MJJ:
Saya baca tulisan KKG dibawah secara sekilas. Esensinya beberapa kali kita 
diskusikan di milis kita ini. Saya rasanya belum bergeser dari kesimpulan 
sebelumnya: "TANGISAN KWIK KIAN GIE TIDAK TEPAT WAKTU ALIAS SUDAH KADUNG." 
Dikatakan kadung, karena kita mau kembalikan semangat BERDIKARI Bung Karo yang 
kita jungkirbalikkan sejak pertengahan 60an, pada abad milenium ini. Pada era 
globalisasi ini, negara praktis tanpa batas, beda PDB dengan PNB hanya ada pada 
tataran akademis, praktis tidak ada suatu bangsa, bahkan individu, yang dapat 
berdiri diatas kaki sendiri. Semua memiliki saling ketergantungan.

Kalau perjuangan BERDIKARI Bung Karno kita 'paksa' sampai kita 'siap' seperti 
China, (kran Berdikari, ekonomi dibuka) boleh jadi kita juga menjadi negara 
semi kalau pun tidak adi daya sekarang ini.  Tetapi sekarang, siapakah yang 
mampu melawan kekuatan dahsyat kapitalisme? Tidakkah kapitalisme

itu merupakan refleksi karakter dasar manusia, memanfatkan "talenta" yang ada 
pada masing-masing dan sekelilingnya? China juga berhasil, karena masyarakatnya 
memang memiliki semangat juang untuk meng-uangkan segala yang ada di 
lingkungannya, apalagi ditempa selama masa yang cukup lama oleh pemerintahan 
yang disiplin.

Ekonomi Kerakyatan? Adakah cendikiawan yang mampu menerjemahkan slogan politik 
ini? Apakah maksudnya, membiarkan ladang-ladang minyak, tambang-tambang batu 
bara atau emas, kepada pendulang-pendulang individu tanpa pengaturan? Kalau 
dibuatkan pengaturan, siapakah yang diberi lisence dan siapa yang permintaan 
izin nambangnya harus ditolak? Apakah mau dibuat kriteria yang paling sedikit 
"talenta" yang dikuasainya yang akan diberi?   Saya rasa cendikiwan 
non-politikus sajapun akan memerlukan waktu yang lama menjabarkan ekonomi pro 
rakyat yang sering didengung-dengungkan para politikus.

Sentabi,
Bp Nona Sampaguita


________________________________
From: kontan tarigan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, April 17, 2009 9:58:47 PM
Subject: [komunitaskaro] Seminar Krisis Ekonomi Indonesia : Keberhasilan 53 
Tahun Mafia Berkeley? (Bagian II)





Senin, 06 April 09 
APA HASIL AKHIR DARI KEBIJAKAN EKONOMI OLEH TIM EKONOMI PEMERINTAH YANG 
SENANTIASA TERDIRI DARI SATU KELOMPOK MASHAB PIKIRAN, DAN BERGANTUNG PADA 
KAPITALISME PARTIKELIR SERTA KEPERCAYAAN MUTLAK PADA KEAMPUHAN MEKANISME PASAR? 

Dimulai dengan pertemuan yang ditulis sangat ilustratif, dan kebijakan yang 
terus menerus sangat liberal atas pendiktean 3 lembaga keuangan internasional, 
maka saat ini, setelah hampir 64 tahun merdeka, kondisi bangsa kita dapat 
digambarkan sebagai berikut : 


• Selama Orde Baru PDB memang meningkat dengan rata-rata 7% per tahun, yang 
sangat dibanggakan oleh Tim Ekonomi dan diagungkan oleh trio lembaga keuangan 
internasional dan oleh para korporatokrat di seluruh dunia. 

PDB adalah penjumlahan dari seluruh produksi barang dan jasa di Indonesia, 
tanpa mempedulikan bagaimana pembagiannya. Maka sekedar sebagai ilustrasi, 
misalnya PDB yang dalam tahun tertentu mencapai Rp. 5.000 trilyun, sangat 
mungkin dibentuk oleh 99% dari produsen di Indonesia, yang sebagian besarnya 
pengusaha asing. 

