baik Bung saya juga bahas mengenai Musso dan amir beserta FDRnya yg ditumpas 
katakanlah Soekarno-Hatta ini dia kesaksian aidit dalam D.N. Aidit Menggugat 
Peristiwa Madiun, dan buku2nya yg diterbitkan jaman orde lama seperti literatur 
yg bung gunakan:B u k u P u t i h t e n t a n g P e r i s t i w a M a d i u n 
jang diterbitkan oleh Departemen Agitprop CC PKI, M e n g g u g a t P e r i s t 
i w a M a d i u n dan K o n f r o n t a s i P e r i s t i w a M a d i u n 1 9 4 
8 -- P e r i s t i w a S u m a t e r a ( 1 9 5 6 )

Peristiwa Madiun memang provokasi dan bahwa dalam Peristiwa Madiun tsb. tangan 
Hatta-Sukiman-Natsir cs. memang berlumuran darah. Dengan ini berarti bahwa 
Hatta, ketika itu masih wakil Presiden, harus tampil sebagai saksi berhadapan 
dengan saja. Kesediaan saja ini, jang djuga diperkuat oleh advokat saja, Sdr. 
Mr. Suprapto, tidak mendapat persetudjuan. pengadilan. Djaksa menjatakan 
keberatannja akan pembuktian jang mau saja adjukan dengan saksi2. Oleh karena 
djaksa menolak pembuktian jang mau saja adjukan, maka djaksa terpaksa mentjabut 
tuduhan melanggar fasal 310 dan 311 KUHP. Djelaslah, bahwa ada orang2 jang 
kuatir kalau Peristiwa Madiun ini mendjadi terang bagi Rakjat..mengenai Bung 
bilang itu adalah soekarno-hatta, ada juga pembuktian tp intinya Hatta 
menggunakan Soekarno untuk melakukan agitasi karena hatta sendiri tdk pnya 
Kekuatan terhadap rakyat yg punya kekuatan itu adalah Soekarno sehingga dia 
membuat pilihan "Soekarno-Hatta atau Musso-Amir" ini
 dia kata-kata aidit, Djadi, mengenai Peristiwa Madiun kami sudah lama siap 
berhadapan dimuka pengadilan dengan arsiteknja Moh. Hatta. Ini saja njatakan 
tidak hanja sesudah Hatta berhenti sebagai wakil Presiden, tetapi seperti 
diatas sudah saja katakan, djuga ketika Hatta masih Wakil Presiden. Saja tidak 
ingin menantang siapa-siapa, tetapi kapan sadja Hatta ingin Peristiwa Madiun 
dibawa kepengadilan, kami dari PKI selarnanja bersedia menghadapinja. Kami 
jakin, bahwa djika soal ini dibawa kepengadilan bukanlah kami jang akan 
mendjadi terdakwa, tetapi kamilah pendakwa. Kamilah jang akan tampil kedepan 
sebagai pendakwa atasnama Amir Sjarifuddin, putera utama bangsa Indonesia jang 
berasal dari tanah Batak, atasnama Suripno, Maruto Darusman, Dr. Wiroreno, Dr. 
Rustam, Harjono, Djokosujono, Sukarno, Sutrisno, Sardjono dan beribu-ribu lagi 
putera Indonesia jang terbaik dari suku Djawa jang mendjadi korban keganasan 
satu pemerintah jang dipimpin oleh burdjuis
 Minangkabau, Mohammad Hatta. Demikian kalau kita mau berbitjara dalam istilah 
kesukuan, sebagaimana sekarang banjak digunakan oleh pembela2 kaum pemberontak 
di Sumatera, hal jang sedapat mungkin ingin kami hindari. Ja, kami djuga akan 
berbitjara atasnama perwira2, bintara2 dan pradjurit2 TNI jang tewas dalam 
"membasmi Komunis" atas perintah Hatta, karena mereka djuga tidak bersalah dan 
mereka djuga adalah korban perang-saudara jang dikobarkan oleh Hatta.

Dalam pembelaan saja dimuka pengadilan tanggal 24 Februari 1955 telah saja 
katakan "bahwa diantara orang2 jang karena tidak mengertinja telah ikut dalam 
pengedjaran 'terhadap kaum Komunis', tidak sedikit sekarang sudah tidak 
mempunjai purbasangka lagi terhadap PKI dan sudah berdjandji pada diri sendiri 
untuk tidak lagi mendjadi alat perang-saudara dari kaum imperialis dan 
kakitangannja". Alat2 negara sipil maupun militer sudah mengerti bahwa dalam 
Peristiwa Madiun mereka telah disuruh memerangi saudara2 dan teman2nja sendiri.

