Dimulai dari diri kita sendiri untuk bersikap tenang dan arif, tidak
mudah terpancing oleh isu-isu atau wacana yang ada di media. Mari kita
ciptakan SUMUT yang tertib, aman, dan damai sebagai cermin demokrasi
Indonesia.

Mejuah-juah,

On 2/7/09, Alexander Firdaust <[email protected]> wrote:
> sumber: http://hariansib.com/2009/02/06/yakin-sumut-tidak-akan-bentrok/
>
>
>
> Letjend (Purn) DR TB Silalahi, SH selaku salah satu tokoh senior
> masyarakat Sumut yang ada di Jakarta dan selaku Datuq Panglima Payung
> Negeri memberikan pernyataan resmi atas meninggalnya Ketua DPRD Sumut
> Abdul Aziz Angkat pada saat terjadinya aksi unjuk rasa elemen
> masyarakat pendukung Propinsi Tapanuli di DPRD Sumut, Selasa (3/2).
>
> Dalam satu wawancara dengan SCTV, TB Silalahi berkata:
>
> "Pertama-tama selaku tokoh yang termasuk senior dari Sumatera Utara,
> saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga saudara
> Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat yang meninggal saat berlangsungnya
> aksi unjuk rasa pendukung Propinsi Tapanuli di Gedung DPRD Sumut,"
>
> Peristiwa itu dinilainya sebagai akibat dari demokrasi yang boleh
> dikatakan terlalu cepat di Indonesia. Karena untuk demokrasi itu perlu
> pembentukan dan pendidikan untuk kesadaran masyarakat untuk dewasa
> berdemokrasi.
>
> Ia menyesalkan terjadinya aksi anarkis dalam penyampaian aspirasi itu.
> "Memang kalau terjadi aksi anarkis bisa saja brutal dan kejadian
> seperti itu bukan saja terjadi di Sumut tapi juga di seluruh Indonesia.
> Pada peristiwa itu kebetulan Ketua DPRDnya meninggal dan itulah yang
> sangat kita sesalkan karena itu adalah aib bagi demokrasi," katanya.
>
> Meski demikian, TB Silalahi sangat yakin suasana di Sumut tetap
> kondusif dan tidak terganggu akibat peristiwa itu. Karena masyarakat
> Sumut cerdas dan sangat dewasa sekali, karena dari dulu sudah banyak
> cobaan untuk mengganggu keharmonisan dan kondusifitas di Sumut. "Saya
> yakin dan bangga bahwa masyarakat Sumut tidak terpecah-pecah. Saya
> sering mengambil contoh bahwa kerukunan antara umat beragama yang
> terbaik itu ada di Sumatera Utara," bahkan sebagai contoh dari "bumi
> Pancasila", kata Pak TB.
>
> Menyikapi tentang munculnya semangat pemekaran seperti yang dituntut
> masyarakat Tapanuli, TB Silalahi menarik ke belakang semasa dirinya
> menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) RI.
>
> Pemekaran wilayah itu katanya sudah pernah diatur dalam UU 5/1974. Tapi
> selama 20 tahun Undang-Undang itu tidak pernah terlaksana dengan baik.
> Oleh karena itu dibuatlah Peraturan Pemerintah antara lain PP No 45
> yang menyebutkan titik berat pemekaran wilayah itu sebenarnya Kabupaten.
>
> Dalam PP itu sebenarnya Propinsi tidak dimekarkan, bahkan juga bukan
> untuk pemekaran Kabupaten. Kalau ada kabupaten yang dinilai tidak mampu
> bisa digabungkan agar lebih kuat. Contoh terjadi di Sulawesi dimana
> waktu itu ada 20 Kabupaten sesuai usul Gubernurnya, maka digabungkan
> menjadi 12 Kabupaten.
>
> Tapi belakangan, pemekaran dan pembentukan Propinsi semakin banyak
> terjadi. "Kemudian rakyat Tapanuli melihat, kenapa Propinsi lain itu
> bisa mekar kenapa kami tidak. Itu bisa juga dikatakan ikut-ikutan, tapi
> itu kan hak mereka juga dan itu diatur dalam Undang-Undang. Saya
> sendiri pada saat panitia pemekaran Protap datang kepada saya, saya
> menyatakan setuju. Gubernur pun setuju. Tapi dengan syarat sesuai UU,
> diteliti dulu Kabupaten mana saja yang ikut. Masyarakat, tokoh-tokohnya
> juga diajak bicara. Kalau sudah ada kesepakatan bersama baru diajukan
> ke pusat secara demokratis," jelas Pak TB.
>
> Menyikapi kejadian unjuk rasa Propinsi Tapanuli yang dinilai anarkis,
> menurut penilaian Pak TB hal itu mungkin dikarenakan sebagian rakyat,
> tokoh ormas, maupun panitia pemekaran yang dibentuk merasa proses
> pembentukan Propinsi Tapanuli itu terlalu lambat, terlalu lambat di
> daerah, terlalu lambat di pusat. Kemudian terjadilah informasi yang
> keliru di masyarakat hingga masyarakat menjadi emosional yang
> seharusnya itu tidak boleh terjadi. Dan kejadian-kejadian seperti itu
> pun sebenarnya banyak terjadi di berbagai daerah, bahkan kejadian
> seperti itu juga pernah terjadi sesama anggota DPR," katanya.
>
> Menurut Pak TB, kejadian-kejadian seperti itu bukan saja terjadi di
> Sum. Utara, wong di DPR pusat pun terjadi perkelahian antara wakil
> rakyat, dan inilah yang kita sesalkan.
>
> Pak TB pada sisi lain juga menyesalkan munculnya isu-isu yang tidak
> proporsional lagi yang mengatakan seolah-olah pembentukan Propinsi
> Tapanuli diisukan sebagai Propinsi Kristen, itu kan keliru. Karena
> sejak bertahun-bertahun di kawasan Tapanuli itu hubungan antara umat
> beragama pun berlangsung dengan sangat baik dan sangat kondusif,
> tegasnya.
>
> Tentang sikap Presiden SBY terhadap peristiwa itu, TB Silalahi selaku
> anggota Dewan Pertimbangan Presiden mengatakan, Presiden SBY sudah
> meminta agar kasus itu diusut tuntas secara hukum.
>
> "Saya juga sudah menghubungi Kapodasu Irjen Pol Nanan Soekarna. Menurut
> Kapolda, temuan sementara menurut dokter, meninggalnya Aziz Angkat
> adalah akibat penyakit jantung. Memang ada pemukulan tapi masih
> diteliti apakah pemukulan itu berakibat langsung kepada penyakit
> jantung, kumat atau menyebabkan stres kepada yang bersangkutan. Tapi
> itu belum selesai secara komprehensif. Yang jelas kasus itu harus
> diproses secara hukum.
>
> Pak TB mengatakan, dirinya yakin karena  masyarakat Sum. Utara dewasa sekali
> dan cerdas, sehingga tidak akan terjadi bentrok.
>
> "Saya yakin tidak akan terjadi Sara, karena masyarakat Sumatera Utara
> bangga tidak bisa dipecah-pecah dengan cara-cara seperti ini, bahkan
> sebagai contoh demokrasi itu, kerukunan di Sumatera Utara adalah
> sebagai contoh dari bumi Pancasila, saya selalu katakan itu," katanya
> sembari meminta pihak Kepolisian mengusut aksi kekerasan itu.
>
> Di bawah ini kami kutip wawancara SCTV dengan DR TB Silalahi sbb:
>
> Isu pemekaran wilayah membawa korban tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara
> Abdul Aziz Angkat'. Apakah sebenarnya yang diinginkan masyarakat
> Sumatera Utara dan benarkah apakah pemekaran wilayah merupakan jalan
> keluarnya. Untuk mengetahuinya kita akan berbincang dengan salah
> seorang tokoh masyarakat Sumatera Utara, yang juga anggota Dewan
> Pertimbangan Presiden TB Silalahi.
>
> Tanya: Peristiwa  yang terjadi di gedung DPRD Sumut disesalkan banyak pihak.
> Bagaimana Bapak memotret peristiwa ini?
>
> TB Silalahi: Pertama-tama, yang termasuk tokoh senior dari Sumatera
> Utara, saya mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada
> keluarga Abdul Aziz atas meninggalnya beliau dalam peristiwa itu.
> Peristiwa ini sebenarnya akibat dari pada demokrasi yang boleh
> dikatakan terlalu cepat karena demokrasi perlu pembentukan, mendidik
> masyarakat tentang kesadaran berdemokrasi.
>
> Tanya: Dalam konteks pemekaran Propinsi Tapanuli, apa yang terlalu cepat?
>
> TB Silalahi : Antara lain bahwa dalam menyampaikan aspirasinya, masyarakat
> kok anarki.
>
> Tanya: Bisa dikatakan brutal juga ya?
>
> TB Silalahi: Ya kalau anarki, ya ujung-ujungnya bisa brutal. Tapi, ini
> bukan terjadi hanya di Sumatera Utara, hampir di seluruh Indonesia
> terjadi kejadian seperti ini. Pada peristiwa ini kebetulan ketua
> DPRD-nya sampai meninggal. Dan, ini kita sesalkan dan merupakan aib
> demokrasi kita.
>
> Tanya: Artinya, dengan melihat masalah ini sekaligus menarik secara
> umum gambaran dari pemekaran wilayah, apakah setuju dengan konteks
> pemekaran wilayah saat seperti ini?
>
> TB Silalahi: Kalau boleh saya tarik ke belakang, pemekaran wilayah
> sebenarnya diatur UU No 5 tahun 1974. Waktu saya Menpan, 20 tahun UU
> ini tidak pernah terlaksana. Oleh sebab itu, coba saya hidupkan otonomi
> daerah itu. Kita bikin dulu Peraturan Pemerintah (PP) No 45. Dalam PP
> ini disebutkan bahwa titik berat dari pemekaran wilayah adalah
> kabupaten. Jadi sebenarnya propinsi tidak akan pernah kita mekarkan,
> kabupaten pun tidak dimekarkan. Tapi, justru diperkokoh, diperkuat.
> Kalau ada satu kabupaten tidak mampu memenuhi persyaratan untuk berdiri
> menjadi satu kabupaten, dikabulkan. Contohnya di Sulawesi Selatan.
>
> Tanya: Konteks Tapanuli, apakah Bapak TB Silalahi setuju dengan Propinsi
> Tapanuli?
>
> TB Silalahi: Mereka, masyarakat Tapanuli juga kan melihat daerah lain,
> kenapa propinsi lain kok bisa berdiri, kenapa kami kok tidak bisa. Ini
> boleh dikatakan ikut-ikutan. Tapi, juga hak mereka. Saya sendiri pada
> saat panitia menemui saya, saya setuju. Juga Gubernur setuju. Tapi
> dengan syarat pendekatannya harus demokratis, sesuai dengan UU,
> diteliti dulu berapa kabupaten yang mau ikut. Masyarakatnya juga harus
> diajak bicara, tokoh-tokohnya. Nah, ini sudah kesepakatan bersama
> diajukan ke Pusat secara demokratis.
>
> Tanya : Untuk konteks Tapanuli ini, pemekaran sejatinya untuk
> kesejahteraan masyarakat setempat. Lalu, ternyata berkembangnya sampai
> terjadi demo brutal. Di mana letak kesalahannya?
>
> TB Silalahi: Mungkin sebagian rakyat, tim atau pun organisasi yang
> dibentuk atau panitia dalam rangka pembentukan Propinsi Tapanuli itu
> merasa terlalu lambat, terlalu lambat di daerah, terlalu lambat di
> Pusat. Nah, terjadi informasi yang keliru kepada masyarakat, mereka pun
> jadi emosional yang seharusnya tidak boleh. Dan, masalah
> kejadian-kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di Sumatera Utara.
> Wong di DPR juga terjadi perkelahian antara pemimpin-pemimpin wakil
> rakyat. Ini sebenarnya yang kita sesalkan. Yang kedua, ternyata
> berkembang sekarang isu Propinsi Tapanuli tidak proporsional lagi.
> Dikatakan propinsi ini menjadi propinsi Kristen, ini kan keliru.
>
> Tanya: Sekarang sedang bergolak, namun bagaimana isu ini tidak mengarah ke
> SARA yang bisa saja dimanfaatkan segelintir oknum?
>
> TB Silalahi: Masyarakat Sumatera Utara itu dewasa sekali, cerdas. Dari
> dulu sudah banyak cobaan kepada masyarakat Sumatera Utara.
>
> Tanya: Jadi, bapak yakin ini tidak akan mengarah ke SARA?
>
> TB Silalahi: Saya yakin, karena masyarakat Sumatera Utara bangga bahwa
> mereka tidak bisa dipecah-pecah dengan cara-cara seperti ini. Malah
> sebagai contoh, selalu saya memberi contoh demokrasi, kerukunan di
> Sumut sebagai contoh dari bumi Pancasila.
>
> Tanya: Terakhir pak, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden
> khususnya di bidang keamanan, apa arahan Presiden untuk peristiwa ini?
>
> TB Silalahi: Ya jelas, beliau kalau ada kejadian seperti ini sudah
> diperintahkan aparat keamanan untuk mengusut sampai tuntas. Saya baru
> saja telepon Kapolda Sum. Utara Irjen Pol Nanan Soekarna perkembangan
> terakhir, sementara hasil temuan itu adalah sesuai dengan keterangan
> dokter adalah akibat penyakit jantung, tapi memang ada pemukulan.
> Sekarang masih diteliti apakah pemukulan itu ada berakibat langsung
> terhadap jantungnya kumat atau rusak ataukah pemukulan itu hanya
> memberikan dampak stress kepada yang bersangkutan. Hasil penelitian itu
> belum selesai secara komprehensif.
>
> Tanya: Artinya apakah yang bersalah harus diproses secara hukum?
>
> TB Silalahi : Oh, itu pasti.
>
> Komentar: saya pribadi yang saat ini tinggal dan berada di SUMUT merasa
> bahwa daerah ini tidak akan terjadi bentrok, dan untuk mendukung agar
> bentrok itu tidak terjadi , maka fungsi media massa sebagai alat penengah
> bagi masyarakat untuk menyampaikan berita yang sehat , dan bukan sebagai
> pemicu bara didalam sekam perlu digalakkan. Namun  pada kenyataanya saya
> perhatikan ada juga media yang pernah melakukan hal tersebut dimana isu-isu
> Agama sarat dengan pemberitaannya.
>
> Salam Mejuah Juah
>
> Karo Cyber Community
>
>
>
>


-- 
Alexander R. Surbakti

Kirim email ke