Bung Carlos.. saya juga punya ideologi sendiri tapi tidak hanya berdasarkan ideologi-ideologi orang per orang..semua pendiri bangsa kita awalnya mengkaji masalah bangsa kita lewat kajian Marxis sehingga mereka menuliskan teori mereka sendiri ttg nasion dan rakyat Hindia Belanda melalui buku-buku mereka misal Soekarno Marhaenismenya, tan malaka Madilognya, Hatta Ekonomi sosialisnya, syahrir Perjuangan Kita dan lain sebagainya..kalau saya setuju saja ttg ekonomi kerakyatannya Hatta tp secara politik saya tidak setuju dengan dia karena terlalu Kompromistis sehingga terlalu lemah secara politik menghadapi kaum Kolonial tahun 1945 mungkin terlalu lama mengecap pendidikan barat..bahkan hatta menghalalkan cara ditahun 1948 dengan menumpas gerakan FDR olwh Musso dan amir syaifuddin di Madiun sehingga terkesan seperti Fasis..begitu juga Syahrir terlalu lembek secara politik selalu mengandalkan diplomatis sehingga Indonesia kehilangan kedaulatan karena Belanda memenangkan perundingan2 yang dibuat pasca Revolusi 45.
saya memang cenderung ke arah politiknya Tan malaka atau Soekarno, karena Revolusi tidak begitu saja dipadamkan ketika senmangat Revolusi sedang begelora..bahkan yang terjadi ketika Revolusi dipadamkan seperti yang dialami Indonesia pasca 45..rakyat sedang bergelora tapi dipadamkan dengan diplomasi-diplomasi yang dijalankan pemerintahan era syahrir dan seterusnya. makanya Tan malaka mengkonsolidasikan kekuatan Front persatuan untuk mengembalikan kekuatan Revolusioner.. tetapi terlepaslah dari itu, kita berdua sepakat bahwa tahun 2009 pemimpin harus pro ekonomi kerakyatan, demokratis dan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia (baik pendidikan, HAM dan Penegakan Hukum (Low Enforcement))..Revolusi memang tidak bisa dibiarkan jalan sendiri tapi harus dikawal, mknya sbenarnya kita sudah punya alat itu (Revolusi 45) tp semuanya mengedepankan kepntingan politik masing-masing.. seperti kata Tan malaka bahwa Revolusi itu mencipta jadi tidak mungkin dibiarkan berjalan sendiri..tp harus diingat ketika segelintir orang juga berteriak-teriak ttg revolusi mereka itu hanya segolongan orang-orang yang tidak punya tunjrungan karena Tan malaka bilang, Revolusi itu tanpa diteriakkan pun akan muncul sendirinya apabila rakyat ditindas secara politik, ekonomi dan mendapatkan ketidakadilan dalam bahasa lebih sederhana oleh Bung Karno Rakyat telah Insyaf..kemudian pemahaman terhadap Revolusi juga harus dipahami dari 2 aspek, yang pertama menunrut saya Revolusi secara formal yaitu merebut kekuasaan melalui Pemilihan Umum, seperti yang dilakukan oleh Raffael Correa di Ekuador yang seseorang Ekonom sosialis, dengan meneriakkan Revolusi dalam kampanye kepada rakyat Rafaael Correa pun memenagkan Pemilu dan terpilih jadi Presiden.. kedua melalui Extra Parlemen, yaitu dengan kekuatan rakyat melalui jalanan seperti tahun 1966, 1998 walaupoun memiliki resiko karena yang bajingan pun akhirnya mendapat jatah terhadap kekuasaan seperti sekarang ini dan tahun 1966..revolusi extra parlemen ini harus memang memperhatikan kondisi sosiologis, historis dan objektifitas politis masyarakat, hal seperti ini memang sangat sulit dilakukan apalagi kemampuan seseorang untuk menggalang kekuatan rakyat mkn hanya Soekarnolah yg masih bisa.. kalau inisial yang setuju dengan konsep mereka cuma satu yg aku tau FR (fajrul Rochman) tapi menrtku sangant sedikit peluang untuk dia, karena pertama konsolidasi kekuatannya kurang, kedua kendaraan politiknya tidak ada hanya mengandalkan calon Independen karena memang dia tidak terlalu percaya dengan partai-partai politik yg ada beserta dengan orang2nya..aku pun pernah mengadakan pembicaraan dengan salah satu orang tua Korban pelanggaran HAM berat yg mendapatkan pernghargaan Yap Tiam Hiem award, kami berdua sepakat mendukung FR jika dia maju bahkan kami berdua mau melakukan konsolidasi ditingkatan massa karena memang secara konsep cuma dia yang layak seperti yang kam bilang..tapi kalau yg inisial BS aku dak tau, klo blh tau siapa itu?? Dan benar bung bilang bahwa sekarang tidak ada persatuan ideologi secara nasional sehingga tidak ada konsep yang jelas ketika salah satu partai berkuasa di Indonesia, yang ada sekarang Bung negara kita konsepnya Republik Industri..apaun bisa menjadi Industri, seperti politik, kekuasaan pendidikan, entertainment apalagi...ini yang terjadi di negara kita sehingga apatisme masyarakat meningkat tinggi dan berbanding lurus dengan tingkat konsumerisme masyarakat.. mengenai ideologi tadi, secara pribadi aku menerima semua Ideologi Bung sperti kata Bung Karno I accept all of ideology, communism, nationalism, islamism karena dia islam tapi aku menolak agama sebagai Ideologi, dan aku juga seperti Ahmad Wahib yang mengatakan bahwa aku bukan Marxis, aku bukan nasionalis, aku bukan sosialis..aku bukan soekarno, aku bukan hatta, aku bukan syahrir, bahwa aku bukan aku, aku adalah semuanya lihatlah