Oleh : Ris Pasha Suku Karo
terlebih di Desa Lingga, sampai saat ini masih memiliki
bangunan-bangunan tradisional seperti: rumah adat, Jambur, Lesung,
Geriten dan Sapo Page. Bentuk, bahan dan teknik mendirikan bangunan itu
hampir sama. Letak dindingnya miring ke arah luar, mempunyai dua pintu
yang menghadap ke arah barat dan timur.

 Pada
kedua ujung atap terdapat tanduk atau patung kepala kerbau. Dinding
lantai dan tiang-tiangn terbuat dari kayu. Untuk tangga ture atau tea
dibuat dari bambu. Alat pengikat dan atap digunakan ijuk. Pada beberapa
bagian rumah terdapat relief yang dicat dengan warna merah, putih,
kuning, hitam dan biru. Bangunan-bangunan itu berbentuk khusus,
melambangkan sifat-sifat khas dan suku bangsa Karo. Rumah
adat Karo mempunyai ciri-ciri serta bentuk yang khusus. Rumah ini
sangat besar dan didalammya terdapat ruangan yang luas, tidak mempunyai
kamar-kamar. Namun mempunyai bagian-bagian yang ditempati oleh keluarga
batih atau jabu tertentu. Rumah adat berdiri di atas tiang-tiang besar
serupa rumah panggung yang tingginya kira-kira dua merter lebih dari
tanah. Lantai dan dinding dari papan yang tebal dan letak dinding rumah
agak miring keluar, mempunyai dua buah pintu menghadap ke sebelah barat
satu lagi ke sebelah Timur. Tangga masuk ke
rumah juga ada dua, sesuai dengan letak pintu dan terbuat dari bambu
bulat. Menurut kepercayaan mereka, jumlah anak tangga harus ganjil. Di
depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu
bulat, besar dan kuat disebut Ture. Ture ini digunakan untuk anak gadis
bertenun. Sedang pada malam hari, Ture atau serambi ini, berfungsi
sebagai tempat naki-naki atau tempat perkenalan para pemuda dan pemudi
untuk memadu kasih. Sesuai dengan atapnya, rumah
adat karo terdiri dari dua macam, yaitu rumah adat biasa dan rumah
anjung-anjung. Pada rumah adat biasa mempunyai dua ayo-ayo dan dua
tanduk kepala kerbau. Sedangkan pada rumah anjung-anjung terdapat
paling sedikit ayo-ayo dan tanduk kepala kerbau. Teknologi
tradisional lainnya yang masih ada peninggalannya di desa Lingga adalah
Sapo Page yang artinya lumbung padi. Bentuk Sapo Page, seperti rumah
adat. Letaknya di halaman depan rumah adat. Tiap-tiap Sapo Page milik
dari beberapa jambu atas rumah adat. Sama dengan Geriten, Sapo Page
terdiri dari dua tingkat dan berdiri di atas tiang. Lantai bawah tidak
berdinding. Ruang ini digunakan untuk tempat duduk-duduk, beristirahat
dan sebagai ruang tamu. Lantai bagian atas mempunyai dinding untuk
menyimpan padi. Warisan budaya berupa bangunan
lain yang masih dapat kita jumpai di desa Lingga, lesung antik. Lesung
ini dibuat dari kayu pangkih sejenis kayu keras. Lesung ini mempunyai
tiga puluh empat buah lubang tempat menumbuk padi. Letak lubang ada
yang berpasang-pasang dan ada pula yang sebaris memanjang. Lesung ini
terletak dalam sebuah bangunan tradisional yang tidak berdinding.
Bangunan ini mempunyai enam buah tiang-tiang besar, tiga sebelah kanan
yang disebut binangun Pinem. Kenangan Salah
satu karya tradisi yang mempertegas bahwa rumah tidak sekedar
menonjolkan efisiensi fungsi ruang, tapi juga tempat menumbuhkan
nilai-nilai. Salah satunya kebersamaan, salah satu nilai kuat
dipancangkan di rumah adat Karo Rumah Adat Karo merupakan simbol
kebersamaan masyarakat Karo itu sendiri.  Bangunan
rumah Tradisional Karo memiliki dua belas, delapan, enam dan empat
keluarga yang hidup berdampingan dalam keadaan damai dan tenteram.
Rumah warisan budaya Karo berusia ratusan tahun dan terdapat di
sejumlah desa di Kabupaten Karo, termasuk di Desa Lingga. Rumah adat
itu di sebut di waluh jabu, sepulu dua jabu, enem jabu dan empat jabu.
Artinya dalam rumah adat sepuludua jabu, dalam rumah adat itu terdapat
12 kepala keluarga dan seterusnya. Bahan
bangunan rumah tradisionil ini dari kayu bulat, papan, bambu dan
beratap ijuk tanpa menggunakan paku yang dikerjakan tenaga arsitektur
masa lalu. Rumah adat karo memiliki dua pintu, yang letaknya di bagian
depan dan yang satunya lagi di belakang. Jumlah jendela-nya ada
delapan. Empat ada di samping kiri dan kanan. Empatnya
lagi ada di bagian depan dan belakang. Organisasi rumah adat ini
berpola "linier" karena ruangan-nya menunjukkan bentuk garis. Pada
beberapa bagian rumah, terdapat relief yang dicat dengan warna merah,
putih, kuning, hitam dan biru. Bangunan-bangunan itu berbentuk khusus
yang melambangkan sifat-sifat khas dan suku Karo. Keunikan
dari rumah adat Karo dibandingkan dengan rumah adat lainnya yang ada di
Sumatera adalah pada atapnya. Atap rumah adat karo bertingkat dua dan
pada kedua ujung atap terdapat tanduk kerbau. Kondisi
rumah peninggalan nenek moyang Karo tersebut sangat memprihatinkan. Di
Desa Lingga terdapat sekitar 28 rumah adat. Kini tinggal 2 buah lagi
yang layak huni, yakni rumah Gerga (Raja) dan rumah Blang ayo. Sekitar
5 rumah adat disana berdiri miring dan hampir rubuh. Sedangkan rumah
adat lainnya telah rubuh. Menurut Tokoh
Masyarakat Lingga, pernah ada upaya yang dilakukan untuk merehabilitasi
rumah adat melalui pihak pemerintah dan swasta, tapi sampai saat ini
belum terealisasi. Ada juga pernah membantu tapi belum mencukupi. Biaya  
rehabilitasi rumah adat di Lingga memerlukan dana sekitar 2, 5 Miliar. "Kami 
berharap dana rehabilitasi rumah adat Lingga dianggarkan  dalam APBD Karo," 
kata mereka. Dulu
Desa Lingga merupakan salah satu daerah tujuan wisata, Sumut yang juga
memiliki Lumbung Padi, Lesung Antik dan Geriten (bangunan tempat
menyimpan tengkorak sanak keluarga yang telah meninggal). Dengan
kurangnya keperdulian terhadap Rumah Adat Karo ini, diperkirakan, tak
lama lagi Rumah Adat Karo hanya tinga kenangan. Anak cucu yuang lahir
di abad sekarang, hanya mampu melihat foto-foto belaka. Kapan rumah
adat Karo dan relief-leriefnya yang memiliki makna cukup tinggi bisa
direhabilitasi? Kita hanya bisa menunggu saja. Dikutip dari berbagai sumber
Sumber: 
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=60610%3Arumah-adat-karo-dan-reliefnya&catid=95%3Aartikel-seni&Itemid=29
Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community



      

Kirim email ke