Mama MU Ginting memaparkan, adi kalak Karo enda enggo
bangkit ngikuti arus besar ethnic-revival atau cultural-revival dunia, ma
tuhu-tuhu
teridah nge, bas common sense adah ndai, ertina labo ngenca bas perukuren.
Bagepe adi enggo lit nai nari pemikiren dialektika enda bas Karo, e pe
objektif nge, ertina labo ngenca bas perukuren....
Kesatuan dari segi-segi bertentangan enda enggo me ndekah terukuri kalak
Karo, adi seh ka kita ku pendapat kalak barat, kalak Yunani penemu pertama
dialektika nina. Kalak Karo lenga nai tandai kalak. Uga gundari? Karo kin
penemu pertama dialektika? - - - - -
=======
Kegiatan-kegiatan
menampilkan kesenian budaya Karo di pentas nasional dan international,
seperti di Culture Festifal 2009 di NCKU, Tainan, Taiwan, yang dimotori oleh
bang Bode Tarigan, bang Erdian Sembiring dan bang Ezra Perangin-angin,
merupakan bagian dari memperkenalkan identitas Enda Karo Ndai di mata
dunia. Bravo buat duta-duta kesenian Karo.
Dari sisi filosofinya, teringat saya tulisan di buku TariganU, Pincala. Dalam
buku tersebut, TariganU memaparkan tentang seorang Karo yang sudah berpikir dan
berbicara layaknya filosofi Friedrich
Nietzsche. Padahal, diyakini TariganU, orang Karo tersebut pasti belum tahu/tak
pernah membaca perihal Nietzsche. Kalak Karo lenga tandai kalak nina mama MUG.
Payo ka kuakap. Tapi, perlahan-lahan, langkah ke arah sana sudah mulai ditempuh.
Sistem Kekerabatan Karo (SKK) dan Sosialisme–Demokrasi
(SosDem)
Beberapa waktu lalu, kebetulan saya dilibatkan diskusi-diskusi perihal
Sosialisme-Demokrasi. Di sela-sela diskusi, tiba-tiba saya nyeletuk
;
MJS : Kalau memang begitu, SosDem ini mirip sekali dengan Sistem
Kekerabatan Karo. Dari segi usia juga, Sistem Kekerabatan Karo mungkin lebih
tua dari SosDem. Sistem Karo ini, , tidak jelas diketahui tahun berapa mulai
digulirkan. Sementara, SosDem jelas kronologis sosialisasinya (Kataku
sambil memberikan 3 contoh, yang kebetulan cuma itu pula yang kutahu. Kalau
kita keroyok, mungkin akan kita temukan hal-hal lainnya, yang masih mengendap)
Kesimpulan sementara saya : Perlunya pematangan kurikulum pendidikan lokal.
Untuk masa sekarang ini, mungkin cuma/tinggal bisa di selenggarakan di
Kabupaten Karo. Dengan demikian, peradaban Karo itu dapat dilihat bermasa
depan.
Ketika seorang muda bertanya perihal peradaban Karo, orang yang lebih tua
pada umumnya menjawab, bage kin adi adat.
Akhirnya, adat Karo terkesan sebatas aktivitas tanpa visi. Padahal,
SKK tersebut memiliki dampat sosial – ekonomi yang sangat kuat. Ini masih
kesimpulan sementara saya. Mungkin akan berkembang, bila nantinya ada
uraian-uraian
yang lebih lanjut..
Mjj Man Banta Kerina
MJS