Yah,hanya itu yang bisa kita harapkan sebagai orang Indonesia, memimpikan seorang pemimpin seperti bung Karno.
Ad'y --- On Mon, 5/4/09, Benyamin Sitepu <[email protected]> wrote: From: Benyamin Sitepu <[email protected]> Subject: Re: [tanahkaro] Jangan pernah ke malaysia (malingsial) To: [email protected] Date: Monday, May 4, 2009, 12:43 AM mudah mudahan kita masih akan memiliki "Soekarno" di masa yad. --- On Tue, 4/7/09, Kadrianta Sinulingga <kadrianta_s@ yahoo.com> wrote: From: Kadrianta Sinulingga <kadrianta_s@ yahoo.com> Subject: [tanahkaro] Jangan pernah ke malaysia (malingsial) To: tanahk...@yahoogrou ps.com, infok...@yahoogroup s.com Date: Tuesday, April 7, 2009, 2:40 PM Anda g mau kan hal ini terjadi pada saudara anda,teman, bahkan anda sendiri? Untuk info lebih lanjut http://www.topix. com/forum/ world/malaysia Jakarta - Menjadi pelajar di luar negeri tidak selalu menjanjikan kenyamanan. Meski tinggal di negara dengan tingkat ekonomi lebih baik, tindak kejahatan juga sering menimpa pelajar Indonesia di Malaysia. Hal tersebut membuat perwakilan resmi RI di Kuala Lumpur pun menjadi geram. "Saya kaget mendengar laporan banyak kejadian yang menimpa mahasiswa kita. Ini sangat tidak kita inginkan. Kita akan tindak lanjuti," ujar Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur, Imran Hanafi dalam dialog dengan pelajar Indonesia di Asia Pasific Institute of Information Technology (APIIT), Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (13/9/2008). Imran mengatakan, KBRI akan menindaklanjuti dengan melakukan pendekatan dan penekanan kepada pihak universitas dan Departemen Perguruan Tinggi Malaysia agar senantiasa memperhatikan keselamatan dan keamanan para pelajar asingnya yang belajar di universitas tersebut. Perwakilan resmi pemerintah RI, lanjutnya, sangat berkomitmen terhadap keselamatan dan keamanan WNI di Malaysia. Karena itu dia menegaskan, agar pelajar Indonesia yang menjadi korban kejahatan langsung menghubungi dirinya atau siapapun dari pihak KBRI, selain menghubungi pihak kepolisian. "Karena tentu mereka (pihak universitas) itu memiliki kepentingan terhadap keselamatan dan kenyamanan mahasiswa asing di Malaysia. Kalau tidak, bisa merusak citra lingkungan pendidikan mereka sendiri yang dinilai tidak aman," cetus Imran. Imran juga meminta agar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) secara proaktif membantu anggota-anggotanya yang mengalami berbagai persoalan di Malaysia. "PPI harus belajar menjadi pelayan bagi berbagai keperluan mereka dan ketika mereka menghadapi persoalan," tambahnya. Sebelumnya sejumlah mahasiswa Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) kerap mengalami tindak kejahatan, mulai dari perampasan, penodongan dengan ancaman kekerasan hingga pemerkosaan. Kejahatan ini sering menimpa mahasiswa Indonesia yang tinggal tidak jauh dari kampus tersebut. Namun seringkali pula tidak mendapat respon dari kepolisian setempat. I-Card Selain itu, KBRI juga dibuat geram oleh tindakan oknum kepolisian dan keimigrasian Malaysia yang seringkali tidak mengakui keabsahan Kartu Pengenal Pelajar Internasional 'I-Card'. Padahal menurut Imran, pemberlakuan ID pelajar internasional tersebut diadakan secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia yang bekerjasama dengan Kementerian Perguruan Tinggi Malaysia dan disaksikan oleh dubes-dubes negara tetangga di negeri Petronas tersebut. "Saya menghadiri acara launching itu. Mereka yang mengadakan, kenapa jadi mereka sendiri yang mempersoalkan dan tidak mengakui," kesalnya. Imron menjelaskan, pelajar yang memiliki I-Card tidak perlu lagi membawa paspor ataupun keterangan kewarganegaraan lain ketika mereka melakukan perjalanan di seluruh wilayah Malaysia. Sebab ID pelajar tersebut telah memuat data lengkap dan memiliki kekuatan hukum. Namun dalam prakteknya beberapa bulan terakhir ini, Imron mengungkapkan, terjadi banyak kasus pelajar Indonesia dipersoalkan oleh petugas polisi dan imigrasi Malaysia ketika tidak membawa paspor dalam perjalanan mereka meski telah menunjukkan I-Card. Ad'y
