Mejuah-juah permilis sirulo kerina
Si imulai Medi enda, banci ka kuakap jadi sada tema diskusi aktual man banta 
permilis. Soal 'demokrasi produktif', demokrasi sosial, dan demokrasi liberal 
Barat, atau banci kang itambahi salu 'demokrasi etnis' karangan MUG hehehe . . 
. 
Lenga terbetteh luas uga situhuna 'demokrasi produktif' Anas enda. Tapi 
tersinget ia sada masalah perusak demokrasi emkap 'politik uang'. Anas 
ngarapken nadingken politik uang enda. Melala ka nge banci itulis teorina, tapi 
praktisna uga maka kalak Indoanesia nadingken politik uang enda, la lit si 
mettehsa. Lit kang si meruntus, tembak mati nina. Tapi i China tiap uari 
itembaki, la keri-keri atau la berkurang, gia sangana era komunisme Mao la 
pernah terbegi kalak korupsi. Hukuman 'ratusan tahun' atau hukuman mati di USA, 
tetap muat lalana kang si jadi jahat. La kin erbahan kemamangen ngenda? Lenga 
kin lit analisa si menyinggung persoalen dasarna? Sebab utamana?
Tapi kai gia ningen percobaan Anas mengkedepankan idenya jadi diskusi orang 
banyak, pasti tidak merugikan. Dari bantah membantah akan mungkin muncul yang 
baru, tak terduga bagi semua pihak. Gagasan apa saja juga diuji disitu. Bas 
milis enda pe inganna kang.
Enda ka sitik tambahenku
Bujur
MUG

--- In [email protected], medi sembiring <medy_sembir...@...> wrote:
Re: "Demokrasi Produktif" 

Masih agak kabur konsep Demokrasi Produktif yang ditawarkan Ketua Umum Partai 
Demokrat ini. Sehingga, masih sangat diragukan, jikalau konsepnya ini sanggup 
menjadi  Jalan Akhir Menuju Pembebasan Rakyat Indonesia. Baik secara lokal 
maupun nasional.  

Atau, yang dia maksud dengan Demokrasi Produktif  adalah bahasa lain dari 
Demokrasi Sosial sebagai Peta Jalan Penghapusan Kemiskinan....?   

Bukan berarti saya bermaksud mengatakan kalau Anas menjiplak (sebagian besar ) 
dari Platform Demokrasi Sosial. Barangkali ada aron yang berkenan memberi 
pencerahan lebih mendalam perihal uraian Ketum Demokrat tersebut.... Bujur

Salam

Dirgahayu Indonesia

MJS
 

Minggu, 08/08/2010 14:55 WIB
Anas Tawarkan Konsep Demokrasi Produktif di Indonesia 

Muhammad Nur Hayid â€" detikNews 

Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum terus membangun kapasitas 
intelektual dan gagasannya di sela-sela menjalankan tugas konsolidasi parpol. 
Anas terus melebarkan sayap dengan berkeliling ke seluruh Indonesia untuk 
membenahi partainya sambil mengkampanyekan demokrasi produktif yang digagasnya.
"Demokrasi yang kita bangun saat ini sudah berjalan pada rel yang tepat. Dalam 
penerapan demokrasi yang ada sekarang hanya banyak menguntungkan elit-elit 
nasional dan daerah, belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Oleh karena itu, saya 
menawarkan konsep demokrasi produktif," kata Anas.
Hal itu disampaikan Anas kepada detikcom, Minggu (8/8/2010). Anas menawarkan 
gagasan barunya itu saat memberikan pidato politik dalam acara Rapat Senat 
Terbuka dalam rangka wisuda mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 
Malang, Jawa Timur, kemarin. 
Menurut tokoh muda potensial ini, gagasan demokrasi produktif itu tidak lahir 
secara tiba-tiba. Gagasan ini muncul dari situasi sosial dan politik yang masih 
tidak memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi stakeholder demokrasi, yaitu 
rakyat. Sebab, selama ini insentif demokrasi hanya dirasakan oleh para pelaku 
politik dan lingkungannya.
"Gagasan ini ingin memastikan bahwa seluruh insentif demokrasi bisa dirasakan 
oleh seluruh rakyat. Caranya, lewat kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah 
daerah yang bisa menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Sebaliknya 
demokrasi bisa meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas harmoni  
antarmasyrakat, " tegas Anas yang disambut tepuk tangan hadirin.
Menurut dia, otokritik parpol di Indonesia mutlak diperlukan jika ingin 
kehidupan berpartai di negeri ini menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi 
rakyat. Selain itu, para politisi dan publik juga harus mendorong budaya 
fairness dan suportivitas dalam berkompetisi. Sebab, tanpa ada penghargaan pada 
aturan main, konsep demokrasi yang dibangun hanya akan menguntungkan elit-elit 
politik saja. 
"Kalau partai politik ingin mendorong hadirnya karakter sportif, maka politisi 
juga harus menghadirkan sportivitas dalam praktek politiknya. Salah satu 
contohnya keberanian mengakui kekalahan. Karena pasca kompetisi yang dibutuhkan 
kooperasi," tegas Anas.
Anas mengajak para politisi dan elit negeri ini mencontoh gaya berpolitik dan 
berdemokrasi seperti Barrack Obama dan Hillary Clinton. Betapa pun dahsyatnya 
kompetisi antar kedua tokoh Amerika Serikat (AS) itu, tetapi pada titik 
tertentu, Obama dan Hillary bisa satu gerbong untuk mewujudkan kepentingan 
kolektif yang lebih besar.
"Kompetisi Hillary dan Obama sangat keras, bahkan pada batas-batas tertentu 
sampai pada urusan pribadi. Tapi ketika hasil konvensi diumumkan, Hillary bisa 
menerima kekalahan dan malah menjadi pendukung utama Obama. Hillary bukan saja 
mengakui kekalahan, tapi sekaligus memberi dukungan penuh pada kampanye 
Presiden Obama," tegasnya.
Dalam kesempatan ini, Anas juga menyinggung soal maraknya tradisi konflik 
internal partai dan konflik horizontal akibat agenda politik seperti 
pemilukada. Cara-cara seperti itu harus dihentikan jika masih ingin membangun 
demokrasi yang bermartabat.
"Tradisi ngamuk itu harus dijauhkan. Tidak semua partai politik bisa melewati 
ujian itu dengan baik. Bahkan mereka tidak bisa menghidupkan tradisi demokrasi 
di dalam internalnya itu," terangnya.
(yid/irw) 

  
 
 


Kirim email ke