sisanya setuju ... saya bahas sejarahnya saja lah. --- In [email protected], christian ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung Carlos.. > saya juga punya ideologi sendiri tapi tidak hanya berdasarkan ideologi-ideologi orang per orang..semua pendiri bangsa kita awalnya mengkaji masalah bangsa kita lewat kajian Marxis sehingga mereka menuliskan teori mereka sendiri ttg nasion dan rakyat Hindia Belanda melalui buku-buku mereka misal Soekarno Marhaenismenya, tan malaka Madilognya, Hatta Ekonomi sosialisnya, syahrir Perjuangan Kita dan lain sebagainya..kalau saya setuju saja ttg ekonomi kerakyatannya Hatta tp secara politik saya tidak setuju dengan dia karena terlalu Kompromistis sehingga terlalu lemah secara politik menghadapi kaum Kolonial tahun 1945 mungkin terlalu lama mengecap pendidikan barat..bahkan hatta menghalalkan cara ditahun 1948 dengan menumpas gerakan FDR olwh Musso dan amir syaifuddin di Madiun sehingga terkesan seperti Fasis..begitu juga Syahrir terlalu lembek secara politik selalu mengandalkan diplomatis sehingga Indonesia kehilangan kedaulatan karena Belanda memenangkan > perundingan2 yang dibuat pasca Revolusi 45.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>> kalau saya baca dari buku orde lama yang ditulis secara netral , sebenarnya yang mengeliminasi FDR itu ya bung karno dan bung hatta juga...gak cuman bung hatta saja. coba lihat pidato bung karno tahun 1948 : "Pilih Soekarno atau pilih Musso" dimana bung karno menantang rakyat, agar menetapkan pilihan, mau piih soekarno atau pilih musso, jelas rakyat pilih soekarno. musso pertama kali mengagitasi rakyat madiun setelah dia pulang dari prague , awal2nya dia mencoba membuat aliansi dengan masyumi dan PNi dalam bentuk united front melawan soekarno-hatta , tapi gagal karena karena ideologinya berbeda. Jadi tahun 1948 itu ada empat kekuatan : A- belanda B- soekarno-hatta (RI) C- FDR/PKI ( musso / amir ) d- GRR ( Tan Malaka) masing2 A,B,C,D itu konflik satu sama sama lain. kubu musso/amir juga konflik dengan GRR/tan malaka ( perseteruan sejak 1926). kekuatan 'c' finish tahun 1948, baru bangkit lagi setelah 1951 ketika kabinet soekiman (masyumi konservatif) jatuh dan aidit merevisi politik pki (alimin/tan ling djie) yang tadinya anti-nasionalis- borjuis menjadi pro-nasionalis-borjuis ( istilahnya dari leftish menjadi rightist). kekuatn 'a' atau belanda finished di indonesia setelah Amerika serikat menghentikan bantuan marshall plan aid kepada belanda setelah belanda dikutuk internasional karena melakukan aksi militer ke dua di jogja. kekuatan 'd' atau tan malaka finished setelah tan malaka tewas di kediri oleh pasukan soekotjo/gatot subroto pada periode dimana hatta/soekarno sedang berada di pengasingan. tahun2 berikutnya, pengikut tan malaka seperti achmad subardjo menjadi menteri di kabinet dan chairul saleh dikirim sekolah ke luar negeri oleh soekarno. sedangkan bung karno kita tahu jatuh pada 1965 dan bung hatta resigned pada 1958 karena ia menganggap tidak bisa bekerja sama lagi dengan bung karno. sesudahnya ... jaman soeharto. Justru soeharto yang paling berhasil di indonesia dalam "mengisi" indonesia, maksudnya dalam hal membentuk manusia Indonesia.... :-) hehehe.... Nah sekarang ini Indonesia mencari jati diri baru lagi... untuk ketiga kalinya, setelah perjuangnya pendahulunya gagal. ps: dalam soal ekuador , perhatikan juga soal geo-politik....faktor luar negeri sebenarnya salah satu yg terpenting dalam keberhasilan sebuah perubahan. bujur, carlos
