MJJ Carlos, MJJ pemilis Sirulo:
Saya mengikuti kebanyakan tulisan kam, terutama bagaimana kam konsisten 
menyuarakan posisi2 pemerataan. I have been voting for egalitarian too! Tapi 
menunggu lama belum terjadi dan sepertinya tidak tahu lagi apakah akan menjadi 
kenyataan, saya akhirnya berhenti menyalahkan para kapitalis. Kata kunci yang  
saya coba dengungkan adalah,  kapitalis bisa masuk karena ada "lowongan."   
Lowongan muncul karena tidak dapat dilayani oleh mayoritas umat yang ironisnya 
menginginkan dan berjuang demi adanya pemerataan pembagian kue itu. 

Ada beberapa premise yang akhirnya membuat saya punya standing demikian. Satu, 
(contoh) kue kapitalis dan kaum 'buruh' bertambah masing-masing 50 dan 5 persen 
masih lebih terasa adil dan egalitarian dari pada kedua pihak ini stagnan atau 
mundur. Ilustrasi ini yang menjadi pengamatan saya terjadi pada Tengkulak 
versus nelayan di beberapa desa pantai di Sumatera Utara. Dua,  saya melihat 
bahwa perbedaan adalah satu anugrah Tuhan. Manusia dilahirkan di lingkungan 
yang berbeda-beda dan tumbuh dengan "candu" yang berbeda-beda pula. Ada yang 
sudah puas (tidak menuntut keadilan lagi) dengan apa yang diperoleh sekarang, 
walaupun banyak juga yang masih menuntut. Ada yang mau berjuang untuk 
memperoleh kue yang lebih besar (sadar atau tidak bahwa people can only be 
helped if they can help themselves) tapi banyak juga yang bermalas-malasan yang 
biasanya menjadi ladang empuk peninabobokan dengan: "kami akan memperjaungkan 
keadilan bagi kalian" dari para politikus.
 Seseorang yang menuntut keadilan akan selalu melihat orang lain sebagai sumber 
ketidakadilan itu, jarang-jarang nggargarinya pada diri sendiri.

Kemudian somewhere along the line, saya ingat bahwa kalau difikir-fikir saya 
sudah merasakan kenikmatan the invincible hand itu koq, lebih-lebih setelah 
saya mengimani bahwa thesis karena-keinginan-orang-lain-(pemilik-modal)-untuk- 
memperoleh-untung-itu-saya-diuntungkan-itu  adalah turunan dari campur tangan 
the Ultimate Omnipotent Hand. Karena mampu mensyukuri perolehan dan atau 
pertambahan kue saya,  saya tidak pusing lagi akan seberapa besar kue orang 
lain. 

Sentabi, mbera2 sharing ini berkenan,
Bp Nona Sampaguita.     



----- Original Message ----
From: cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, August 5, 2008 11:07:50 PM
Subject: [tanahkaro] Re: Tengkulak Yes! Tengkulak No!


--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, shodan purba <shodanpurba@ ...> wrote:
>
> MJJ pemillis sirulo khusuna man JG:
> Say yes to Saling Ketergantungan: Manusia ditakdirkan hidup saling
berdampingan dan saling bergantungan. Ibas ilustrasindu, mengapa kam
mesti menolak ketergantungan nelayan kepada Tengkulak, toch
tengkulaknya juga akan tegantung dari para nelayan? Kam lepas nelayan
dari keterantungan kepada tengkulak, mereka akan harus berhubungan
dengan jenis intermediary yang lain, bukan? 
> 

bagus statemenya Bapak tapi ,with all due respect, ini alasan klasik
kaum liberal menjerat orang miskin :-) maaf ya.

walau bagaimanapun tengkulak itu  menciptakan siklus kemiskinan dan
ketergantungan orang miskin terhadap orang kaya. Dalam skala mikro
tidak jauh berbeda antara tengkulak desa dengan Negara Barat  yang
memaksakan program-programnya kepada negara miskin sehingga negara
miskin tetap miskin dan yang kaya makin kaya raya.

Betul, ada ketergantuan disitu, tapi mesti ada ketergantungan atau
lebih tepatnya siklus ekonomi mikro yang *lebih adil* dan *egaliter*
dan usaha untuk mensejahterakan orang miskin mesti harus dilakukan.

bujur & mjj,

carlos

    


      

Kirim email ke