"aras jadi namo" atau "namo jadi aras", hehehe . . . sada 
perumpamaan asli etnis Karo, nggambarken sada hukum dialektika 
emkap 'kesatuan dari segi-segi bertentangan', pas kang bagi "seh 
sura-sura tangkel sinanggel" (Eddy Surbakti). 'Kuala' bas cakap 
Melayu ertina pertemuan sungai ras laut atau bas bahasa Karo selain 
enda banci kang pertemuan dua sungai. Biasana sekitar perjumpaan dua 
lau enda (kuala) banci kang lit sada 'pulau', piah lit kang 
kemungkinan pengertian enda me 'kuala'. 

Kuala Namo, adi siperdiateken tiap kuala (pertemuan sungai dan laut) 
pasti nge lit namo je, ertina bagian yang tenang dan dalam. Ijenda 
jadi kuala si lit namona alias kuala namo. Erbahan gelar enda 
manusia Karo nge ngenca mungkin. Etnis sideban la mungkin erbahan 
gelar sibagenda. Sekiranya orang Melayu yang bikin tentu jadi 'Kuala 
Lubuk'. Namo atau lubuk (Melayu) bagian yang lebih tenang dan dalam 
satu sungai, atau jelma Karo si biasa engkawil tentu ndarami namo 
(Shodan Purba), gia lit kang si engkawil bas aras lau (spesial ka 
carana). 'Namu' lalit ertina bas bahasa Karo bagepe Melayu. Jenda 
kuakap berlaku penghilangan secara berangsur-angsur peninggalan sada 
budaya tertentu, pas kang bagi i kab Karo enggo imulai, misalna 
ngganti 'tiga' jadi 'pekan' bagi sipernah ipostingken SGM V. Tapi 
kai kin gunana menghilangkan pengaruh sada budaya?

Tapi terlepas bas enda nari kerina, soal terpenting jenda emkap 
diskusi soal gelar bandara enda, janah enggo me kuakap mejile ibenai 
atau imulai, termasuk erbage-bage kalak Karo (Zoblok), tapi 'dengan 
kepala dingin' nina. Diskusi enda banci kang 'la erkedungen', ngayak 
kari lit ka kalak Karo Senayan atau legislatif SUMUT nggit ka 
ngerana ngepkep Karo ras budayana, ertina kalak enda pe yakin la 
perlu menghilangkan sada budaya, budaya isepe. Sejarah ndai. 
Keadilan ndai ka. 'Patimpus' atau pahlawan Sumtim, tentu epe adil, 
orang daerah. Koran Waspada, sada koran Medan si la pernah ndeher 
ras etnis Karo nai nari pe, termasuk pendirina M Said & istri, 
bagepe anakna si gundari mimpin Waspada. Ngayak gundari la 
terandalken korang enda, si idah ka me perkembangenna ku lebe. Adi 
lit koran nasional Karo tentu mbue mbantu meringankan tugas berat 
enda. Etnis kitik ngelawan etnis-etnis besar tentu butuh mbue 
bantuan, termasuk ketekunan kita atas dasar kuat keadilan ras la 
ngelupaken perjuangan abadi antar etnis. Keadilan enda banci menarik 
mayoritas, bahkan kerina etnis. Tapi ise kin si mettehsa kita adil?  

Enda ka lebe
Bujur ras mejuah-juah
MUG


--- In [email protected], "Zoblok Entertainment" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Re: [tanahkaro] Prihatin Dengan Polling Waspada Online 

MJJ
Seperti apa pula bahasa karo betat-betat Pak Shodan ?
Bicara masalah "kini-Karo-n" di Kuala Namo sudah sangat luntur 
apakah ini sudah diperhatikan secara objective ? Takutnya kalimbubu 
sidapeti kam itu udah karo maya-maya alias kalak melayu deli ngaku 
jadi kalak karo.
Sentabi bukan aku ingin ngonggari silaman onggaren, cuman mungkin 
sesuatu yang kita simpan2 selama ini dan menjadi senjata masing2 
antara Karo Gunung dan Karo Jahe perlu kita diskusikan bersama di 
jambur ini dengan harapan ada kesamaan presepsi kedepannya. Inipun 
kalau berkenan yang tentunya kita bahas dengan kepala 
dingin.Masalahnya akupun sampai saat ini tidak tau apa yang menjadi 
perbedaan diantara karo gunung dan jahe.

