Re: Jangan lupa bergembira Mejuah-juah ka kerina permilis sirulo Maon mulihken ka tersinget bas ukurku , kai kin ertina 'sirulo' enda. Kadena nge sirulo? Menam tiap wari itulis, tiap kali terkataken tapi la pernah terukuri terbagasen. Entah mbue jelmana nge maksudna? Entah mbue erbagena nge maksudna? Tapi duana enda (mbue jelma ras mbue erbagena) enggo me jadi syarat survival milista, enda pasti. Adi la lit jelmana atau la lit erbagena, ertina lanai lit kaipe. Bas la kaipe nari la kabo lit kaipe mungkin turah hehehe . . . Ibas mbue erbagena ndai, maka lit si kuning-kuningen bagepe lit ka si ageng-agengen. Duana nge kuakap terpaksa lit (alamiah?), sebab mungkinkin kita sikuning-kuningen saja la erngadi-ngadi? Atau si ageng-agengen saja la erngadi-ngadi? Sienggo senior atau lit pengalamen sejarah perkembangan milista, tentu enggo mekatep ngenanami uga bosanna adi sikuning-kuningen saja atau siageng-agengen saja 'dahinta'. Dua hal bertentangan jenda. Dialektika Karo nai, Karo sinoria enggo leben erbahan kesimpulen ndauh sope Heraclitus soal lau maler. 'Pantharei', semuanya bergerak, semua dalam proses bergerak, motion, la lit si diam tetap nina Heraclitus, lenga seh tangkelenna ku soal-soal bertentangan bas alam, bagi sikataken Karo sinoria 'aras jadi namo, namo jadi aras' atau 'icaingi muat jilena', 'sikuningen ras siagengen' rsd rsd ipersada rusur (kesatuan dari segi-segi bertentangan). Karo sinoria la nerangken prosesna, la pe ikataken enggo me jelas lau adah ndai la erngadi-ngadi maler (proses), entah bagekin ndia nai perukuren Karo sinoria, sebab dialektika enda kapken unsur dasarna gerakan (proses) ras pertentangan (dua segi bertentangan hal-ihwal). Maka seh ngayak gundari pe kalak Karo nginget denga dialektika enda, melala denga singinget perumpamaan atau kuan-kuan Karo berdasar dialektika. Ngenehen peranan dialektika enda bas Karo enggo lit nai nari, janah terpake denga ngayak gundari pe maka perlu nge kuakap kita terus-menerus ngembangken janah memperdalam 'pemeteh sinoria' enda. Enda pasti nge menyangkut survival-ta sebagai Karo ibas 'era pertentangan' sigundari, sesama Karo, daerah, nasional bagepe internasional. Arah enda me kari 'pertengangan' enda berubah jadi pendorong perkembangan, enda pasti. "Jangan lupa bergembira". Perlu kin kita kegembiraan? Kebutuhan kin enda? Ise si bertugas memenuhi kebutuhan enda? Tiap jelma Karo? Enda ka sitik tambahenku Mejuah-juah kita kerina MUG --- In [email protected], MU Ginting <gintin...@...> wrote: Apr 14, 2010 1:39 pm Fenomena baru kemanusiaan yang perlu dikembangkan Kegembiraan "Nande Kiap Sebayangâ" posting berita Edi Ginting dimilis kelihatannya seperti berita biasa soal kebakaran. Coba kita sedikit lihat dari "segi Karo" yang secara tradisi sering lebih cenderung untuk memberitakan yang "sedih"nya, apalagi kalau menceritakan kejadian yang memang menyedihkan seperti kebakaran pasar, dan menimpa diri sendiri pula. Tetapi tiba-tiba seorang ibu Karo bernama Nande Kiap Sebayang melihat "kesedihan" dalam kegembiraan, atau sering juga kita sebut melihat secara positif. Apakah ini ulasan subjektif reporter Edi Ginting untuk melahirkan suasana positif pula, saya kira tidak. Saya yakin ini adalah suasana asli yang dia gambarkan. Segi positif yang ditunjukkan pedagang-pedagang itu bukan hanya menunjukkan kegembiraan tetapi juga bahkan memikat pembeli malah pada berdatangan sehingga sisa barang yang terbakar pun jadi rebutan. Ini artinya kegembiraan mendatangkan kegembiraan, percaya atau tidak. Mari kita ubah way of tinking dunia soal kegembiraan, pertahankan dan kembangkan terus fenomena kegembiraan "Nande Kiap Sebayang". Jangan lupa bergembira! Bujur ras mejuah-juah MUG --- In [email protected], edi ginting <ediah...