Sabar kam Unjuk, ulanai jawabindu. jago ia asa kam, em kin dahinna. Emaka cirem saja aku mbegi2 rananna.
--- In [email protected], Ginting Christina <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Dari > dulu, Perkoeah eksis dan bahkan sempat dikagumi karena > kegiatan-kegiatan dan pemberitaan- pemberitaan atas > kegiatan-kegiatanny a. Setelah Christina br Ginting masuk ke dalam > kepengurusan Perkoeah, persoalan yang dihadapi setiap harinya adalah > soal perubaten antar pribadi-pribadi. > > Begitulah pintarnya sdr Juara Gtg memutarbalikkan semua situasi-situasi dan kenyataan. > Malahan saya yang menjadi korban mengikuti Sdr juara Ginting. Malah sejak saya masuk ke pengurusan di "perkoeah " saya justru dijauhi dgn kade2 di Belanda bahkan kade2 yang di jerman (Hamburg). Juga salah seorang Abangnta di Hamburg mengatakan kepada saya sendiri, "Sirang mejuah-juah kita lebe ya ting " artinya sirang mejuah-juah selama saya mengikuti Sdr juara gtg. > > Apakah > itu masa keemasan? Saat itu saya tahu Sdr. Christina br Ginting sangat > anti terhadap ketua Perkoeah. Entah mengapa, saya tidak tahu. Saya > sebagai wakil ketua Perkoeah mencoba menjembataninya. > > Saya anti dengan "perkoeah" swaktu masa Nd Budi sebagai ketua anda bilang, hahahahaha > Justru swaktu Nd Budi ketua perkoeah tgl 10 januari 2004 Bukit Lawang Day. > Saya malahan membawa anggota Indonesia Muenchen untuk hadir bersama Ibu ketua Indomu > Ibu Yanti kreissig dan teman2 lainnya membawa langsung sumbangan kami dari Indomu sebesar > 850 euro. Malahan saya ikut mendukung justru sebaliknya malahan anda yang habis2 an menjelek2kan Nd Budi kepada saya. > > Dibawah ini ada bukti mail saya k "perkoeah" > Tgl Fri Jan 2, 2004 4:22 am > Bagepe man sinihamati kami ibu ketua Nd.Budy, dalam rapat IndonesiaMu, > kami mau melaporkan bahwa dana yang sudah terkumpul. > > Dari sumbangan masyarakat München dan Jemaat Indonesia München 649,23 Euro > dan Ibu ketua mengatakan digenapkan ( diambil dari kas Indomu )menjadi 700 > Euro. > Dari kas Jerman BatakSelatan 150 Euro. > Jadi total semua 850 Euro. > Enda adipe labo galang jumlahna tapi kami berharap banci ibahan man > gambaran dari rasa kepedulian kami kerina yang berada di negeri orang > ... sindauh dari kutanta atas musibah yang menimpa sebagian > saudara-saudara kita bukit lawang. Dana enda kari langsung kari ibaba kami > ras ibereken langsung dari Ibu ketua Indomu Yantikreissig ku Ibu ketua > Perkoeah kita Nd. Budi. > > Bujur melala ras Tuhan memberkati kita kerina, > Nd.Melissa Ginting. > > > Apakah perempuan > selalu tidak suka bila perempuan lain dipersilahkan untuk maju? Itulah > analisis saya dalam persoalan Perkoeah yang diributkan oleh Christina > br Ginting. Masalah kecemburuan dan iri (sedikit ditambah dengki). Dia > punya pandangan, saya juga punya pandangan. > > Kalau mengenai pandangan tentang Anda dan saya. > Semua kade2nta i Eropah, terutama kade2nta yang di Belanda tau siapa ANDA, dan tau siapa saya. > Silahkan Turang senina sikunihamati bas milist enda nungkun secara pribadi siapa sdr Juara ginting ku kade2nta si lit i Eropa. Enda mail pribadina [EMAIL PROTECTED] > [EMAIL PROTECTED] > > Soal mengundurkan > diri, di milis ini juga Christina br Ginting pernah menghujat Perkoeah. > Mengapa tidak saat itu dia mengundurkan diri dari kepengurusan? > > Saya tidak pernah menghujat "perkoeah", anda saja yang menginterprestasikan kata2 saya. > Saya mengeluarkan surat pengunduran diri biar nggak ada lagi sangkut pautnya dgn perkumpulan ini makanya saya menyatakan mundur dari kepengurusan itu. > Supaya saya merasa aman saja. > Itu saja maksud saya. > > Christina gtg. > > > > > > ________________________________ > From: Si Laga Man <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, October 27, 2008 11:26:38 AM > Subject: [infokaro] Re: Mengundurkan Diri. > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Ginting Christina <christina_gtg@ ...> wrote: > "... Kepengurusan terbentuk lewat komunikasi jarak jauh itu tadi, ya > memang begitu dari dulu, tapi kan nggak bisa dianggap kepengurusan itu > ecek-ecek ..." > > > Dari > dulu, Perkoeah eksis dan bahkan sempat dikagumi karena > kegiatan-kegiatan dan pemberitaan- pemberitaan atas > kegiatan-kegiatanny a. Setelah Christina br Ginting masuk ke dalam > kepengurusan Perkoeah, persoalan yang dihadapi setiap harinya adalah > soal perubaten antar pribadi-pribadi. > > > "... Masa Hartawati br Gurusinga jadi ketua Perkoeah (itu masa > keemasan perkumpulan ini) ada rencana membuat akte notaris tapi tdk > jadi karena Hartawati (Nd Budi) pulang ke Indonesia ..." > > > Apakah > itu masa keemasan? Saat itu saya tahu Sdr. Christina br Ginting sangat > anti terhadap ketua Perkoeah. Entah mengapa, saya