Jadi kalau perusahaan tambang asing mengeduk sumber daya mineral yang sangat 
mahal harganya, dan pemerintah hanya memperoleh royalti dan pajak, nilai dari 
sumber daya mineral yang sangat mahal itu milik perusahaan tambang asing, 
tetapi di dalam statistik kita masuk ke dalam Produk Domestik Bruto. Kalau yang 
milik perusahaan asing dikeluarkan, namanya Produk Nasional Bruto (PNB). PNB 
tidak pernah dipakai sebagai indikator ekonomi yang penting oleh Tim Ekonomi 
Pemerintah yang memegang kekuasaan dan kendali ekonomi sampai saat ini. 

Pada waktu mineral yang sangat besar nilainya itu diboyong ke negerinya, dalam 
statistik kita dicatat sebagai ekspor yang merupakan komponen dari PDB. 

Bagaimana pembagian dari PDB yang terus menerus meningkat itu? Walaupun tidak 
dapat dijadikan gambaran yang akurat tentang pembagiannya, sebagai indikasi 
dapat dikemukakan sebagai berikut. 

Data tahun 2003 menunjukkan bahwa jumlah seluruh perusahaan 40,199 juta. Yang 
berskala besar 2.020 perusahaan atau 0,01%. Yang tergolong UKM sebanyak 40,197 
juta perusahaan atau 99,99%. 

Andil UKM yang 99,99% dari seluruh perusahaan dalam pembentukan PDB hanya 
56,7%, sedangkan Usaha berskala besar dan raksasa yang hanya 0,01% itu andilnya 
sebesar 43,3% 

Andil UKM dalam penyerapan tenaga kerja sebesar 99,74%. Alangkah tidak adilnya, 
karena sekian banyak orang hanya terlibat dalam UKM yang tentunya pendapatannya 
juga minimal.
  
• Negara kita yang kaya dengan minyak telah menjadi importir neto minyak untuk 
kebutuhan bangsa kita. 90% dari minyak kita dieksploitasi oleh 
perusahaan-perusaha an minyak asing. Pembagian hasil minyak yang prinsipnya 85% 
untuk Indonesia dan 15% untuk kontraktor asing kenyataannya sampai sekarang 70% 
untuk bangsa Indonesia dan 30% untuk perusahaan asing. Minyak milik rakyat 
Indonesia harus dijual kepada rakyat yang memilikinya dengan harga yang 
ditentukan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX); tidak oleh para pemimpin 
bangsa sesuai dengan kepatutan dan daya beli rakyat, seperti yang direncanakan 
sejak semula oleh para pendiri bangsa kita.
  
• Negara yang dikaruniai dengan hutan yang demikian luas dan lebatnya sehingga 
menjadikannya negara produsen eksportir kayu terbesar di dunia dihadapkan pada 
hutan-hutan yang gundul dan dana reboisasi yang praktis nihil karena dikorup. 
Walaupun telah gundul, masih saja terjadi penebangan liar yang diselundupkan ke 
luar negeri dengan nilai sekitar 2 milyar dollar AS.
  
• Sumber daya mineral kita dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab dengan 
manfaat terbesar jatuh pada kontraktor asing dan kroni Indonesianya secara 
individual. Rakyat yang adalah pemilik dari bumi, air dan segala kekayaan alam 
yang terkandung di dalamnya memperoleh manfaat yang sangat minimal.
  
• Ikan kita dicuri oleh kapal-kapal asing yang nilainya diperkirakan antara 3 
sampai 4 milyar dollar AS.
  
• Hampir semua produk pertanian diimpor.
  
• Pasir kita dicuri dengan nilai yang minimal sekitar 3 milyar dollar AS.
  
