Gembong Papua Merdeka di Australia Ancam Dua WNI
Brisbane, (Analisa)
Hengkangnya Hana Gobay dan Yubel Surei, dua dari 43 pencari suaka politik Papua
yang diberi visa menetap sementara di Melbourne oleh pemerintah Australia, ke
Indonesia membuat gembong Papua Merdeka, Herman Wainggai, kebakaran jenggot dan
mengancam keselamatan keduanya.
Ancaman Herman Wainggai kepada kedua Hana Gobay dan Yubel Surei itu terungkap
dalam surat elektronisnya kepada "[EMAIL PROTECTED] com" dengan tembusan
"westpa_authority@ yahoo.com.au" yang diperoleh Antara di Brisbane, Rabu.
Dalam surat bertajuk "SIMPA" 2 WNI kembali ke Indonesia!" tertanggal 23 Sep
2008 20:02:10 -0700" itu, Herman Wainggai mengatakan, keduanya adalah musuh
bersama para pendukung Papua Merdeka. "Ade Hana Gobay dan Jubel Kareni, kaka
Herman cuma ucapkan selamat atas pengkhianatanmu."
"Semoga keputusanmu menjadi pijakan yang benar untuk kepuasanmu berdua. Hari
ini engkau boleh senang goyang poco-poco dengan mas-mas kolonial RI tapi hari
ini juga engkau adalah musuh orang banyak Papua Barat... Harapan saya,
semogaaaaaaaa engkau bisa melihat tanah bintang fajar dengan pengkhianatanmu!"
Dua warga negara Indonesia (WNI) itu kembali ke Tanah Air dengan rute
Melbourne-Denpasar untuk kemudian ke Papua pada 23 September dengan
difasilitasi oleh KJRI Melbourne dan KBRI Canberra.
Sementara itu Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, mengatakan, posisi KBRI
Canberra "hanya menfasilitasi kepulangan kedua WNI itu atas dasar kemanusiaan."
Kewenangan dalam pembeberan awal dan kronologi cerita kepulangan Hana Gobay dan
Yubel Surei itu tidak berada di tangan KBRI Canberra tetapi di tangan Deplu RI
di Jakarta, katanya.
"KBRI Canberra selama proses maupun ketika mereka sudah pulang sengaja tidak
membuka diri kepada pihak media manapun di Australia dengan beberapa
pertimbangan," katanya.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut adalah KBRI Canberra menghormati privasi
kedua WNI tersebut. "KBRI Canberra juga menyadari bahwa manakala identitas
mereka ini diketahui Herman Wainggai cs, kami khawatir keselamatan mereka
terancam," katanya.
"Menurut pengakuan mereka (Hana Gobay dan Yubel Surei-red.) mereka telah
tertipu oleh Herman Wainggai. Kesan terakhir yang ingin kita sampaikan adalah
bahwa mereka bukanlah komoditas politik yang bisa dipamerkan, melainkan mereka
adalah WNI yang perlu diberikan bantuan atas dasar kemanusiaan," kata Dino
Kusnadi.
Karena itu, KBRI Canberra "membantu mereka pulang tanpa menggunakan 'megaphone
diplomacy' (diplomasi via media-red.)" katanya. (Ant)
--
___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting:
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783