@...> wrote: Wed Apr 14, 2010 11:34 am Tas Sisa Kebakaran pun Habis Terjual (Kisah pedagang Pasar Senen) Ini kisah tentang para pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang kios mereka baru saja musnah terbakar pada 11 Maret 2010 dinihari lalu. Bagi mereka, tidak ada gunanya bersedih berlama-lama. Yang harus segera dilakukan adalah sesegera mungkin kembali berdagang, walaupun belum ada pengganti ruko. Mereka pun terpaksa berjualan di pinggiran lokasi Pasar Inpres Senen yang terbakar. Beragam hal unik nan jenaka mereka alami. "Tiap hari kami tertawa-tawa saja sambil jualan. Tidak ada gunanya bersedih. Bahkan, penjualan kami tetap ada, walau tempat jualannya darurat," kata Bu Kiap Sebayang saat ditanya bagaimana kondisinya setelah kebakaran lalu. Ibu (yang bahasa Karo-nya adalah nande) ini adalah salah satu korban kebakaran. Tokonya yang penuh dengan pakaian, habis terbakar. Hal yang sama juga dialami oleh delapan anggota keluarganya yang lain. Maklum saja, anak-anaknya serta beberapa beberapa saudara kandung Ibu ini, juga menjadi korban su jago merah itu. Sebagian besar adalah pedagang grosir tas. Beberapa diantara mereka ini pun membagi cerita unik dan jenaka tentang pengalaman mereka berjualan setelah musibah itu. "Saya heran juga dengan para pembeli yang datang ke Senen. Ada penjual tas yang menjual tas-tas dan dompet yang tidak ikut terbakar. Tas itu semua telah basah dan warnanya hitam yang mungkin terkena arang. Tas yang masih lumayan bagus, dijual 20 ribu. Laku sekali. Tas yang agak lusuh dijual 10 ribu, dan itupun habis. Bahkan, dompet yang warnanya sudah hitam pekat terkena arang, masih laku dijual lima ribu rupiah. Benar-benar tidak disangka. Padahal tangan si pembeli itu juga jadi kotor warna hitam saat memilih tas," kata Nande Dedy, yang masih bersaudara dengan Nande Kiap. Sambil menunggu kios yang sedang direnovasi kembali, Nande Kiap dan para pedagang lain memilih berdagang di pinggir pasar yang terbakar. Ada yang di dekat trotoar, dan ada juga yang di halaman pasar dimana masih menumpuk sampah-sampah sisa kebakaran. Mereka mengggelar barang dagangan di bawah atap terpal seadanya. Beberapa kali hujan turun dan mereka pun menikmatinya dengan penuh tawa saja. "Kalau sedang tidak ada pembeli, kami hanya ngobrol-ngobrol dan tertawa. Sesekali kami berteriak menanyakan gimana kabar kawan kami yang di sebelah sana, yang jawabannya pasti mengundang tawa. Pokoknya ramai sekali," Kata Nande Kiap yang bercerita penuh semangat. Karena berjualan di atas sisa-sisa puing kebakaran, kaki mereka pun acapkali berwarna hitam saat pulang ke rumah. Belum lagi sesak napas yang mereka alami akibat menghirup debu sisa kebakaran. Bahkan, hingga kini Nande Kiap masih mengaku mengalami gangguan pernapasan. Yang menggembirakan mereka, rupanya rejeki tetap ada di tengah musibah. Mereka mengaku masih mampu menjual barang dagangan dengan angka lumayan untuk menjaga dapur tetap berasap. Bahkan, beberapa kali hasil penjualan di luar perkiraan mereka. Suatu hari ada orang yang membeli ratusan pasang sendal yang mereka jual. Padahal hal demikian dulunya sangat jarang terjadi. Karena itu, para pedagang ini tetap optimistis berjualan sambil menunggu kios yang selesai direnovasi. Dan, yang pasti senyum dan tawa mereka terlihat jelas. “Buat apa bersedih. Harus tetap berusaha dengan hati penuh suka cita. Tuhan Dibata pasti membantu,†kata Nande Kiap di ujung pembicaraan. ---EdiGinting--- http://ediginting.blogspot.com/
