Menarik sekali memang jeruk Cina ini yang bisa mengalahkan jeruk Karo. Jarak 
Karo ke Jakarta jauh lebih dekat daripada katakanlah Sechuan ke Jakarta.

Tapi kenapa 1+1=2?
Dimana sebenarnya pokok permasalahanya?

Biaya produksi, tentu saja:
1. Biaya lahan (asumsi itu adalah sewa, misalnya)
Apakah biaya lahan disana lebih murah dari karo?
2. Bibit unggul (termasuk penyemaian, okulasi (kerjaan saya dulu ini)
Porsinya kecil bisa diabaikan
3. Teknologi (pupuk, pestisidan dan mesin)
Apakah mereka telah menggunakan teknologi yang murah dan mantap?
Apakah wajar harga pupuk di Indonesia? kalau ya, dari WBS? berapa persen profit 
yang wajar dari sebuah BUMN? lalu apakah masih wajar dengan harga penjualan. Si 
Aseng yang suk menimbun pupuk dan lain-lain..
4. Upah buruh (yang punya di asumsikan bujruh)
5. Profit merupakan biaya produksi untuk mendapatkan harg penjualan minimal
6. Dan lainnya


Teknologi pengawetan?
Bisa juga dimasukan ke dalam biaya produksi tapi juga merupakan kesempatan 
(strategi dan peluang), artinya menunggu waktu tepat dimana harga  lumayan 
tinggi untuk dijual.

Jadi dimna letak masalahnya jeruk karo dengan jeruk china itu, dumping kah?..

Em dage lebe


________________________________
Dari: Kikin Tarigan <[email protected]>
Kepada: Tanah Karo <[email protected]>
Terkirim: Rab, 19 Mei, 2010 09:07:59
Judul: Re: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit

  
Kalau biaya produksi jeruk = bibit + pupuk + pestisida + modal tanah dan tenaga 
kerja (biasanya tdk diperhitungkan) 

Maka dg teknologi pengawetan dan teknologi pendinginan, justru akan semakin 
menambah biaya produksi....

Apa mungkin lebih mungkin bsaing dg jeruk China???

Mohon pencerahan.. .


B 16 AN
________________________________

From:  kontan tarigan <kontan_tarigan@ yahoo.com> 
Sender:  tanahk...@yahoogrou ps.com 
Date: Mon, 17 May 2010 21:14:06 -0700 (PDT)
To: <tanahk...@yahoogrou ps.com>
ReplyTo:  tanahk...@yahoogrou ps.com 
Subject: Re: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit
  
Mejuah-juah Adven Tambun,

Informasi itu ditayangkan di tv korea. Saya kira kalau sudah menggunakan 
bahan-bahan berbahaya demikian mesti diteliti dan dicoba oleh ahli melalui 
lembaga yang credible. Masyarakat awam jangan mencoba sendiri, resikonya bahaya 
sekali. 

Saya usulkan kam datang saja langsung ke Bupati, biar beliau saja yang datang 
ke Rektor USU. Bisa jadi bupati kita itu sudah pusing, tak tahu apa yang 
dilakukan, terlampau banyak persoalan. Yang banyak malah marah-marah, he...he...

Selamat berjuang Adven Tambun!

Bang KT
 

--- On Mon, 5/17/10, Advent Tambun <atam...@yahoo. com> wrote:


