Kalau sudah begini mau bikin apa lagi???? Dalam pilkada yang akan datang pilih 
saja lagi model Bupati yang sekarang. jerritan akan berubah jadi "tawa-tawa 
sisada". 





________________________________
From: Alexander Firdaust <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Mon, May 17, 2010 1:47:16 AM
Subject: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit

   
Senin, 17 Mei 2010
Bukan hanya perajin sepatu, sandal, dan pakaian jadi di Perkampungan Industri 
Kecil (PIK) Medan yang punya kecenderungan gulung tikar seiring pemberlakuan 
kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA), tapi 
juga petani buah-buahan di Tanah Karo, Sumatera Utara. Akibat penerapan pasar 
bebas, petani yang selama ini berusaha di perkebunan buah seperti jeruk sudah 
menjerit terkait terus menurunnya penjualan hasil panen.

    "Saya terpaksa membiarkan jeruk masak di pohon dan tidak dipetik. Sebab, 
kalaupun dipanen dan dijual ke pedagang, jangankan untung, modal saja pun tidak 
kembali. Ini karena buah-buahan dari China membanjiri Medan dan kota-kota 
lainnya di Sumatera Utara dengan harga lebih miring dari harga jeruk lokal," 
kata Tina br Sitepu, petani buah, kepada Suara Karya di Berastagi, akhir pekan 
lalu.

    Saat ini harga jeruk dari China seperti jeruk sunkies dijual Rp 10.000 
sampai Rp 15.000 per kilogram (kg) dengan warna yang menarik dan rasanya lebih 
manis. Sedangkan jeruk lokal seharga Rp 17.000. Banyak beredarnya jeruk impor 
ini berimbas terhadap jeruk karo. Daerah Karo selama ini dikenal sebagai 
penyuplai jeruk ke Kota Medan dan kota-kota lainnya. Harga jeruk lainnya di 
bawah sunkies juga turut jatuh menjadi Rp 2.000 sampai Rp 3.000 per kg.

    "Kalau harganya segitu (Rp 2.000-Rp 3.000), jelas kami (petani) rugi karena 
untuk kembali modal saja pun tidak cukup. Itu sebabnya, kami membiarkan begitu 
saja buah masak di pohon. Sebab, untuk memanennya, kami mesti mengeluarkan 
biaya. Selayaknya agar kami bisa 'hidup', harga paling murah Rp 6.000 sampai Rp 
7.000 per kg," ucap Tina br Sitepu.

    Kondisi memprihatinkan tersebut disesali banyak pihak. Sejumlah anggota 
DPRD Sumut asal pemilihan Tanah Karo menyesalkan Bupati Karo DD Sinulingga yang 
tidak tanggap terhadap nasib yang dialami petani. "Seharusnya kepala daerah 
setempat membuat solusi agar harga bisa terdongkrak. Misalnya, menampung jeruk 
petani dengan membuat semacam cold storage (pendingin). Dengan demikian, secara 
perlahan dapat memasarkan jeruk petani ke daerah lain," tutur Taufan Ginting.

    Elektronik

    Selain buah-buahan, serbuan berbagai barang elektronik asal China yang 
dikenal murah makin menguasai pusat perbelanjaan modern hingga toko-toko 
elektronik kecil. Menurut pedagang elektronik di Medan Fair Plaza bernama Abun 
(45), peredaran barang-barang elektronik seperti telepon seluler (ponsel), 
kipas angin, tape, DVD player, dan televisi dalam empat bulan setelah penerapan 
CAFTA makin meningkat tajam. Perbedaan harga yang cukup mencolok dibanding 
produk lain menyebabkan konsumen lebih tertarik memilih produk asal China.

    Ia mencontohkan, televisi asal China saat ini bisa dibeli dengan harga Rp 
400.000 per unit, jauh dibanding televisi merek lain yang harga jualnya minimal 
Rp 700-800.000 per unit. "Kualitas gambar dan jenisnya sama, banyak konsumen 
lebih memilih produk asal China. Hal yang sama juga berlaku untuk produk lain 
seperti DVD, tape, dan kipas angin," tuturnya.

    Akibat harga murah ini, dirinya terpaksa menjual televisi bukan buatan 
China di bawah modal. Sebab, kalau dipertahankan dengan harga lama, modal tidak 
berputar. Begitu juga ponsel China, yang seakan-akan menjadi kebutuhan pokok 
itu, sudah masuk ke pasar dalam negeri dengan berbagai merek, mulai dari ponsel 
low end harga murah dengan fitur rendah, hingga high end atau ponsel fitur 
canggih.

    Menurut pedagang ponsel Third Generation di pusat penjualan Medan Fair 
Plaza, saat ini setidaknya terdapat sekitar 40 merek ponsel asal China yang 
beredar di Indonesia. Bahkan, penjualan ponsel asal China sudah mendekati angka 
penjualan ponsel merek terkenal seperti Nokia, Sony Ericsson, Samsung, dan LG.

    Jika pada akhir 2009 total penjualan ponsel di Indonesia mencapai sekitar 
25 juta unit, maka pada 2010 Asosiasi Importir Seluler Indonesia (AISI) 
memproyeksikan pertumbuhan 20-22 persen dengan total volume impor sedikitnya 40 
juta unit. Dari total penjualan tersebut, pangsa pasar ponsel China masih 
berkisar 15 persen, namun tidak tertutup kemungkinan, setelah CAFTA pangsa 
pasar ponsel asal Negeri Tirai Bambu makin menggelembung.

    Maraknya ponsel China di Tanah Air selain karena harganya yang murah, juga 
dipicu pasar bebas yang menghapus bea masuk. Itu sebabnya, kata pemilik toko 
ini, produsen ponsel China tidak lagi hanya sebatas memproduksi ponsel murah, 
tetapi juga sudah diikuti dengan kualitas yang makin bagus bahkan bersaing 
dengan ponsel-ponsel ternama.

    Dia mengatakan, setiap hari bisa menjual ponsel merek China sebanyak tujuh 
unit dan delapan unit per hari untuk merek-merek yang sudah ternama. "Pembeli 
umumnya membanding-bandingk an harga dan fitur yang ditawarkan di ponsel. Jika 
fitur hampir sama dan harga lebih murah dari produk ternama, konsumen akan 
memilih produk China," katanya.

Sumber: http://www.suarakar ya-online. com/news. html?id=253183

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community
 

 


      

Kirim email ke