kemudian soekarno mengatakan apa?ini dia : Dalam pidatonja tgl. 19 September 
1948 Presiden Sukarno mengatakan bahwa Peristiwa Solo dan Peristiwa Madiun 
tidak berdiri sendiri. Ini sepenuhnja benar ! Sesudah pentjulikan2 dan 
pembunuhan2 di Solo jang diatur dari Djokja, keadaan di Madiun mendjadi sangat 
tegang sehingga terdjadilah pertempuran antara pasukan2 dalam Angkatan Darat 
jang pro dan jang anti pentjulikan2 serta pembunuhan2 di Solo, jaitu 
pertempuran pada tgl. 18 September 1948 malam. Dalam keadaan katjaubalau 
demikian ini Residen Kepala Daerah tidak ada di Madiun, Wakil Residen tidak 
mengambil tindakan apa2 sedangkan Walikota sedang sakit. Untuk mengatasi 
keadaan ini maka Front Demokrasi Rakjat, dimana PKI termasuk didalamnja, 
mendesak supaja Kawan Supardi, Wakil Walikota Madiun bertindak untuk sementara 
sebagai pendjabat Residen selama Residen Madiun belum kembali. Wakil Walikota 
Supardi berani mengambil tanggungdjawab ini. Pongangkatan Kawan
 Supardi sebagai Residen sementara ternjata djuga disetudjui oleh pembesar2 
militer dan pembesar2 Sipil lainnja. Tindakan ini segera dilaporkan 
kepemerintah pusat dan dimintakan instruksi dari pemerintah pusat tentang apa 
jang harus dikerdjakan selandjutnja.

Nah, tindakan inilah, tindakan mengangkat Wakil Walikota mendjadi Residen 
sementara inilah jang dinamakan oleh pemerintah Hatta tindakan "merobohkan 
pemerintah Republik Indonesia", tindakan "mengadakan kudeta" dan tindakan 
"mendirikan pemerintah Sovjet". Kalau dengan mengangkat seorang Wakil Walikota 
mendjadi Residen sementara bisa dinamakan merobohkan pemerintah Republik 
Indonesia, bisa dinamakan kudeta dan bisa dinamakan mendirikan pemerintah 
Sovjet, nama apakah lagi jang bisa diberikan kepada tindakan komplotan Simbolon 
dan "Dewan Banteng" di Sumatera? 

ini sedikit kesaksian Aidit kalau masalah madiun, juga ada tambahannya Buku 
kesaksian Kolonel Soemarsono korban yang selamat dalam Peristiwa Madiun yang 
sekarang berdomisili di Australia dengan judul "Negara Madiun", penyuntingnya 
atau penelitinya kalau gak salah Arief Budiman abangnya Soe Hok Gie.. trus 
kemudian yg diatas hanya pernyataan sekilasnya aidit tp saya lampirkan 
lengkapnya, nanti saya attach dan Bung baca sendiri..semoga bermanfaat..disitu 
juga Aidit mengungkapkan bagaimana sangat mengagumi seorang Fasis jamannya 
Hitler kalau gak salah..coba bung baca aja..

kalau masalah Hatta mundur memang tidak kesesuian sikap Politik mereka Bung 
bukan karena konflik itu yg pertama, kemudian yang kedua Hatta ingin 
mendapatkan Legitimasi pengukuhan dirinya sebagai Wakil Presiden oleh Parlemen 
hasil Pemilu 55, itu saja menurut saya.

kemudian masalh pembentukan manusia Indonesia jaman Soeharto, salah Bung kalau 
Bung bilang manusia Indonesia terbentuk jaman Soeharto, kalau pembangunan fisik 
saya sepakat tp kalau karakter manusia Indonesia saya tidak sepakat...sekarang 
inilah sintesis hasil pembangunan manusia jaman Soeharto, bagaimana Bung 
melihatnya?bagus?intelektual manusia jeblok, tingkat Hedonismenya tinggi, 
semangat kebersamaannya luntur, budayanya western semua tp saya tidak tahu 
kalau Bung memang berpandangan yang lain..

tp lihat pernyataan soe hok gie dibuku hariannya, dia mengatakan pemuda di 
jamannya, dibentuk dan dipengaruhi oleh semangat revolusioner Bung Karno, 
dengan slogan-slogan Revolusi dan Agitasi Revolusionernya..tp jaman soeharto, 
semuanya diberangus bahkan untuk mempelajari sejarah dan ilmu sosial aja tidak 
bisa, bagaimana manusia Indonesia punya karakter kalau belajar aja dibatasi 
bung..

saya sepakat masalah geo politik di amerika latin sedang menuju ke arah 
kerakyatan atau katakanlah kiri, tp itu semua bukan menjadi faktor utamanya tp 
yg menjadi faktor utamanya adalah kesadaran sosial masyarakatnya dan 
pemimpinnya yang punya kemauan politik untuk mewujudkan negara kesejahteraan 
tanpa ketergantungan dengan negara-negara kapitalis dan ingin berdaulat penuh 
baik secara politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. 

