Lit sejumlah pemikiren-pemikiren mentas tambahenna ma (MUG)

1. Mungkin Anas melihat, Demokrasi Pancasila tidak lagi relevan dengan situasi 
masa kini di Indonesia
2. Sebagai tokoh politik, Anas membutuhkan jargon sesuai porsi dan posisinya 
saat ini.
3. Semanis apapun jargon/praktek demokrasi yang diinisiasi sebuah rezim, bila 
tidak ditopang kemakmuran ekonomi, maka lambat laun rakyat akan menggugatnya
4. Soal politik uang, mungkin ini erat kaitannya dengan kadar pendidikan, 
ekonomi dan terutama kadar spiritualitas orang/kelompok yang bersangkutan
5. Bisa jadi juga, Demokrasi Produktif yang dilontarkan Anas tersebut, 
merupakan pintu masuk menuju wellfare-state, sebagaimana kebijakan sosial - 
ekonomi Swedia, yang berhasil menyeimbangkan antara generosity kebijakan sosial 
dan competitivenes perekonomian. Payo nge ndia bage ijena ma .. . . ?    Besar 
kemungkinan, konsep Anas ini merupakan duplikasi dari sistem yang telah ada, 
namun "dibumbui" dengan sejumlah inovasi.
 6. Pada suatu kesempatan nanti ma, ingin saya berbincang-bincang denganndu, 
perihal Demokrasi Etnis dan Kepemimpinan Lokal. Mumpung bisa On Line dengan 
designernya...ha.ha.ha.ha.

Ada lagi sejumlah percikan-percikan informasi sampai di sini. Katanya, di 
Amerika hukumnya berjalan dan melakukan kontrol terhadap korupsi. Sehingga, 
korupsi terjadi dengan lebih canggih, terutama di tingkat atas. Sementara, di 
level bawah, kontrol masyarakat sangat kuat. 

Salam akhir pekan buat kita semua

MJS


--- On Wed, 8/11/10, gintingmu <[email protected]> wrote:

From: gintingmu <[email protected]>
Subject: [komunitaskaro] Re: "Demokrasi Produktif"
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 11, 2010, 1:55 PM







 



  


    
      
      
      



Re: "Demokrasi Produktif" 



Mejuah-juah permilis sirulo kerina

Si imulai Medi enda, banci ka kuakap jadi sada tema diskusi aktual man banta 
permilis. Soal 'demokrasi produktif', demokrasi sosial, dan demokrasi liberal 
Barat, atau banci kang itambahi salu 'demokrasi etnis' karangan MUG hehehe . . .

Lenga terbetteh luas uga situhuna 'demokrasi produktif' Anas enda. Tapi 
tersinget ia sada masalah perusak demokrasi emkap 'politik uang'. Anas 
ngarapken nadingken politik uang enda. Melala ka nge banci itulis teorina, tapi 
praktisna uga maka kalak Indoanesia nadingken politik uang enda, la lit si 
mettehsa. Lit kang si meruntus, tembak mati nina. Tapi i China tiap uari 
itembaki, la

keri-keri atau la berkurang, gia sangana era komunisme Mao la pernah terbegi 
kalak korupsi. Hukuman 'ratusan tahun' atau hukuman mati di USA, tetap muat 
lalana kang si jadi jahat. La kin erbahan kemamangen ngenda? Lenga kin lit 
analisa si menyinggung persoalen dasarna? Sebab utamana?

Tapi kai gia ningen percobaan Anas mengkedepankan idenya jadi diskusi orang 
banyak, pasti tidak merugikan. Dari bantah membantah akan mungkin muncul yang 
baru, tak terduga bagi semua pihak. Gagasan apa saja juga diuji disitu. Bas 
milis enda pe inganna kang.

Enda ka sitik tambahenku

Bujur

MUG



--- In [email protected], medi sembiring <medy_sembir...@...> wrote:



Re: "Demokrasi Produktif"



Masih agak kabur konsep Demokrasi Produktif yang ditawarkan Ketua Umum Partai 
Demokrat ini. Sehingga, masih sangat diragukan, jikalau konsepnya ini sanggup 
menjadi Jalan Akhir Menuju Pembebasan Rakyat Indonesia. Baik secara lokal 
maupun nasional.