• Republik Indonesia yang demikian besarnya dan sudah 62 tahun merdeka dibuat 
lima kali bertekuk lutut harus membebaskan pulau Batam dari pengenaan pajak 
pertambahan nilai setiap kali batas waktu untuk diberlakukannya pengenaan PPN 
sudah mendekat, dan sekarang telah menjadi Kawasan Bebas Total buat 
negara-negara lain, tetapi terutama untuk Singapura, sehingga bersama-sama 
dengan pulau Bintan dan Karimun praktis merupakan satelitnya negara lain. Tim 
Ekonomi menjadikan tidak datangnya investor asing sebagai ancaman untuk semua 
sikap yang sedikit saja mencerminkan pikiran yang mandiri.
  
• Industri-industri yang kita banggakan hanyalah industri manufaktur yang 
sifatnya industri tukang jahit dan perakitan yang bekerja atas upah kerja yang 
mendekati perbudakan seperti yang dapat kita saksikan dalam film "The New 
Rulers of the World" buatan John Pilger.
  
• Pembangunan dibiayai dengan utang luar negeri melalui organisasi yang bernama 
IGGI/CGI yang penggunaannya diawasi oleh lembaga-lembaga internasional. Sejak 
tahun 1967 setiap tahunnya pemerintah mengemis utang dari IGGI/CGI sambil 
dimintai pertanggung jawaban tentang bagaimana dirinya mengurus Indonesia? 
Mulai tahun lalu CGI memang dibubarkan, tetapi pembubaran itu hanyalah 
pura-pura. Kenyataannya APBN kita masih sangat tergantung pada utang luar 
negeri dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan negara-negara anggota CGI 
terpenting.
  
• Utang dipicu terus tanpa kendali sehingga sudah lama pemerintah hanya mampu 
membayar cicilan utang pokok yang jatuh tempo dengan utang baru atau dengan 
cara gali lubang tutup lubang. Pembayaran untuk cicilan utang pokok dan 
bunganya sudah mencapai 25% atau lebih dari APBN setiap tahunnya.
  
• Dalam pemerintahan Megawati 3 jet tempur AS tipe F-18 mengepung 1 F-16 di 
atas Bawean Jawa Timur tanpa izin memasuki wilayah RI, yang mengawal kapal 
perang induk yang juga masuk ke dalam wilayah RI tanpa izin. Ketika pilot kita 
memperingatkan, pesawat F-18 mengeluarkan senjatanya. Setelah pilot kita 
mengatakan tidak mau baku tembak, dan hanya mau menjelaskan, dijawab singkat 
oleh pilot AS, bahwa setelah mendarat dan pada waktunya, dia akan minta izin. 
Minta izin setelah kejadian. Sungguh pelecehan dan penghinaan terang-terangan 
dan luar biasa, karena TNI kita memang hanya mempunyai F-16 ketika itu.
  
• Dalam pemerintahan SBY-JK, kapal nelayan Indonesia tidak sengaja tersesat ke 
dalam wilayah Auatralia. Seluruh isi kapal dipindahken ke geladak kapal perang 
Australia. Kapal nelayan kita digranat berkali-kalik, dan setiap granat 
meledak, orang-orang Australia yang ada di geladak kapal itu bersorak sorai, 
dan para nelayan kita menangis. Tragedi ini berlangsung terus sampai kapal 
nelayan Indonesia tenggelam. Adegan ini ditayangkan di TV Indonesia tanpa 
pemerintahnya berdaya melindungi atau membela para nelayan kita yang naas dan 
sangat mengenaskan itu.
  
• Dalam pemerintahan Megawati telah dirintis membangun industri pertahanan 
dengan 4 industri strategis yang sudah kita miliki. Study-nya dilakukan oleh 
experts China yang dibiayai oleh pemerintah China sebagai hibah. Mereka bekerja 
keras dan sudah praktis selesai dengan studi tahap pertama. Mereka mengatakan 
bahwa PT Dirgantara mesin-mesinnya sangat bagus, bisa dipakai untuk membuat 
banyak hal. Dengan PT PAL, PINDAD, PT Dirgantara dan Karakatu Steel, Indonesia 
sudah bisa mulai membangun industri pertahanan yang sangat lumayan tanpa 
investasi lagi. 