Bujur

2008/12/10 shodan purba <[EMAIL PROTECTED]>

MJJ:
Seingat saya "namo" adalah bagian sungai atau danau yang tenang dan 
relatif 'dalam'. Namo, biasanya dicari oleh para pemancing.

Terlepas dari itu, seputar Kuala Namo adalah bagian wilayah yang 
didiami oleh mayoritas Karo. Cuma saja "kini-Karo-n" disana sudah 
sangat luntur. Pertengahan 80-an dalam acara 'nungkuni kata'  
seorang 'Mama' dari gunung  ke daerah Kuala Namo, pihak ayah saya 
almarhum sebagai anak beru, mengatur saja sendiri acara peradatan 
Karo-nya. Pihak perempuan, orang tua maupun tetua lain yang bahasa 
Karo-nya sudah betat-betat, masih tahu merga-beru mereka tetapi 
sudah sangat jauh dari adat istiadat Karo. 

Ethno revival yang sering di dengungkan MUG tidak punya base disana.

Bujur, sentabi,
Bp Nona Sampaguita

From: Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [email protected]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, December 10, 2008 5:06:30 AM
Subject: [tanahkaro] Prihatin Dengan Polling Waspada Online

Lokasi Bandara Kuala Namo yang terdapat di kabupaten Deli Serdang 
Sumatera Utara merupakan areal pemukiman Masyarakat Karo secara 
turun temurun dari dulu sampai saat ini, dimana dari namanya saja 
yaitu "Kuala" yang dalam bahasa Karo artinya pertemuan antara dua 
buah sungai dan "Namo" yang artinya adalah pulau kecil di tengah-
tengah sungai, maka sudahlah jelas nama daerah ini merupakan daerah 
asli orang Karo (namun ironis akhir-akhir ini "Kuala Namo" sering 
ditulis dimedia massa dengan nama "Kuala Namu") dan apakah ini 
sebuah cara untuk menghilangkan jejak agar daerah ini tidak lagi 
dikenal sebagai daerah karo oleh masyarakat umum yang tidak begitu 
mengenal Kuala Namo?

Foto: Screen Shot Polling Waspada Online Yang Memprihatinkan Itu

Di situs Harian Waspada salah satu koran nasional yang terbit di 
kota medan tepatnya di www.waspada. co.id terdapat beberapa polling 
dan salah satu diantaranya adalah polling tentang nama yang pantas 
untuk bandara Internasional Kuala Namo yang saat ini sedang dalam 
tahap pengerjaan dan beberapa tahun kedepan mungkin sudah dapat 
digunakan.

Dan yang patut disesalkan dari polling yang dibuat oleh yang katanya 
koran Nasional dan yang mengklaim dirinya sebagai media terbesar di 
Sumatera Utara ini adalah bahwa tidak ada satu orang Karopun yang 
disertakan didalam polling tersebut untuk masuk dalam kandidat 
bakalan nama Bandara yang kelak mungkin akan digunakan, meskipun 
seperti yang saya sebutkan tadi diatas bahwasannya daerah Kuala Namo 
sendiri adalah daerah orang Karo.

Dengan hal sepele semacam yang dibuat oleh Waspada Online ini bukan 
tidak mungkin kecemburuan sosial akan muncul ditengah-tengah 
masyarakat Sumatera Utara yang dikenal sebagai masyarakat pluralis 
dengan berbagai ragam suku dan agamanya yang selama ini hidup rukun, 
aman ,dan damai.

Bila kecemburuan sosial itu suatu saat kelak berada dalam posisi 
puncak, maka bukan tidak mungkin pula kerukunan antar suku yang 
selama ini terjalin dengan baik berubah menjadi hal terburuk dan 
tidak diinginkan oleh semua lapisan masyarakat.

Oleh sebab itu maka selayaknyalah sebuah media seperti halnya 
waspada online agar lebih teliti dalam menerbitkan sebuah polling 
dan salah satunya polling tentang bandara Kuala Namo ini, sebab 
media adalah sebuah alat yang dapat diibaratkan sebagai pisau 
bermata dua, dimana disatu sisi bisa menjadikan sebuah kebaikan, dan 
sebaliknya media juga malah bisa membuat suatu keburukan yang tidak 
diinginkan.

Sumber: http://karodalnet. blogspot. com/2008/ 12/prihatin- dengan-
polling- waspada-online. html

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community
 






Kirim email ke