Sada nari taktik neo-liberal enda ndai itulis Carlos Patriawan 
Sembiring, emkap bunga uang setinggi-tingginya. Taktik menghambat 
investasi sejauh mungkin alias menghambat perkembangan nation 
berkembang, tapi makin pesat di negeri industri maju. 
 
Kembangkan tengkulak, nina JK, bagi si mejin ka siakap ma bage 
kapndu (Burgit Bekasi), tapi adi lanai lit terulin, simejin pe piah 
mejile kang. Pernah kang kuperdiateken fenomena tengkulak enda i 
salah sada kota i Jawa, i stasion bus kota, para knek dan supir bus 
pada pinjam uang untuk makan sarapan pagi, sore dikembalikan dengan 
bunga 150% dan paling murah 100%. Banyak laku . . . mau apa, tak ada 
alternatif lain. Tapi 'ekonominya' jalan, daripada tak jalan sama 
sekali. 
Mungkin perlu pengembangan salin kata JK, tapi bisa juga 
dengan 'pengembangan' malah hilang, artinya sifat kesederhanaan dan 
kepraktisan tadi malah hilang. Eh . . . 


--- In [email protected], "cpatriawgmail" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
--- In [email protected], Kaipe_labo_mis iting
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> aneh!
> namanya pun udah TENGKULAK?
> Apa masih ada sisi positifnya dari seorang TENGKULAK?
> Jika seorang JK bilang mendukung pengembangan TENGKULAK?
> andikoooooo..............
> makin mengerikan saja tingkah petinggi2 ini huhuhu
>
> *speechless*


rasionalisitas dibelakangnya mungkin begini kak (yg saya pun
terheran2),silahkan dikoreksi atau ditambahi.

untuk mendukung ekonomi rakyat, bener, mesti ada dukungan permodalan
terhadap ekonomi rakyat misalnya petani dan nelayan. Untuk itu
interest rate harus dibikin rendah dan arus modal sebaiknya dibikin
longgar atau tidak ketat. Pelakunya (peminjam modal) memang 
seharusnya
instituional banking.

tapi pada kenyataanya interest rate di Indonesia itu tinggi dan
kebijakan uang ketat, susah kali cari pinjaman modal buat orang
ekonomi bawah. Koq bisa gitu ya ? ada dua hal , soal kebijakan uang
ketat ini memang syarat atau paksaan dari badan dunia ketika mereka
meminjamkan modalnya kepada Indonesia , ini doktrin neo-liberal; 
dalam
soal interest rate , ternyata high interest rate diperlukan untuk
menekan inflasi (padahal dengan interest rate yg tinggi sekalipun,
inflasi masih tinggi karena utang LN indonesia dan neoliberalisasi
ekonomi) kedua, investor asing di indonesia menginginkan high 
interest
rate agar mereka tetap bermain di pasar modal indonesia, kalau
dibikin turun, kemungkinan mereka mengambil dananya dan pertahanan
rupiah jebol. Jadi Indonesia, mungkin sekali, berada dalam lingkaran
Paradoksikal. Ini sisi makronya. Padahal coba kita bandingkan dengan
ekonomi di barat, di AS interest rate diset kecil sekali ketika
terjadi consumer crisis. Jadi memang tidak adil, badan dunia yang
disetir negara barat memaksakan high interest rate untuk negara
berkembang sementara negara barat lebih leluasa memberikan low rate
interest rate agar consumer cyclenya jalan terus.

( Got it ? Ini praktek neo-kolonialisme abad 21 ).


Balik ke tengkulak tadi.Maka wajar saja, jika memang itu yang terjadi
kalau pemerintah tidak terlalu berhasil mengembangkan sektor riil dan
meminjamkan uang kepada sektor UKM, karena ketidak berdayaan itulah,
maka akses peminjaman modal , katanya Wapres, diserahkan saja kepada
Tengkulak.

Cara lain selain tengkulak adalah microfinancing atau direct banking
to the poor tanpa birokrasi. Mungkin bedanya tengkulak dengan
microfinancing adalah jangka waktu pengembalian uang yang jauh lebih
flexible yang bisa dilakukan oleh microfinancing organization.

Nah, kalau kita bicara dari wawasan bagaimana mencari solusi secara
makro ? dalam deepthought pemikiran saya, ini merupakan masalah
sangat komplex dan persoalan global. Dalam pemikiran saya, yang
*mungkin* bisa merubah keadaan ekonomi Indonesia (dan dunia) adalah
Barack Obama. Kalau Obama naik, kemungkinan munculnya pemimpin(s) dan
sistem ekonomi dengan ideologi pro-rakyat di Indonesia akan lebih
mudah (regardless of their internal ideology whether it's
religious background or secularist/nationalistics views).

Ini kalau kita bicara 5-30 tahun kedepan ya , itupun kalau harapan
harapanya sesuai dengan faktanya nanti. Menurut saya kita berada di
persimpangan jalan. Makanya menarik sekali, kalau Pemilihan presiden
AS yang dilakukan November nanti berlangsung duluan disusul pemilu di
Indonesia pada April 2009.

Ada banyak alasan kenapa saya bilang Obama mungkin adalah bagian dari
solusi, karena tanda2 jaman makin memperlihatkan "apa dan siapa yang
benar" , seperti gagalnya perjanjian WTO di doha dalam soal Tariff,
bangkitnya China-India-Brazil sebagai sebuah kekuatan ekonomi baru 
dan
krisis failed-capitalism-neoliberal dibawah GWB yang hanya bisa
disaingi great depression pada 1930an.

Mungkin perlu tulisan tersendiri untuk hal itu.



bujur,



MCP Sembiring






Kirim email ke