Atau, yang dia maksud dengan Demokrasi Produktif adalah bahasa lain dari 
Demokrasi Sosial sebagai Peta Jalan Penghapusan Kemiskinan....?



Bukan berarti saya bermaksud mengatakan kalau Anas menjiplak (sebagian besar ) 
dari Platform Demokrasi Sosial. Barangkali ada aron yang berkenan memberi 
pencerahan lebih mendalam perihal uraian Ketum Demokrat tersebut.... Bujur



Salam



Dirgahayu Indonesia



MJS



Minggu, 08/08/2010 14:55 WIB

Anas Tawarkan Konsep Demokrasi Produktif di Indonesia



Muhammad Nur Hayid â€" detikNews



Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum terus membangun kapasitas

intelektual dan gagasannya di sela-sela menjalankan tugas konsolidasi parpol.

Anas terus melebarkan sayap dengan berkeliling ke seluruh Indonesia untuk

membenahi partainya sambil mengkampanyekan demokrasi produktif yang digagasnya.

"Demokrasi yang kita bangun saat ini sudah berjalan pada rel yang tepat. Dalam

penerapan demokrasi yang ada sekarang hanya banyak menguntungkan elit-elit

nasional dan daerah, belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Oleh karena itu, saya

menawarkan konsep demokrasi produktif," kata Anas.

Hal itu disampaikan Anas kepada detikcom, Minggu (8/8/2010). Anas menawarkan

gagasan barunya itu saat memberikan pidato politik dalam acara Rapat Senat

Terbuka dalam rangka wisuda mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),

Malang, Jawa Timur, kemarin.

Menurut tokoh muda potensial ini, gagasan demokrasi produktif itu tidak lahir

secara tiba-tiba. Gagasan ini muncul dari situasi sosial dan politik yang masih

tidak memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi stakeholder demokrasi, yaitu

rakyat. Sebab, selama ini insentif demokrasi hanya dirasakan oleh para pelaku

politik dan lingkungannya.

"Gagasan ini ingin memastikan bahwa seluruh insentif demokrasi bisa dirasakan

oleh seluruh rakyat. Caranya, lewat kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah

daerah yang bisa menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Sebaliknya

demokrasi bisa meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas harmoni 

antarmasyrakat, " tegas Anas yang disambut tepuk tangan hadirin.

Menurut dia, otokritik parpol di Indonesia mutlak diperlukan jika ingin

kehidupan berpartai di negeri ini menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi rakyat.

Selain itu, para politisi dan publik juga harus mendorong budaya fairness dan

suportivitas dalam berkompetisi. Sebab, tanpa ada penghargaan pada aturan main,

konsep demokrasi yang dibangun hanya akan menguntungkan elit-elit politik saja.

"Kalau partai politik ingin mendorong hadirnya karakter sportif, maka politisi

juga harus menghadirkan sportivitas dalam praktek politiknya. Salah satu

contohnya keberanian mengakui kekalahan. Karena pasca kompetisi yang dibutuhkan

kooperasi," tegas Anas.

Anas mengajak para politisi dan elit negeri ini mencontoh gaya berpolitik dan

berdemokrasi seperti Barrack Obama dan Hillary Clinton. Betapa pun dahsyatnya

kompetisi antar kedua tokoh Amerika Serikat (AS) itu, tetapi pada titik

tertentu, Obama dan Hillary bisa satu gerbong untuk mewujudkan kepentingan

kolektif yang lebih besar.

"Kompetisi Hillary dan Obama sangat keras, bahkan pada batas-batas tertentu

sampai pada urusan pribadi. Tapi ketika hasil konvensi diumumkan, Hillary bisa

menerima kekalahan dan malah menjadi pendukung utama Obama. Hillary bukan saja

mengakui kekalahan, tapi sekaligus memberi dukungan penuh pada kampanye Presiden

Obama," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Anas juga menyinggung soal maraknya tradisi konflik

internal partai dan konflik horizontal akibat agenda politik seperti pemilukada.

Cara-cara seperti itu harus dihentikan jika masih ingin membangun demokrasi yang

bermartabat.

"Tradisi ngamuk itu harus dijauhkan. Tidak semua partai politik bisa melewati

ujian itu dengan baik. Bahkan mereka tidak bisa menghidupkan tradisi demokrasi

di dalam internalnya itu," terangnya.

(yid/irw)





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke