SUMUT tidak akan bentrok karena masih banyak orang-orang yang lebih intelektual 
dan masih banyak yang berpikir sehat. Secara tidak langsung banyak memang yang 
menghendaki SUMUT terjadi kekacauan tetapi selama masyarakata SUMUT masih 
berpikir logis disertai kebijaksanaan dalam mengambil sikap tentu hal yang 
tidak diinginkan dapat dihindarkan.
 
Masalah media massa yang membuat aksi propaganda itu syah-syah saja, namun 
dikembalikan kembali kepada pembaca apakah mau terpancing didalam manajemen 
konflik yang dibuat oleh oknum-oknum yang mempunyai kepentingan didalam nya.
 
Jika masing-masing elemen masyarakat saling menahan diri, saya jamin SUMUT 
aman. Jika ditanya tentang statement tentunya akan banyak hasilnya, namun yang 
terpenting adalah mencari solusinya bukan mencari kambing hitam. 
 
"Jangan terlalu banyak komentar, tetapi bekerjalah dengan hati dan lakukan 
dengan baik"


Me bage dage o teman kerinana,.... 
 
 
Terima Kasih,

  
 
 
Steven Amor Tarigan
 
" Isi dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia namun,
Tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan satu orang yang serakah ! "
 
" Janganlah Engkau berjalan didepanku karena aku tidak akan mengikutimu, 
Dan janganlah Engkau berjalan dibelakangku karena aku tidak akan memimpinmu, 
Tetapi berjalanlah disampingku karena Engkau akan menjadi temanku"

--- On Fri, 2/6/09, Alexander Firdaust <[email protected]> wrote:

From: Alexander Firdaust <[email protected]>
Subject: [tanahkaro] Yakin Sumut Tidak akan Bentrok
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Friday, February 6, 2009, 12:37 PM










