"Demokrasi Produktif"
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum sedang sibuk mengkampanyekan 
demokrasi produktif yang digagasnya (detiknews, Minggu, 08/08/2010 14:55 WIB). 
"Caranya, lewat kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang bisa 
menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran." katanya. Anjurannya yang lain 
(apakah termasuk dalam konsep demokrasi produktif?) ialah otokritik parpol 
mutlak diperlukan, budaya fairness, dan gaya berpolitik dan berdemokrasi 
seperti Barrack Obama dan Hillary Clinton. 
Resep utama demokrasi sang ketua PD Anas Urbaningrum seperti diatas ialah 
kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah supaya bisa menurunkan 
kemiskinan dsb. Sang ketua sepintas lalu sepertinya ngomong asal ngomong, 
karena jelas bahwa Demokrasi dan Kebijakan pemerintah/penguasa adalah dua benda 
yang berlainan. Sang ketua hanya menunjukkan hati tulusnya supaya pemerintah 
(pusat dan daerah) hendaknya membahagiakan rakyatlah. Disamping itu 
otokritiklah, fairlah, harmonilah sesama kita keturunan Adam dan Eva, 
setidaknya seperti Obama dan Clinton . . . 
Harapan kita kepada tenaga muda nasional dan potensial seperti Anas Urbaningrum 
ialah meningkatkah lagi  gagasannya, masih akan terus bisa berkembang, karena 
hanya perubahanlah yang tetap.
MUG
--
 
Minggu, 08/08/2010 14:55 WIB
Anas Tawarkan Konsep Demokrasi Produktif di Indonesia
Muhammad Nur Hayid – detikNews
Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum terus membangun kapasitas 
intelektual dan gagasannya di sela-sela menjalankan tugas konsolidasi parpol. 
Anas terus melebarkan sayap dengan berkeliling ke seluruh Indonesia untuk 
membenahi partainya sambil mengkampanyekan demokrasi produktif yang digagasnya.
"Demokrasi yang kita bangun saat ini sudah berjalan pada rel yang tepat. Dalam 
penerapan demokrasi yang ada sekarang hanya banyak menguntungkan elit-elit 
nasional dan daerah, belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Oleh karena itu, saya 
menawarkan konsep demokrasi produktif," kata Anas.
Hal itu disampaikan Anas kepada detikcom, Minggu (8/8/2010). Anas menawarkan 
gagasan barunya itu saat memberikan pidato politik dalam acara Rapat Senat 
Terbuka dalam rangka wisuda mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 
Malang, Jawa Timur, kemarin. 
Menurut tokoh muda potensial ini, gagasan demokrasi produktif itu tidak lahir 
secara tiba-tiba. Gagasan ini muncul dari situasi sosial dan politik yang masih 
tidak memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi stakeholder demokrasi, yaitu 
rakyat. Sebab, selama ini insentif demokrasi hanya dirasakan oleh para pelaku 
politik dan lingkungannya.
"Gagasan ini ingin memastikan bahwa seluruh insentif demokrasi bisa dirasakan 
oleh seluruh rakyat. Caranya, lewat kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah 
daerah yang bisa menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Sebaliknya 
demokrasi bisa meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas harmoni  
antarmasyrakat," tegas Anas yang disambut tepuk tangan hadirin.
Menurut dia, otokritik parpol di Indonesia mutlak diperlukan jika ingin 
kehidupan berpartai di negeri ini menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi 
rakyat. Selain itu, para politisi dan publik juga harus mendorong budaya 
fairness dan suportivitas dalam berkompetisi. Sebab, tanpa ada penghargaan pada 
aturan main, konsep demokrasi yang dibangun hanya akan menguntungkan elit-elit 
politik saja. 
"Kalau partai politik ingin mendorong hadirnya karakter sportif, maka politisi 
juga harus menghadirkan sportivitas dalam praktek politiknya. Salah satu 
contohnya keberanian mengakui kekalahan. Karena pasca kompetisi yang dibutuhkan 
kooperasi," tegas Anas.
Anas mengajak para politisi dan elit negeri ini mencontoh gaya berpolitik dan 
berdemokrasi seperti Barrack Obama dan Hillary Clinton. Betapa pun dahsyatnya 
kompetisi antar kedua tokoh Amerika Serikat (AS) itu, tetapi pada titik 
tertentu, Obama dan Hillary bisa satu gerbong untuk mewujudkan kepentingan 
kolektif yang lebih besar.
"Kompetisi Hillary dan Obama sangat keras, bahkan pada batas-batas tertentu 
sampai pada urusan pribadi. Tapi ketika hasil konvensi diumumkan, Hillary bisa 
menerima kekalahan dan malah menjadi pendukung utama Obama. Hillary bukan saja 
mengakui kekalahan, tapi sekaligus memberi dukungan penuh pada kampanye 
Presiden Obama," tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Anas juga menyinggung soal maraknya tradisi konflik 
internal partai dan konflik horizontal akibat agenda politik seperti 
pemilukada. Cara-cara seperti itu harus dihentikan jika masih ingin membangun 
demokrasi yang bermartabat.
"Tradisi ngamuk itu harus dijauhkan. Tidak semua partai politik bisa melewati 
ujian itu dengan baik. Bahkan mereka tidak bisa menghidupkan tradisi demokrasi 
di dalam internalnya itu," terangnya.
(yid/irw)
 
--
 


Kirim email ke