Begitu pemerintahan diganti oleh pemerintahan SBY-Kalla, Kepala dari Executing 
Agency-nya, Menteri BPPT memanggil saya dan wakil Dubes China, Tan Wei Wen 
untuk menjelaskan bagaimana riwayatnya. Setelah mendengarkan ceritera kami, 
seorang Deupty muda hanya memberi komentar : "Why China, why not USA?". 
Habislah riwayat perintisan ini, dan sekarang Krakatau Steel mau dijual. Entah 
apa nasibnya PT Dirgantara. Yang jelas Indonesia tidak mempunyai industri 
pertahanan yang memadai. 
POKOK-POKOK KEBIJAKAN DALAM MENGHADAPI KRISIS GLOBAL 

Sejak tahun 2008 meledak krisis balon derivatif keuangan di AS yang demikian 
besar dan demikian dahsyatnya, sehingga seluruh dunia sekarang ini sedang 
mengalami proses yang menyakitkan dan sangat tidak menentu. 

Kondisi ekonomi Indonesia seperti yang tergambarkan di atas tentu tidak dapat 
menghadapinya dengan mantab, karena tidak ada dana, Kecuali itu, rupanya 
kondisi keuangan negara juga jauh lebih parah daripada yang diketahui oleh 
masyarakat. 

Maka tindakan-tindakanny a hanya sporadis dan compang-camping. Mari kita 
telusuri sebagai berikut. 


• Rp. 60 trilyun APBN 2008 tidak dapat diserap yang berarti kontraktif. Tapi 
digembar-gemborkan tahun 2009 akan ada stimulus fiskal Rp. 73,1 trilyun, yang 
per saldo hanya Rp. 13,1 trilyun saja atau US$ 1,062 milyar (kurs Rp 12.000 per 
dollar AS). Ini hanya 0,19% saja dari PDB yang Rp. 7.000 trilyun. Katanya akan 
bisa dicapai macam macam. 

AS yang jumlah stimuls fiskalnya hampir 10% dari PDB-nya, Presiden Obama 
ngomongnya tidak sesombong Tim Ekonomi kita. Dengan jumlah stimulus fiskal 
sebesar US$ 900 milyar, Presiden Obama hanya berani mengatakan akan menciptakan 
lapangan kerja sebanyak 3 sampai 4 juta orang dalam 2 sampai 3 tahun ke depan. 
Pemerintah Indonesia dengan stimulus fiskal neto sebesar Rp. US$ 1,062 milyar 
mengatakan akan menciptakan lapangan kerja sebesar 3 juta orang juga, yang 
tidak dirinci selama berapa tahun. Mungkin dalam setahun?
  
• Dikatakan cadangan devisa cukup banyak, tetapi menerbitkan obligasi dalam 
dollar dengan suku bunga antara 10 sampai 11% dalam denominasi dollar AS. Kalau 
kita menaruh uang kita dalam deposito rupiah di bank dalam negeri, maksimal 
hanya mendapat 9%.
  
• Sekarang Gubernur BI mengatakan rupiah akan stabil, karena akan mendapat 
rembesan dollar AS dari uang yang dicetak secara besar-besaran oleh pemerintah 
AS. Lho, mereka selalu menganggap mencetak uang adalah kebijakannya orang yang 
tidak waras. Sekarang mengandalkan pencetakan uang oleh pemerintah AS untuk 
menstabilkan nilai rupiah. 

Di AS sendiri dan di Eropa kebijakan dan tindakan ini dinilai sangat 
kontroversial dan menyulut perdebatan yang sedang berlangsung.
  
• Dalam waktu dua bulan, nilai rupiah merosot dari sekitar Rp. 9.000 menjadi 
Rp. 12.000 atau 33%. Di tahun 1969 1 dollar = Rp. 378. Thai Bath ketika itu 20 
per US$. Sekarang Thai Bath 36 per US$, tapi rupiah sudah 12.000 per US$. 

Dalam kurun waktu yang sama, Thai Bath terdepresiasi sebesar 80%, tetapi rupiah 
terdepresasi sebanyak 3.075%. 
Inilah secara singkat hasil dari kebijakan Tim Ekonomi yang kiprahnya selalu 
didasarkan atas Fundamentalisme Mekanisme Pasar, dan anti BUMN serta anti 
Campur Tangan Pemerintah yang mencukupi. 

