat melaut tanpa birokratis. 
> "Dan itu resikonya tinggi sekali. Siapa yang jamin kalau gagal,
hanya kita perlu atur yang lebih baik," kata Wapres. 
> Sementara menurut Ketua DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia
(HNSI) Sumyaryo Sumiskun, tengkulak bukan lagi menjadi momok atau
musuh yang harus dijauhi tetapi sebagai mitra bisnis. 
> "Selama ini tidak ada lembaga yang bisa menggantikan tengkulak yang
tidak birokratis sehingga kita harus merangkulnya, " kata Sumyaryo.  
> Menurut Sumyaryo saat ini malah sudah berdiri Asosiasi Punggawa
(tengkulak) yang dipimpin oleh M Salim yang juga merupakan bupati
Rembang. 
> Untuk itu, tambah Sumyaryo, Wapres meminta HNSI bisa menjalin
kerjasama dengan semua pemangku kepentingan masyarakat nelayan seperti
asosiasi punggawa, pengusaha perikanan dan sebagainya. 
> "Nanti dalam Munas HNSI akan kita bicarakan mengenai kerjasama
dengan Asosiasi Punggawa ini," kata Sumyaryo. 
> Menurut Sumyaryo dari data Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)
tercatat jumlah nelayan tangkap Indonesia sebanyak 2,6 juta orang dan
nelayan budi daya sebanyak 1,2 juta orang. 
> Sementara untuk produksi satu kilogram ikan diperlukan biaya sebesar
Rp2000. (Ant) 
> 
> ________________________________
>  Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g.
> Sök och jämför priser hos Kelkoo.
>


Kirim email ke