PS : benih itu tidak datang dari langit begitu saja dan akan tumbuh subur 
ditanah yang tidak sesuai dengan benih itu..Bujur, sedikit dari aku..Christian 
Ginting


--- On Sun, 9/28/08, cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Bls: [tanahkaro] Re: koalisi merah-putih abangan & religius
> To: [email protected]
> Date: Sunday, September 28, 2008, 3:31 PM
> sisanya setuju ... saya bahas sejarahnya saja lah.
> 
> --- In [email protected], christian ginting
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> >
> > Bung Carlos..
> > saya juga punya ideologi sendiri tapi tidak hanya
> berdasarkan 
> ideologi-ideologi orang per orang..semua pendiri bangsa
> kita awalnya 
> mengkaji masalah bangsa kita lewat kajian Marxis sehingga
> mereka 
> menuliskan teori mereka sendiri ttg nasion dan rakyat
> Hindia Belanda 
> melalui buku-buku mereka misal Soekarno Marhaenismenya, tan
> malaka 
> Madilognya, Hatta Ekonomi sosialisnya, syahrir Perjuangan
> Kita dan 
> lain sebagainya..kalau saya setuju saja ttg ekonomi
> kerakyatannya 
> Hatta tp secara politik saya tidak setuju dengan dia karena
> terlalu 
> Kompromistis sehingga terlalu lemah secara politik
> menghadapi kaum 
> Kolonial tahun 1945 mungkin terlalu lama mengecap
> pendidikan 
> barat..bahkan hatta menghalalkan cara ditahun 1948 dengan
> menumpas 
> gerakan FDR olwh Musso dan amir syaifuddin di Madiun
> sehingga terkesan 
> seperti Fasis..begitu juga Syahrir terlalu lembek secara
> politik 
> selalu mengandalkan diplomatis sehingga Indonesia
> kehilangan 
> kedaulatan karena Belanda memenangkan
> >  perundingan2 yang dibuat pasca Revolusi 45.
> 
> >>>>>>>>>>>>>>>>>>>
> 
> kalau saya baca dari buku orde lama yang ditulis secara
> netral , 
> sebenarnya yang mengeliminasi FDR itu ya bung karno dan
> bung hatta 
> juga...gak cuman bung hatta saja. coba lihat pidato bung
> karno tahun 
> 1948 : "Pilih Soekarno atau pilih Musso" dimana
> bung karno menantang 
> rakyat, agar menetapkan pilihan, mau piih soekarno atau
> pilih musso, 
> jelas rakyat pilih soekarno.
> 
> musso pertama kali mengagitasi rakyat madiun setelah dia
> pulang dari 
> prague , awal2nya dia mencoba membuat aliansi dengan
> masyumi dan PNi 
> dalam bentuk united front melawan soekarno-hatta , tapi
> gagal karena 
> karena ideologinya berbeda. 
> 
> Jadi tahun 1948 itu ada empat kekuatan :
> 
> A- belanda
> B- soekarno-hatta (RI)
> C- FDR/PKI ( musso / amir )
> d- GRR ( Tan Malaka)
> 
> masing2 A,B,C,D itu konflik satu sama sama lain. kubu
> musso/amir juga 
> konflik dengan GRR/tan malaka ( perseteruan sejak 1926).
> 
> kekuatan 'c' finish tahun 1948, baru bangkit lagi
> setelah 1951 ketika 
> kabinet soekiman (masyumi konservatif) jatuh dan aidit
> merevisi 
> politik pki (alimin/tan ling djie) yang tadinya
> anti-nasionalis-
> borjuis menjadi pro-nasionalis-borjuis ( istilahnya dari
> leftish 
> menjadi rightist). 
> 
> kekuatn 'a' atau belanda finished di indonesia
> setelah Amerika serikat 
> menghentikan bantuan marshall plan aid kepada belanda
> setelah belanda 
> dikutuk internasional karena melakukan aksi militer ke dua
> di jogja.
> 
> kekuatan 'd' atau tan malaka finished setelah tan
> malaka tewas di 
> kediri oleh pasukan soekotjo/gatot subroto pada periode
> dimana 
> hatta/soekarno sedang berada di pengasingan. tahun2
> berikutnya, 
> pengikut tan malaka seperti achmad subardjo menjadi menteri
> di kabinet 
> dan chairul saleh dikirim sekolah ke luar negeri oleh
> soekarno.
> 
> sedangkan bung karno kita tahu jatuh pada 1965 dan bung
> hatta resigned 
> pada 1958 karena ia menganggap tidak bisa bekerja sama lagi
> dengan 
> bung karno.
> 
> sesudahnya ... jaman soeharto. Justru soeharto yang paling
> berhasil di 
> indonesia dalam "mengisi" indonesia, maksudnya
> dalam hal membentuk 
> manusia Indonesia.... :-) hehehe....
> 
> Nah sekarang ini Indonesia mencari jati diri baru lagi...
> untuk ketiga 
> kalinya, setelah perjuangnya pendahulunya gagal.
> 
> 
> ps: dalam soal ekuador , perhatikan juga soal
> geo-politik....faktor 
> luar negeri sebenarnya salah satu yg terpenting dalam
> keberhasilan 
> sebuah perubahan.
> 
> 
> 
> bujur,
> 
> 
> 
> carlos


      

Kirim email ke