sumber: http://hariansib. com/2009/ 02/06/yakin- sumut-tidak- akan-bentrok/


Letjend (Purn) DR TB Silalahi, SH selaku salah satu tokoh senior masyarakat 
Sumut yang ada di Jakarta dan selaku Datuq Panglima Payung Negeri memberikan 
pernyataan resmi atas meninggalnya Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat pada saat 
terjadinya aksi unjuk rasa elemen masyarakat pendukung Propinsi Tapanuli di 
DPRD Sumut, Selasa (3/2).
Dalam satu wawancara dengan SCTV, TB Silalahi berkata:
“Pertama-tama selaku tokoh yang termasuk senior dari Sumatera Utara, saya 
menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga saudara Ketua DPRD 
Sumut Abdul Aziz Angkat yang meninggal saat berlangsungnya aksi unjuk rasa 
pendukung Propinsi Tapanuli di Gedung DPRD Sumut,”
Peristiwa itu dinilainya sebagai akibat dari demokrasi yang boleh dikatakan 
terlalu cepat di Indonesia. Karena untuk demokrasi itu perlu pembentukan dan 
pendidikan untuk kesadaran masyarakat untuk dewasa berdemokrasi.
Ia menyesalkan terjadinya aksi anarkis dalam penyampaian aspirasi itu. “Memang 
kalau terjadi aksi anarkis bisa saja brutal dan kejadian seperti itu bukan saja 
terjadi di Sumut tapi juga di seluruh Indonesia. Pada peristiwa itu kebetulan 
Ketua DPRDnya meninggal dan itulah yang sangat kita sesalkan karena itu adalah 
aib bagi demokrasi,” katanya.
Meski demikian, TB Silalahi sangat yakin suasana di Sumut tetap kondusif dan 
tidak terganggu akibat peristiwa itu. Karena masyarakat Sumut cerdas dan sangat 
dewasa sekali, karena dari dulu sudah banyak cobaan untuk mengganggu 
keharmonisan dan kondusifitas di Sumut. “Saya yakin dan bangga bahwa masyarakat 
Sumut tidak terpecah-pecah. Saya sering mengambil contoh bahwa kerukunan antara 
umat beragama yang terbaik itu ada di Sumatera Utara,” bahkan sebagai contoh 
dari “bumi Pancasila”, kata Pak TB.
Menyikapi tentang munculnya semangat pemekaran seperti yang dituntut masyarakat 
Tapanuli, TB Silalahi menarik ke belakang semasa dirinya menjabat Menteri 
Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) RI.
Pemekaran wilayah itu katanya sudah pernah diatur dalam UU 5/1974. Tapi selama 
20 tahun Undang-Undang itu tidak pernah terlaksana dengan baik. Oleh karena itu 
dibuatlah Peraturan Pemerintah antara lain PP No 45 yang menyebutkan titik 
berat pemekaran wilayah itu sebenarnya Kabupaten.
Dalam PP itu sebenarnya Propinsi tidak dimekarkan, bahkan juga bukan untuk 
pemekaran Kabupaten. Kalau ada kabupaten yang dinilai tidak mampu bisa 
digabungkan agar lebih kuat. Contoh terjadi di Sulawesi dimana waktu itu ada 20 
Kabupaten sesuai usul Gubernurnya, maka digabungkan menjadi 12 Kabupaten.
Tapi belakangan, pemekaran dan pembentukan Propinsi semakin banyak terjadi. 
“Kemudian rakyat Tapanuli melihat, kenapa Propinsi lain itu bisa mekar kenapa 
kami tidak. Itu bisa juga dikatakan ikut-ikutan, tapi itu kan hak mereka juga 
dan itu diatur dalam Undang-Undang. Saya sendiri pada saat panitia pemekaran 
Protap datang kepada saya, saya menyatakan setuju. Gubernur pun setuju. Tapi 
dengan syarat sesuai UU, diteliti dulu Kabupaten mana saja yang ikut. 
Masyarakat, tokoh-tokohnya juga diajak bicara. Kalau sudah ada kesepakatan 
bersama baru diajukan ke pusat secara demokratis,” jelas Pak TB.
Menyikapi kejadian unjuk rasa Propinsi Tapanuli yang dinilai anarkis, menurut 
penilaian Pak TB hal itu mungkin dikarenakan sebagian rakyat, tokoh ormas, 
maupun panitia pemekaran yang dibentuk merasa proses pembentukan Propinsi 
Tapanuli itu terlalu lambat, terlalu lambat di daerah, terlalu lambat di pusat. 
Kemudian terjadilah informasi yang keliru di masyarakat hingga masyarakat 
menjadi emosional yang seharusnya itu tidak boleh terjadi. Dan 
