Seputar Artis yang Mencalonkan Diri Menjadi Bupati
Posted in Opini by Redaksi on Mei 4th, 2010
Oleh: Naurat Silalahi Situngkir
Harian SIB memberitakan seorang artis bakal mencalonkan diri menjadi bupati
pada sebuah daerah tingkat II di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Karo.
Pada sebuah media online, berita ini juga dimuat dan mendapat tanggapan keras
dari seorang pembaca. Pembaca tersebut mengatakan: “Parpol mana yang mendukung
itu. Putra-putri daerah kami banyak yang mampu memimpin… Jangan tutup mata akan
parpol yang hanya mencari uang..” ujarnya mengomentari berita tersebut. Tak
pelak pojok SIB pun memberi komentar, walupun komennya cukup netral, yakni: Ini
sangat menarik, kita ingin tahu bagaimana pendapat masyarakat di Karo. (SIB, 30
April 2010 halaman 16 kolom 9).
Berbicara tentang seorang warga negara dalam mengabdikan diri untuk membangun
negeri tercinta ini tentulah ada ketentuannya. Sesuai undang-undang, siapa saja
dapat mencalonkan diri menjadi bupati di tanah air tercinta ini. Perihal
banyaknya artis yang mencalonkan diri menjadi kepala daerah pada pemerintahan
apakah tingkat kabupaten, kota atau propinsi sempat menjadi perhatian Menteri
Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Pasalnya artis-artis tersebut memiliki masa lalu
yang kurang enak didengar. Mendagri memberi usulan agar dalam revisi
Undang-undang No.32 Tahun 2004 tentang syarat calon kepala daerah ditambah
dengan “…berpengalaman di pemerintahan” dan “tidak cacat moral”. Persoalannya,
moral yang bagaimana? Memang contohnya ketika itu disebutkan Mendagri cacat
moral itu seperti “ada video berzina”.
Biarkan Rakyat yang Menentukan
Sekilas memang hati gundah, bertanya. Kenapa musti artis yang didukung menjadi
pemimpin pada sebuah daerah atau kabupaten atau juga propinsi. Atau bagi artis
tersebut panggilan apa yang membuat tiba-tiba bersedia mencalonkan diri menjadi
kepala daerah. Pada umumnya si artis memang mau karena “dipinang” parpol,
mengingat sang calon memiliki nama besar, dikenal dan terkenal atau paling
tidak cepat atau mudah dikenal massa dibanding tokoh yang baru dimunculkan.
Persoalannya tidak menjadi masalah kalau memang si artis atau calon tersebut
tidak memiliki nama atau masa lalu yang kurang sedap. Seperti yang hendak maju
ini, julukannya saja seram: “Mantan Ratu Ekstasi” (SIB, 30 April 2010 halaman I
kolom 1-3).
Akibatnya reaksi pun datang. Belum lagi . . . (baca selanjutnya di SIB)