tidak tahu. Saya > sebagai wakil ketua Perkoeah mencoba menjembataninya. > > Soalnya > begini, saya adalah tim sukses yang mengupayakan sdr. Hartawati > Gurusinga terpilih menjadi ketua Perkoeah dengan menempatkan diri saya > sendiri sebagai wakil ketua. Karena Hartawati Gurusinga terpilih > sebagai ketua, beberapa orang mengambil jarak dari Perkoeah. Salah > satu diantaranya adalah Christina br Ginting. Selanjutnya saya mencoba > menjembatani masalah ini dengan melakukan pendekatan terhadap Christina > br Ginting. Ketika Christina br Ginting terpilih sebagai wakil ketua, > beberapa orang lainnya lalu mengambil jarak pula dari Perkoeah. > > > " ... ada rencana membuat akte notaris tapi tdk jadi karena Hartawati (Nd Budi) pulang ke Indonesia ..." > > > > Perkoeah > sudah punya akte notaris dengan status sebagai yayasan (stichting). > Hartawati Gurusinga termasuk salah seorang pendirinya. Akte itu telah > dibuat jauh sebelum Hartawati pulang ke Indonesia. Ini artinya kam > memang sok tahu tentang Perkoeah, makanya kam membencinya, tapi mau > menerima ketika saya menawarkan agar kam menjadi wakil ketua (untuk > diusulkan kepada teman-teman, bukan mengangkat kam. Kalau akhirnya > lobiku berhasil membuat kam jadi wakil ketua, itu lain lagi soalnya; > seperti lobiku agar kam diterima sebagai wakil pemimpin umum Sora Mido > waktu itu). > > > > ".. Sejak itulah perkumpulan ini merosot terus karena beberapa > orang-orang Karo di Eropa yg dulu merasa bagian dari perkumpulan ini > tidak lagi merasa tertarik. Buktinya kerja tahun III tdk banyak lagi > org yg muncul, enggo teremen beligan panitia asangken kalak si reh ..." > > > Setahu > saya, Perkoeah hanya pernah mengadakan kegiatan kerja tahun. > Kegiatan-kegiatan masyarakat Karo di Belanda biasanya dilakukan oleh > Tartar Bintang. Dalam pemberitaannya, terutama di milis ini, saya > selalu menmpatkan kegiatan-kegiatan Tartar Bintang sebagai bagian > Perkoeah (karena saya ingin Perkoeah kelihatan aktif dan kreatif) > > Kalau > itu yang dimaksud dengan Jaman Keemasan Perkoeah, berterimakasihlah > kepada Tartar Bintang yang saya bentuk. Sampai saat ini, Tartar Bintang > masih mendapat pesanan menari atau bermain musik. Hanya karena > kesibukan saya dan keberadaan saya di Indonesia yang membuat saya > menolak banyak pesanan. > > Memang, Perkoeah berhasil menerbitkan > kembali Sora Mido. Herannya, karena saya selalu menekankan peran > Perkoeah dalam penerbitan kembali Sora Mido, orang-orang seperti tidak > melihat peran saya dalam menggalang kekuatan sehingga orang-orang Karo > di Eropah berkeinginan membantu penerbitan kembali Sora Mido. Bahkan > saya yang ikut menyumbang uang untuk penerbitan Sora Mido (100 euro) > sepertinya hilang ditelan bumi (dan saya tidak bilang apa-apa. ) Dalam > catatan saya, Christina br Ginting tidak terlibat apa-apa dalam > penerbitan kembali Sora Mido. Nantinya, agar dia juga bisa terlibat, > saya ajak bergabung dengan Sora Mido dan, bahkan, menempatkan dia > sebagai wakil pemimpin umum (atas lobi saya ke teman-teman yang lain). > > Bayangkan, > saya bersedia menempatkan perempuan menjadi ketua Perkoeah dan saya > sendiri sebagai wakilnya. Bayangkan lagi, saya bersedia menempatkan > Christina br Ginting sebaga wakil pemimpin umum Sora mido dan saya > sendiri hanya seorang anggota redaksi. Keduanya bisa begitu karena > lobi-lobi saya. > > Sampai saat ini saya masih tetap positip > terhadap perempuan. Perjuangan saya mengemansipasi perempuan tidak akan > pernah berhenti hanya karena orang-orang menuduh saya "labo man acak-acakken ritik nggawang". > > Sekarang, > tercatat di dalam sejarah Karo, pemimpin redaksi perempuan Karo yang > pertama adalah Ita Apulina Tarigan. Ini pula yang membuat beberapa > perempuan, termasuk Christina, membenci saya. > > Apakah perempuan > selalu tidak suka bila perempuan lain dipersilahkan untuk maju? Itulah > analisis saya dalam persoalan Perkoeah yang diributkan oleh Christina > br Ginting. Masalah kecemburuan dan iri (sedikit ditambah dengki). Dia > punya pandangan, saya juga punya pandangan. > > Soal mengundurkan > diri, di milis ini juga Christina br Ginting pernah menghujat Perkoeah. > Mengapa tidak saat itu dia mengundurkan diri dari kepengurusan? > > Dikatakannya, > siapa yang ingin tahu alasan pengunduran dirinya silahkan mengirim > email ke dia. Beberapa tahun lalu dia sudah mengirim email2 yang > menjelek-jelekkan saya ke seluruh dunia. Dan saya tetap melakukan > perjuangan untuk Karo, tak terpengaruh atas cekuraknya. Mengapa > sekarang ingin mengulangi kembali apa yang sudah dilakukannya dua tahun > lalu terhadap saya? > > Saya jadi tertarik pada judul sebuah tulisan di milis ini: BEGU (sebuah renungan). > > Juara R. Ginting >