kejadian-kejadian seperti itu pun sebenarnya banyak terjadi di berbagai daerah, 
bahkan kejadian seperti itu juga pernah terjadi sesama anggota DPR,” katanya.
Menurut Pak TB, kejadian-kejadian seperti itu bukan saja terjadi di Sum. Utara, 
wong di DPR pusat pun terjadi perkelahian antara wakil rakyat, dan inilah yang 
kita sesalkan.
Pak TB pada sisi lain juga menyesalkan munculnya isu-isu yang tidak 
proporsional lagi yang mengatakan seolah-olah pembentukan Propinsi Tapanuli 
diisukan sebagai Propinsi Kristen, itu kan keliru. Karena sejak 
bertahun-bertahun di kawasan Tapanuli itu hubungan antara umat beragama pun 
berlangsung dengan sangat baik dan sangat kondusif, tegasnya.
Tentang sikap Presiden SBY terhadap peristiwa itu, TB Silalahi selaku anggota 
Dewan Pertimbangan Presiden mengatakan, Presiden SBY sudah meminta agar kasus 
itu diusut tuntas secara hukum.
“Saya juga sudah menghubungi Kapodasu Irjen Pol Nanan Soekarna. Menurut 
Kapolda, temuan sementara menurut dokter, meninggalnya Aziz Angkat adalah 
akibat penyakit jantung. Memang ada pemukulan tapi masih diteliti apakah 
pemukulan itu berakibat langsung kepada penyakit jantung, kumat atau 
menyebabkan stres kepada yang bersangkutan. Tapi itu belum selesai secara 
komprehensif. Yang jelas kasus itu harus diproses secara hukum.
Pak TB mengatakan, dirinya yakin karena masyarakat Sum. Utara dewasa sekali dan 
cerdas, sehingga tidak akan terjadi bentrok.
“Saya yakin tidak akan terjadi Sara, karena masyarakat Sumatera Utara bangga 
tidak bisa dipecah-pecah dengan cara-cara seperti ini, bahkan sebagai contoh 
demokrasi itu, kerukunan di Sumatera Utara adalah sebagai contoh dari bumi 
Pancasila, saya selalu katakan itu,” katanya sembari meminta pihak Kepolisian 
mengusut aksi kekerasan itu.
Di bawah ini kami kutip wawancara SCTV dengan DR TB Silalahi sbb:
Isu pemekaran wilayah membawa korban tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul 
Aziz Angkat‘. Apakah sebenarnya yang diinginkan masyarakat Sumatera Utara dan 
benarkah apakah pemekaran wilayah merupakan jalan keluarnya. Untuk 
mengetahuinya kita akan berbincang dengan salah seorang tokoh masyarakat 
Sumatera Utara, yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden TB Silalahi.
Tanya: Peristiwa yang terjadi di gedung DPRD Sumut disesalkan banyak pihak. 
Bagaimana Bapak memotret peristiwa ini?
TB Silalahi: Pertama-tama, yang termasuk tokoh senior dari Sumatera Utara, saya 
mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga Abdul Aziz atas 
meninggalnya beliau dalam peristiwa itu. Peristiwa ini sebenarnya akibat dari 
pada demokrasi yang boleh dikatakan terlalu cepat karena demokrasi perlu 
pembentukan, mendidik masyarakat tentang kesadaran berdemokrasi.
Tanya: Dalam konteks pemekaran Propinsi Tapanuli, apa yang terlalu cepat?
TB Silalahi : Antara lain bahwa dalam menyampaikan aspirasinya, masyarakat kok 
anarki.
Tanya: Bisa dikatakan brutal juga ya?
TB Silalahi: Ya kalau anarki, ya ujung-ujungnya bisa brutal. Tapi, ini bukan 
terjadi hanya di Sumatera Utara, hampir di seluruh Indonesia terjadi kejadian 
seperti ini. Pada peristiwa ini kebetulan ketua DPRD-nya sampai meninggal. Dan, 
ini kita sesalkan dan merupakan aib demokrasi kita.
Tanya: Artinya, dengan melihat masalah ini sekaligus menarik secara umum 
gambaran dari pemekaran wilayah, apakah setuju dengan konteks pemekaran wilayah 
saat seperti ini?
TB Silalahi: Kalau boleh saya tarik ke belakang, pemekaran wilayah sebenarnya 
diatur UU No 5 tahun 1974. Waktu saya Menpan, 20 tahun UU ini tidak pernah 
terlaksana. Oleh sebab itu, coba saya hidupkan otonomi daerah itu. Kita bikin 
dulu Peraturan Pemerintah (PP) No 45. Dalam PP ini disebutkan bahwa titik berat 
