Satu pembukaan pikiran baru dari Carlos, sudah waktunya memandang persoalan sejarah kita dari sudut pandang 'baru', dari semua segi dan terutama dari segi-seginya yang bertentangan. Rezim Soeharto melihat dari seginya sendiri, sejarah jadi sangat boring dan tak objektif. Menilah sejarah dari segi-segi bertentangan pastilah hidup dan akan melibatkan banyak yang tertarik dan bahkan ambil bagian. Rezim Orba bisa dilihat dari segi positif walaupun negatifnya tetap melekat menyembelih 3 juta manusia. Tetapi biar bagaimanapun itulah sejarah yang telah melanda negeri kita. PKI juga bisa ditinjau dari segi positif-negatifnya terhadap gerakan kebangkitan rakyat Indonesia, memihak Soekarno demi tujuan politik mereka sendiri dsb. Dan diatas segalanya tak lepas dari politik langsung/taklangsung perang dingin dunia, kita hanya dipermainkan seperti monyet-monyet tak berotak dalam strategi global penguasa internasional, dihasut bunuh sana dan bunuh sini, dengan umpan pisang atau geranat. Menulis sejarah termasuk dalam film dsb, terpaksa yang ditulis lebih dahulu kelihatannya adalah niat kita sendiri untuk menghapuskan fobi atau tabu masa lampau, mengakui kebodohan kita dipermainkan seperti monyet tak berotak oleh dua penguasa dunia yang sedang bertanding, dan memahami nasib kita sendiri dan memperbaikinya kedepan dengan kejelasan sejarah. BAhwa kita dibodohi, ditipu dan dipermainkan tanpa kita sedari, ada sebab-sebabnya tentu. Sekarang kita bisa tanpa beban melihatnya, atau bebannya sudah bisa dibuang, sehingga bisa lebih gairah menulis sejarah atau bikin film bapak-bapak kita yang sudah pernah berjuang dengan tulus. Sejarah bangsa-bangsa sangat indah, karena melanda nasib semua kita. Salam MUG
--- In [email protected], "cpatriawgmail" <cpatr...@...> wrote: Re: Buku Max Havelaar Warisan Dunia buku ini kan ada filmnya tahun 1976 -- berbahasa belanda tapi ada subtitlenya--. coba film ini diputer di indonesia , pasti heboh. di indonesia kita mesti jg bikin filem2 tentang struggle , tentang soekarno atau tentang hatta/ tan malaka , biar ra'iatnya bangun dari tidurnya yang lelap itu :)) bujur, carlos --- In [email protected], MU Ginting <gintin...@...> wrote: > > Kamis, 11/03/2010 12:46 WIB > Laporan dari Den Haag > Buku Max Havelaar Karya Multatuli sebagai Warisan Dunia > Eddi Santosa â" detikNews > Den Haag - Buku Max Havelaar karya Multatuli diupayakan masuk ke dalam daftar warisan dunia UNESCO. Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker (2/3/1820 â" 19/2/1887), novelis era Hindia Belanda. > > Permohonan resmi akan disampaikan kepada PBB pekan ini oleh Universitas van Amsterdam (UvA) bersama Multatuli Genootschap (Masyarakat Multatuli), demikian pernyataan kedua pihak seperti disiarkan Trouw, Kamis (11/3/2010). > > Nama Multatuli berasal dari bahasa Latin multa tuli, yang berarti 'aku telah banyak menderita'. Dengan nama pena ini, Eduard Douwes Dekker menulis buku Max Havelaar sebagai gugatan atas penindasan di Nederlands-Indie (Hindia Belanda), kini Indonesia. > > Karya gemilang yang diterbitkan pertama kali pada 150 tahun lalu itu kini masih aktual dan menjadi sumber inspirasi untuk tata perdagangan dunia yang adil. > > (es/es)