GURUNYA SUDAH KENCING BERDIRI, MURIDNYA MASIH TIDUR; TIDAK MAU MENCETAK UANG 
SEPERTI LARRY SUMMERS, TIM GEITHNER DAN BERNANKE? 

Sebelumnya Robert Mugabe, Swiss dan Inggris sudah mencetak uang juga. 

Robert Mugabe yang mencetak uang diikuti oleh Swiss, Inggris dan sekarang oleh 
Amerika Serikat. Indonesia tidak ikut-ikutan, tetapi senang dengan prospek akan 
mendapat rembesan dollar AS hasil cetakan ini supaya rupiah diperkuat nilainya. 
Negara bangsa apa sih Indonesia ini di mata para penguasa ekonomi kita? 

Menjadi sangat menarik juga, apa sikap mereka sekarang, ketika di AS, Eropa dan 
negara-negara Barat yang sumber dan pusatnya kapitalisme partikelir dan 
mekanisme pasar ternyata tidak alergi dan tidak mengharamkan BUMN, tidak 
mengharamkan nasionalisasi dan juga tidak mengharamkan campur tangan pemerintah 
yang mendalam? 

Newsweek tanggal 2 Maret 2009 memuat cover story yang berjudul “The Reeducation 
of Larry Summers”. Oleh penulisnya, Michael Hirsh dan Evan Thomas, Larry 
Summers diminta untuk menjelaskan bagaimana dia telah berubah? Bagaimana dia 
mengedukasi dirinya sendiri sejak era bebas-bebasan di tahun sembilan puluhan, 
di mana Summers menjadi bagian dari pemerintahan dengan dunia keuangannya yang 
menjadi sangat liar, lepas kendali dan menjadi malapetaka seperti ini? 

Summers ditanya bagaimana dia mengedukasi dirinya sendiri karena seperti kita 
ketahui, dengan apa yang dinamakan bail out plan yang mendekati US$ 900 milyar, 
Larry Summers (Ketua Economic Council Presiden) dan Timothy Geithner (Menteri 
Keuangan) tidak mempunyai hambatan sedikitpun untuk menjadikan perusahaan 
swasta menjadi BUMN 100%. 

Larry Summers menjawabnya dengan mengutip Keynes yang pernah mengatakan : 
“Kalau situasi dan kondisi berubah, saya mengubah pendapat saya.” 

Pernyataan ini tentu dapat dibenarkan, walaupun sulit dipahami karena dia di 
masa lalu dalam kedudukan yang ikut membiarkan menjadi hancur leburnya dunia 
keuangan sekarang ini, karena selalu hakul yakin akan kemampuan mekanisme pasar 
dan kapitalisme partikelir. Sekarang terpaksa harus menasionalisasi banyak 
perusahaan swasta besar dan harus banyak melakukan regulasi, bahkan mencetak 
uang. 


RELEVANSINYA LARRY SUMMERS BUAT INDONESIA 

Mengapa Larry Summers relevan buat Indonesia? Karena dia sebagai Menteri 
Keuangannya Presiden Clinton demikian besar perannya memaksa Indonesia menuruti 
apa saja yang dikatakan oleh IMF. Saya sendiri yang harus berhadapan dengannya, 
karena ketika itu saya menjabat Menko EKUIN yang sangat menentang kebijakan 
tertentu dari IMF. 

Larry Summers yang didampingi oleh Tim Geithner beserta 4 staf lainnya di tahun 
2000 menegur saya sebagai Menko EKUIN, mengapa saya selalu saja tidak setuju 
dengan kebijakan IMF yang sangat mendasarkan diri pada mekanisme pasar. Mengapa 
saya menentang kebijakan IMF dalam hal obligasi rekapitalisasi perbankan dan 
cara menghitung CAR beserta penyelesaiannya? 