dari pemekaran wilayah adalah kabupaten. Jadi sebenarnya propinsi tidak akan 
pernah kita mekarkan, kabupaten pun tidak dimekarkan. Tapi, justru diperkokoh, 
diperkuat. Kalau ada satu kabupaten tidak mampu memenuhi persyaratan untuk 
berdiri menjadi satu kabupaten, dikabulkan. Contohnya di Sulawesi Selatan.
Tanya: Konteks Tapanuli, apakah Bapak TB Silalahi setuju dengan Propinsi 
Tapanuli?
TB Silalahi: Mereka, masyarakat Tapanuli juga kan melihat daerah lain, kenapa 
propinsi lain kok bisa berdiri, kenapa kami kok tidak bisa. Ini boleh dikatakan 
ikut-ikutan. Tapi, juga hak mereka. Saya sendiri pada saat panitia menemui 
saya, saya setuju. Juga Gubernur setuju. Tapi dengan syarat pendekatannya harus 
demokratis, sesuai dengan UU, diteliti dulu berapa kabupaten yang mau ikut. 
Masyarakatnya juga harus diajak bicara, tokoh-tokohnya. Nah, ini sudah 
kesepakatan bersama diajukan ke Pusat secara demokratis.
Tanya : Untuk konteks Tapanuli ini, pemekaran sejatinya untuk kesejahteraan 
masyarakat setempat. Lalu, ternyata berkembangnya sampai terjadi demo brutal. 
Di mana letak kesalahannya?
TB Silalahi: Mungkin sebagian rakyat, tim atau pun organisasi yang dibentuk 
atau panitia dalam rangka pembentukan Propinsi Tapanuli itu merasa terlalu 
lambat, terlalu lambat di daerah, terlalu lambat di Pusat. Nah, terjadi 
informasi yang keliru kepada masyarakat, mereka pun jadi emosional yang 
seharusnya tidak boleh. Dan, masalah kejadian-kejadian seperti ini bukan hanya 
terjadi di Sumatera Utara. Wong di DPR juga terjadi perkelahian antara 
pemimpin-pemimpin wakil rakyat. Ini sebenarnya yang kita sesalkan. Yang kedua, 
ternyata berkembang sekarang isu Propinsi Tapanuli tidak proporsional lagi. 
Dikatakan propinsi ini menjadi propinsi Kristen, ini kan keliru.
Tanya: Sekarang sedang bergolak, namun bagaimana isu ini tidak mengarah ke SARA 
yang bisa saja dimanfaatkan segelintir oknum?
TB Silalahi: Masyarakat Sumatera Utara itu dewasa sekali, cerdas. Dari dulu 
sudah banyak cobaan kepada masyarakat Sumatera Utara.
Tanya: Jadi, bapak yakin ini tidak akan mengarah ke SARA?
TB Silalahi: Saya yakin, karena masyarakat Sumatera Utara bangga bahwa mereka 
tidak bisa dipecah-pecah dengan cara-cara seperti ini. Malah sebagai contoh, 
selalu saya memberi contoh demokrasi, kerukunan di Sumut sebagai contoh dari 
bumi Pancasila.
Tanya: Terakhir pak, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden khususnya di 
bidang keamanan, apa arahan Presiden untuk peristiwa ini?
TB Silalahi: Ya jelas, beliau kalau ada kejadian seperti ini sudah 
diperintahkan aparat keamanan untuk mengusut sampai tuntas. Saya baru saja 
telepon Kapolda Sum. Utara Irjen Pol Nanan Soekarna perkembangan terakhir, 
sementara hasil temuan itu adalah sesuai dengan keterangan dokter adalah akibat 
penyakit jantung, tapi memang ada pemukulan. Sekarang masih diteliti apakah 
pemukulan itu ada berakibat langsung terhadap jantungnya kumat atau rusak 
ataukah pemukulan itu hanya memberikan dampak stress kepada yang bersangkutan. 
Hasil penelitian itu belum selesai secara komprehensif.
Tanya: Artinya apakah yang bersalah harus diproses secara hukum?
TB Silalahi : Oh, itu pasti.

Komentar: saya pribadi yang saat ini tinggal dan berada di SUMUT merasa bahwa 
daerah ini tidak akan terjadi bentrok, dan untuk mendukung agar bentrok itu 
tidak terjadi , maka fungsi media massa sebagai alat penengah bagi masyarakat 
untuk menyampaikan berita yang sehat , dan bukan sebagai pemicu bara didalam 
sekam perlu digalakkan. Namun  pada kenyataanya saya perhatikan ada juga media 
yang pernah melakukan hal tersebut dimana isu-isu Agama sarat dengan 
pemberitaannya.

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community

















      

Kirim email ke