>From: Advent Tambun <atam...@yahoo. com>
>Subject: Re: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun
> Menjerit
>To: tanahk...@yahoogrou ps.com
>Date: Monday, May 17, 2010, 11:41 PM
>
>
>>
>
>
>
>  >
>
> 
>>      
> 
>Mejuah-juah, 
>Mengutib tulisan Abang Kontan Tarigan, 
>
>"Sedikit informasi yang saya ketahui mengapa jeruk dari China tahan lama 
>atau tidak cepat busuk. Sebelum masuk pak
> untuk diekspor, jeruk-jeruk itu digulirkan selama waktu tertentu pada 
>cairan yang mengandung formalin dalam kadar aman". 
>
>Apakah ada informasi lebih lanjut, atau sumber publikatif yang dapat dijadikan 
>referensi, mungkin tulisan di sebuah surat kabar, etc....Hal yang sama juga 
>pernah saya dengar tentang apel yang dilapisi oleh sejenis zat lilin untuk 
>kelihatan mengkilat. Tetapi karena informasi dari mulut ke mulut, sulit 
>dijadikan sebagai referensi. Mungkin di antara kita ada ahli pertanian yang 
>dapat menjelaskan hal ini kepada publik awam seperti kami. 
>
>bujur. 
>advent tambun
>jerukberastagi. wordpress. com
>
>
>
>
>
________________________________
From: kontan tarigan <kontan_tarigan@ yahoo.com>
>To: tanahk...@yahoogrou ps.com
>Sent: Tue, May 18, 2010 10:22:21 AM
>Subject: Re: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit
>
>  >
>
> 
>>      
> 
>"Seharusnya kepala 
>daerah setempat membuat solusi agar harga bisa terdongkrak. Misalnya, 
>menampung jeruk petani dengan membuat semacam cold storage (pendingin). 
>Dengan demikian, secara perlahan dapat memasarkan jeruk petani ke daerah
> lain," tutur Taufan Ginting.
>
>Kelihatannya kita sendiri belum tahu persis akar persoalan, karena memang 
>belum ada hasil penelitian secara ilmiah. Penelitian itu semestinya dapat 
>dilakukan oleh USU, tetapi mereka diam saja. Rasanya tidak mungkin mereka 
>tidak tahu adanya persoalan jeruk ini. 
>
>Saya kira dalam hal ini Bupati Karo dapat membicarakannya dengan Rektor USU, 
>katakanlah mengadu kalau belum bisa membuat suatu kerja sama. (Idealnya bukan 
>saja bupati karo tetapi Gubernur, Menteri Pertanian dan Menteri perdagangan 
>juga merasa  keberatan dengan kasus ini). Hasil penelitian yang mendesak mesti 
>menjawab mengapa ongkos produksi mahal dan buah jeruk cepat busuk. 
>Menghilangkan biji jeruk dan menambah rasa yang lebih baik adalah persoalan 
>berikutnya.
>
>Sedikit informasi yang saya ketahui mengapa jeruk dari China tahan lama atau 
>tidak cepat busuk. Sebelum masuk pak
> untuk diekspor, jeruk-jeruk itu digulirkan selama waktu tertentu pada cairan 
> yang mengandung formalin dalam kadar aman. Kalau hanya demikian apa USU tidak 
> mampu? 
>
>Sentabi!
>
>Bang KT
>
>
>--- On Mon, 5/17/10, Benyamin Sitepu <bsit...@yahoo. com> wrote:
>
>
>>From: Benyamin Sitepu <bsit...@yahoo. com>
>>Subject: Re: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit
>>To: tanahk...@yahoogrou ps.com
>>Date: Monday, May 17, 2010, 9:46 PM
>>
>>
>>>>
>>
>>
>>
>>  >>
>>
>> 
>>>>      
>> 
>>Kalau sudah begini mau bikin apa lagi???? Dalam pilkada yang akan datang 
>>pilih saja lagi model Bupati yang sekarang. jerritan akan berubah jadi 
>>"tawa-tawa sisada". 
>>
>>
>>
>>
>>
>>
________________________________
From: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com>
>>To: infok...@yahoogroup s.com; tanahk...@yahoogrou ps.com; komunitaskaro@ 
>>yahoogroups. com
>>Sent: Mon, May 17, 2010 1:47:16
>> AM
>>Subject: [tanahkaro] Petani Buah di Sumut pun Menjerit
>>
>>  >>
>>
>> 
>>>>      
>> 
>>Senin, 17 Mei 2010
>>Bukan hanya perajin sepatu, sandal, dan pakaian jadi di Perkampungan Industri 
>>Kecil (PIK) Medan yang punya kecenderungan gulung tikar seiring pemberlakuan 
>>kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA), 
>>tapi juga petani buah-buahan di Tanah Karo, Sumatera Utara. Akibat penerapan 
>>pasar bebas, petani yang selama ini berusaha di perkebunan buah seperti jeruk 
>>sudah menjerit terkait terus menurunnya penjualan hasil panen.
>>
>>    "Saya terpaksa membiarkan jeruk masak di pohon dan tidak dipetik. Sebab, 
>> kalaupun dipanen dan dijual ke pedagang, jangankan untung, modal saja pun 
>> tidak kembali. Ini karena buah-buahan dari China
>> membanjiri Medan dan kota-kota lainnya di Sumatera Utara dengan harga lebih 
>> miring dari harga jeruk lokal," kata Tina br Sitepu, petani buah, kepada 
>> Suara Karya di Berastagi, akhir
>> pekan lalu.
>>
>>    Saat ini harga jeruk dari China seperti jeruk sunkies dijual Rp 10.000 