Beliau dan staf mengetahui semua pikiran dan kebijakan saya secara mendetil 
yang tidak mungkin diketahui kalau tidak mengikuti rapat-rapat yang saya 
pimpin. Dan Larry Summers beserta staf tidak pernah hadir. Apa artinya? Ada 
agen mereka yang pejabat tinggi Indonesia mengikuti rapat-rapat koordinasi 
Menko EKUIN-nya. 

PAUL KRUGMAN DAN IMF 

Tentang IMF ini, dalam bukunya terbaru yang berjudul “The Return of Depression 
Economics and the Crisis of 2008” di halaman 115 Paul Krugman menulis tentang 
kebijakan IMF menangani krisis di Indonesia tahun 1997 sebagai berikut : 

“Banyak orang berpendapat bahwa sebenarnya IMF dan Departemen Keuangan Amerika 
Serikat yang de facto mendiktekan kebijakan IMF yang menyebabkan krisis, atau 
paling tidak salah menanganinya (mishandled) yang membuat krisis semakin parah. 
(KKG : Menteri Keuangan AS ketika itu Larry Summers). Apakah mereka benar? 

Marilah kita mulai dengan bagian yang termudah : dua hal yang IMF jelas 
melakukan kesalahan. 

Pertama, ketika IMF diminta bantuannya oleh Thailand, Korea dan Indonesia, 
mereka segera mendiktekan kebijakan fiskal yang ketat, yaitu menaikkan pajak 
dan mengurangi pengeluaran pemerintah untuk menghindari defisit anggaran. 
Sangat sulit dimengerti mengapa IMF melakukan ini karena di Asia (berbeda 
dengan di Brasil setahun kemudian), tidak ada seorangpun kecuali IMF yang 
menganggap defisit anggaran sebagai masalah yang penting. Upaya untuk memenuhi 
target pengetatan anggaran tersebut mempunyai dampak negatif ganda untuk 
negara-negara yang bersangkutan; di mana arahan IMF ini dilaksanakan, dampaknta 
memperburuk resesi melalui pengurangan permintaan. Kalau tidak dilaksanakan, 
karena IMF gembar-gembor, mengakibatkan kepanikan bahwa perekonomian 
seolah-olah tidak terkendali. (KKG : Sekarang Larry Summers bersama-sama dengan 
Bernanke, Gubernur Bank Sentral AS menurunkan suku bunga sampai mendekati nol 
persen. 

Kedua, IMF menghendaki reformasi “struktural”, yaitu perubahan-perubahan dalam 
bidang-bidang yang tidak ada hubungannya dengan kebijakan fiskal dan moneter 
sebagai persyaratan untuk memperoleh pinjaman dari IMF. Beberapa dari reformasi 
ini seperti penutupan bank-bank sangat diragukan relevansinya dalam 
menanggulangi krisis keuangan. Kebijakan lainnya, seperti penghapusan pemberian 
monopoli kepada para kroni-kroninya sang Presiden tidak ada hubungannya sama 
sekali dengan mandat atau kewenangan IMF. Pemberian monopoli dalam perdagangan 
cengkeh memang hal yang buruk, contoh yang paling mencolok dari crony 
capitalism. Tetapi apa hubungannya ini dengan pelarian rupiah ke dalam dollar?” 

Demikian Paul Krugman tentang IMF. Dengan krisis ini rasanya IMF dibubarkan 
saja, secara regional diciptakan lembaga keuangan seperti ini. Negara-negara 
ASEAN-Plus sudah punya. 

Belum lama ini dalam konperensi tingkat tinggi Uni Eropa, IMF disuntik dana 
sebesar US$ 500 milyar oleh Uni Eropa, tetapi lebih dari US$ 450 milyar akan 
dipakai oleh Uni Eropa sendiri. Jadi IMF de facto sudah menjadi lembaga 
keuangan regional. 

Maka kalau Mafia Berkeley masih ingin tetap berkuasa, harus mulai 
berbaik-baikan dengan China, Jepang dan Korea Selatan. Menirulah Larry Summers. 
Katakan kepada negara-negara ini : “Since circumstances change, we, Partai UI 
in Depok change also.” 

Oleh Kwik Kian Gie 
  

   


      

Kirim email ke