--- In [email protected], shodan purba <shodanpu...@...> wrote: > > MJJ: > Saya baca tulisan KKG dibawah secara sekilas. Esensinya beberapa kali kita > diskusikan di milis kita ini. Saya rasanya belum bergeser dari kesimpulan > sebelumnya: "TANGISAN KWIK KIAN GIE TIDAK TEPAT WAKTU ALIAS SUDAH KADUNG." > Dikatakan kadung, karena kita mau kembalikan semangat BERDIKARI Bung Karo > yang kita jungkirbalikkan sejak pertengahan 60an, pada abad milenium ini. > Pada era globalisasi ini, negara praktis tanpa batas, beda PDB dengan PNB > hanya ada pada tataran akademis, praktis tidak ada suatu bangsa, bahkan > individu, yang dapat berdiri diatas kaki sendiri. Semua memiliki saling > ketergantungan. > > Kalau perjuangan BERDIKARI Bung Karno kita 'paksa' sampai kita 'siap' seperti > China, (kran Berdikari, ekonomi dibuka) boleh jadi kita juga menjadi negara > semi kalau pun tidak adi daya sekarang ini. Tetapi sekarang, siapakah yang > mampu melawan kekuatan dahsyat kapitalisme? Tidakkah kapitalisme > > itu merupakan refleksi karakter dasar manusia, memanfatkan "talenta" yang ada > pada masing-masing dan sekelilingnya? China juga berhasil, karena > masyarakatnya memang memiliki semangat juang untuk meng-uangkan segala yang > ada di lingkungannya, apalagi ditempa selama masa yang cukup lama oleh > pemerintahan yang disiplin. > > Ekonomi Kerakyatan? Adakah cendikiawan yang mampu menerjemahkan slogan > politik ini? Apakah maksudnya, membiarkan ladang-ladang minyak, > tambang-tambang batu bara atau emas, kepada pendulang-pendulang individu > tanpa pengaturan? Kalau dibuatkan pengaturan, siapakah yang diberi lisence > dan siapa yang permintaan izin nambangnya harus ditolak? Apakah mau dibuat > kriteria yang paling sedikit "talenta" yang dikuasainya yang akan diberi? > Saya rasa cendikiwan non-politikus sajapun akan memerlukan waktu yang lama > menjabarkan ekonomi pro rakyat yang sering didengung-dengungkan para > politikus. >
hehehee.... kita lihat saja nanti siapa yg memang : Di Amerika pertarugan "neo-lib" vs "ekonomi kerakyatan" dimenangi "ekonomi kerakyatan". di Indonesia kompetisinya kemungkinan besar : kubu neo-lib vs neo-populis~militer~ekonomikerakyatan ( demokrat / pks / pbb ) vs (pdi / gerindra / hanura / dkk). bujur, carlos