>> sampai Rp 15.000 per kilogram (kg) dengan warna yang menarik dan rasanya 
>> lebih manis. Sedangkan jeruk lokal seharga Rp 17.000. Banyak beredarnya 
>> jeruk impor ini berimbas terhadap jeruk karo. Daerah Karo selama ini dikenal 
>> sebagai penyuplai jeruk ke Kota Medan dan kota-kota lainnya. Harga jeruk 
>> lainnya di bawah sunkies juga turut jatuh menjadi Rp 2.000 sampai Rp 3.000 
>> per kg.
>>
>>    "Kalau harganya segitu (Rp 2.000-Rp 3.000), jelas kami (petani) rugi 
>> karena untuk kembali modal saja pun tidak cukup. Itu sebabnya, kami 
>> membiarkan begitu saja buah masak di pohon. Sebab, untuk memanennya, kami 
>> mesti mengeluarkan biaya. Selayaknya agar kami bisa 'hidup', harga paling 
>> murah Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kg," ucap Tina br Sitepu.
>>
>>    Kondisi memprihatinkan tersebut disesali banyak pihak. Sejumlah anggota 
>> DPRD Sumut
>> asal pemilihan Tanah Karo menyesalkan Bupati Karo DD Sinulingga yang tidak 
>> tanggap terhadap nasib yang dialami petani. "Seharusnya kepala daerah 
>> setempat membuat solusi agar harga bisa terdongkrak. Misalnya, menampung 
>> jeruk petani dengan membuat semacam cold storage (pendingin). Dengan 
>> demikian, secara perlahan dapat memasarkan jeruk petani ke daerah lain," 
>> tutur Taufan Ginting.
>>
>>    Elektronik
>>
>>    Selain buah-buahan, serbuan berbagai barang elektronik asal China yang 
>> dikenal murah makin menguasai pusat perbelanjaan modern hingga toko-toko 
>> elektronik kecil. Menurut pedagang elektronik di Medan Fair Plaza bernama 
>> Abun (45), peredaran barang-barang elektronik seperti telepon seluler 
>> (ponsel), kipas angin, tape, DVD player, dan televisi dalam empat bulan 
>> setelah penerapan CAFTA makin meningkat tajam. Perbedaan harga yang cukup 
>> mencolok dibanding produk lain menyebabkan konsumen lebih tertarik memilih 
>> produk asal
>> China.
>>
>>    Ia mencontohkan, televisi asal China saat ini bisa dibeli dengan harga Rp 
>> 400.000 per unit, jauh dibanding televisi merek lain yang harga jualnya 
>> minimal Rp 700-800.000 per unit. "Kualitas gambar dan jenisnya sama, banyak 
>> konsumen lebih memilih produk asal China. Hal yang sama juga berlaku untuk 
>> produk lain seperti DVD, tape, dan kipas angin," tuturnya.
>>
>>    Akibat harga murah ini, dirinya terpaksa menjual televisi bukan buatan 
>> China di bawah modal. Sebab, kalau dipertahankan dengan harga lama, modal 
>> tidak berputar. Begitu juga ponsel China, yang seakan-akan menjadi kebutuhan 
>> pokok itu, sudah masuk ke pasar dalam negeri dengan berbagai merek, mulai 
>> dari ponsel low end harga murah dengan fitur rendah, hingga high end atau 
>> ponsel fitur canggih.
>>
>>    Menurut pedagang ponsel Third Generation di pusat penjualan Medan Fair 
>> Plaza, saat ini setidaknya terdapat sekitar 40 merek ponsel
>> asal China yang beredar di Indonesia. Bahkan, penjualan ponsel asal China 
>> sudah mendekati angka penjualan ponsel merek terkenal seperti Nokia, Sony 
>> Ericsson, Samsung, dan LG.
>>
>>    Jika pada akhir 2009 total penjualan ponsel di Indonesia mencapai sekitar 
>> 25 juta unit, maka pada 2010 Asosiasi Importir Seluler Indonesia (AISI) 
>> memproyeksikan pertumbuhan 20-22 persen dengan total volume impor sedikitnya 
>> 40 juta unit. Dari total penjualan tersebut, pangsa pasar ponsel China masih 
>> berkisar 15 persen, namun tidak tertutup kemungkinan, setelah CAFTA pangsa 
>> pasar ponsel asal Negeri Tirai Bambu makin menggelembung.
>>
>>    Maraknya ponsel China di Tanah Air selain karena harganya yang murah, 
>> juga dipicu pasar bebas yang menghapus bea masuk. Itu sebabnya, kata pemilik 
>> toko ini, produsen ponsel China tidak lagi hanya sebatas memproduksi ponsel 
>> murah, tetapi juga sudah diikuti dengan kualitas yang makin bagus bahkan 
>> bersaing
>> dengan ponsel-ponsel ternama.
>>
>>    Dia mengatakan, setiap hari bisa menjual ponsel merek China sebanyak 
>> tujuh unit dan delapan unit per hari untuk merek-merek yang sudah ternama. 
>> "Pembeli umumnya membanding-bandingk an harga dan fitur yang ditawarkan di 
>> ponsel. Jika fitur hampir sama dan harga lebih murah dari produk ternama, 
>> konsumen akan memilih produk China," katanya.
>>
>>Sumber: http://www.suarakar ya-online. com/news. html?id=253183
>>
>>Salam Mejuah Juah
>>
>>Karo Cyber Community
>> 
>>
>> 
>
> 

 

Kirim email ke