aku sebagai Identity Absolute..aku sedang berproses menuju aku..itu sedikit dari aku Bung, Bujur.. --- On Fri, 9/26/08, cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Bls: [tanahkaro] Re: koalisi merah-putih abangan & religius > To: [email protected] > Date: Friday, September 26, 2008, 10:18 AM > > > > Buat Bung Carlos.. > > persolan politik yang ada di Indonesia, kita jangan > terjebak dengan > isu politik elitis yang ada saat ini..memang persoalan kita > saat ini > adalah terlalu berkembang ideologi Ekonomi liberal > Fundamental, budaya > primordial yang Fundamental, agama yang Fundamental dan > lain > sebagainya..inilah yang menjadi kajian dan tugas kita untuk > mencegah > berkembangnya dampak ideologi tersebut demi terjaganya > Republik > Indonesia..kalau kita membahas siapa pendukung Pansus > angket BBm atau > tidak, trs kemudian RUU Pornografi atau tidak dan > sebagainya saya kira > kita akan terjebak di permainan politik elitis..saya > bahakan tidak > percaya satu pun dari partai-partai yang ada di DPR > sekarang apalagi > mereka2 termasuk orang2 yang berperan mendirikan > pemerintahan Rezim > Militer Orba, kenapa?persoalannya adalah produk > undang-undang ttentang > energi, migas dan sebagainya itu merupakan produk DPR yang > melanggar > Konstitusi yaitu menyerahkan segala sesuatunya ke Mekanisme > Pasar trs > > kemudian > > aku setuju pemikiran ini. > > masalahnya dulu tahun 98pun aku mikir, sebenarnya yang > lengser itu > cuman pak harto doang'...tapi manusia manusia dengan > pemikiran seperti > pak harto (lets call it Suhartois) masih 98% memimpin di > Republik ini > dan itu tidak bisa dihindari. > > Sementara jika saat itu (98), kepempimpinan nasional > langsung > diberikan ke generasi 98 jelas gak mungkin karena terlalu > muda. > > Jadi sebenarnya masalahnya adalah persoalan GENERASI. > Generasi 98 > nantilah yang diharapkan bisa mengembalikan Indonesia > kepada cita cita > Indonesia semula seperti yang dikumandangkan oleh Soekarno > dan Hatta. > > Selanjutnya, karena golongan suhartois ini kuat, mereka > berhasil > mereposisi dan membalikkan keadaan, terbukti, walaupun pak > harto > lengser, struktur finansial di indonesia sama sekali tidak > berubah. > > > > mereka bertengkar (Oposisi dan Pemerintah) hanya > karena minyak > dinaikkan walaupun saya secra pribadi turun ke jalan saat > menolak > kenaikan BBM tersebut di Istana beserta teman2 > lainnya..bagaimana ini? > DPRnya saja sudah melanggar Konstitusi otomatis Presiden > juga tidak > takut melanggar Konstitusi..jadi pertanyaan saya mana yang > bs kita > percayai?jawaban saya dalam sebuah diskusi mahasiswa lintas > kampus > cuma satu Revolusi..apalagi kalau bukan itu, karena para > DPR dan > eksekutif telah melanggar Konstitusi jadi harus ada > pemerintahan baru > atau kalau lebih lunak seperti kata Ekonom UGM Revrisond > Baswir > membatalkan semua UU yang bertentangan dengan Konstitusi > oleh Mahkamah > Konstitusi serta memperteguh kembali semangat Proklamasi > dan Revolusi > 45 serta berkomitmen menjalankan Konstitusi demi > tercapainya negara > kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat > Indonesia. > > > > meskipun secara teoritis benar karena saya juga anak muda > :-) > > dari bukti sejarah, semua revolusi (kecuali revolusi 1945) > di Indonesia gagal karena : > > - tidak ada persiapan matang > > - Indonesia jauh lebih kompleks dari yang orang bayangkan > > - tidak ada united front dan kesatuan ideologi/faith > > - solusi yang "ditawarkan" juga tidak sempurna. > Idenya cenderung > revolutionary tapi tidak menangkap perubahan global. > > > Saya cuman bisa berharap, perubahan terjadi di parlemen > secara > gradual. Mengharapkan revolusi yang berjalan sendiri > umumnya > konter-produktif (inget kan istilah 'revolusi memakan > anak kandungnya > sendiri). > > Perubahan gradual yang konstruktif dan lebih efektif bisa > terjadi jika > : > > - melepaskan diri dari pengaruh IMF. > > - rejim ekonomi yang memerintah Indonesia pasca 2009 nanti > adalah > rejim ekonomi pro-rakyat yang bukan dari kalangan > neo-liberal. jaman > mega dan gusdur ini kan sudah ada. > > - mendisiplinkan pasar keuangan Indonesia sehingga uang > yang hanya > berputar dalam manipulasi pasar modal bisa diarahkan ke > sektor riil. > > - ada program redistribusi dari oligarkis kepada masyrakat > middle > class dan low class. > > - Akselerasi kepemimpinan dari generasi 66 ke 98 (lahir > 70an) tapi > mesti ditekankan sekali ideologi pro-kerakyatanya. > > Singkatnya, saya cenderung pada pemikiran camp Bung Hatta > dimana > perubahan harus dilakukan, tapi harus sangat hati2. Bung > Hatta kalau > dikategorikan cenderung dikategorikan sbg gerakan > tengah-kiri (sosial- > kerakjatan) daripada kiri-radikal. Kalau ditanya aku > cenderung dengan > pemikiran siapa saat ini ? aku lebih milih BS dan FR. DUa > duanya punya > pemikiran dan konsep yg jelas. > > > > bujur, > > > carlos
