Pertanyaan yang penting juga: Mengapa jeruk dari luar negeri lebih tahan lama dibandingkan jeruk dari karo?
Bang KT --- On Mon, 5/17/10, Kikin Tarigan <[email protected]> wrote: From: Kikin Tarigan <[email protected]> Subject: Re: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit To: "Tanah Karo" <[email protected]> Date: Monday, May 17, 2010, 4:17 AM Pertanyaannya: 1. Mengapa tampilan jeruk Karo kalah menarik?? 2. Mengapa rasa jeruk Karo kalah manis?? 3. Mengapa biaya produksi jeruk Karo lebih tinggi?? Kalau hal ini tjawab, kita beranjak ke produk jeruk China : 1. Mengapa tampilan jeruk China lebih menarik?? 2. Mengapa rasa jeruk China lebih manis?? 3. Mengapa biaya produksi jeruk China lebih murah?? Bujur... B 16 ANFrom: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com> Sender: tanahk...@yahoogrou ps.com Date: Mon, 17 May 2010 01:47:16 +0800 (SGT)To: <infok...@yahoogroup s.com>; <tanahk...@yahoogrou ps.com>; <komunitaskaro@ yahoogroups. com>ReplyTo: tanahk...@yahoogrou ps.com Subject: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit Senin, 17 Mei 2010 Bukan hanya perajin sepatu, sandal, dan pakaian jadi di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Medan yang punya kecenderungan gulung tikar seiring pemberlakuan kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA), tapi juga petani buah-buahan di Tanah Karo, Sumatera Utara. Akibat penerapan pasar bebas, petani yang selama ini berusaha di perkebunan buah seperti jeruk sudah menjerit terkait terus menurunnya penjualan hasil panen. "Saya terpaksa membiarkan jeruk masak di pohon dan tidak dipetik. Sebab, kalaupun dipanen dan dijual ke pedagang, jangankan untung, modal saja pun tidak kembali. Ini karena buah-buahan dari China membanjiri Medan dan kota-kota lainnya di Sumatera Utara dengan harga lebih miring dari harga jeruk lokal," kata Tina br Sitepu, petani buah, kepada Suara Karya di Berastagi, akhir pekan lalu. Saat ini harga jeruk dari China seperti jeruk sunkies dijual Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per kilogram (kg) dengan warna yang menarik dan rasanya lebih manis. Sedangkan jeruk lokal seharga Rp 17.000. Banyak beredarnya jeruk impor ini berimbas terhadap jeruk karo. Daerah Karo selama ini dikenal sebagai penyuplai jeruk ke Kota Medan dan kota-kota lainnya. Harga jeruk lainnya di bawah sunkies juga turut jatuh menjadi Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kg. "Kalau harganya segitu (Rp 2.000-Rp 3.000), jelas kami (petani) rugi karena untuk kembali modal saja pun tidak cukup. Itu sebabnya, kami membiarkan begitu saja buah masak di pohon. Sebab, untuk memanennya, kami mesti mengeluarkan biaya. Selayaknya agar kami bisa 'hidup', harga paling murah Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kg," ucap Tina br Sitepu. Kondisi memprihatinkan tersebut disesali banyak pihak. Sejumlah anggota DPRD Sumut asal pemilihan Tanah Karo menyesalkan Bupati Karo DD Sinulingga yang tidak tanggap terhadap nasib yang dialami petani. "Seharusnya kepala daerah setempat membuat solusi agar harga bisa terdongkrak. Misalnya, menampung jeruk petani dengan membuat semacam cold storage (pendingin). Dengan demikian, secara perlahan dapat memasarkan jeruk petani ke daerah lain," tutur Taufan Ginting. Elektronik Selain buah-buahan, serbuan berbagai barang elektronik asal China yang dikenal murah makin menguasai pusat perbelanjaan modern hingga toko-toko elektronik kecil. Menurut pedagang elektronik di Medan Fair Plaza bernama Abun (45), peredaran barang-barang elektronik seperti telepon seluler (ponsel), kipas angin, tape, DVD player, dan televisi dalam empat bulan setelah penerapan CAFTA makin meningkat tajam. Perbedaan harga yang cukup mencolok dibanding produk lain menyebabkan konsumen lebih tertarik memilih produk asal China. Ia mencontohkan, televisi asal China saat ini bisa dibeli dengan harga Rp 400.000 per unit, jauh dibanding televisi merek lain yang harga jualnya minimal Rp 700-800.000 per unit. "Kualitas gambar dan jenisnya sama, banyak konsumen lebih memilih produk asal China. Hal yang sama juga berlaku untuk produk lain seperti DVD, tape, dan kipas angin," tuturnya. Akibat harga murah ini, dirinya terpaksa menjual televisi bukan buatan China di bawah modal. Sebab, kalau dipertahankan dengan harga lama, modal tidak berputar. Begitu juga ponsel China, yang seakan-akan menjadi kebutuhan pokok itu, sudah masuk ke pasar dalam negeri dengan berbagai merek, mulai dari ponsel low end harga murah dengan fitur rendah, hingga high end atau ponsel fitur canggih. Menurut pedagang ponsel Third Generation di pusat penjualan Medan Fair Plaza, saat ini setidaknya terdapat sekitar 40 merek ponsel asal China yang beredar di Indonesia. Bahkan, penjualan ponsel asal China sudah mendekati angka penjualan ponsel merek terkenal seperti Nokia, Sony Ericsson, Samsung, dan LG. Jika pada akhir 2009 total penjualan ponsel di Indonesia mencapai sekitar 25 juta unit, maka pada 2010 Asosiasi Importir Seluler Indonesia (AISI) memproyeksikan pertumbuhan 20-22 persen dengan total volume impor sedikitnya 40 juta unit. Dari total penjualan tersebut, pangsa pasar ponsel China masih berkisar 15 persen, namun tidak tertutup kemungkinan, setelah CAFTA pangsa pasar ponsel asal Negeri Tirai Bambu makin menggelembung. Maraknya ponsel China di Tanah Air selain karena harganya yang murah, juga dipicu pasar bebas yang menghapus bea masuk. Itu sebabnya, kata pemilik toko ini, produsen ponsel China tidak lagi hanya sebatas memproduksi ponsel murah, tetapi juga sudah diikuti dengan kualitas yang makin bagus bahkan bersaing dengan ponsel-ponsel ternama. Dia mengatakan, setiap hari bisa menjual ponsel merek China sebanyak tujuh unit dan delapan unit per hari untuk merek-merek yang sudah ternama. "Pembeli umumnya membanding-bandingk an harga dan fitur yang ditawarkan di ponsel. Jika fitur hampir sama dan harga lebih murah dari produk ternama, konsumen akan memilih produk China," katanya. Sumber: http://www.suarakar ya-online. com/news. html?id=253183 Salam Mejuah Juah Karo Cyber Community
