Nuansa Pencitraan Masih Kental di Pidato SBY
Selasa, 17 Agustus 2010 - 08:08 wib
Dede Suryana – Okezone
JAKARTA - Pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Gedung 
DPR kemarin dinilai datar dan normatif. Kesan memuji program sendiri justru 
dominan dalam pidato tersebut. Hal ini mencerminkan kentalnya nuansa pencitraan 
dalam komunikasi politik SBY.
Demikian diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas Paramadina Mohammad 
Ikhsan Tualeka. "Ada banyak hal mendasar publik yang semestinya menjadi titik 
tekan Presiden, tapi terkesan terabaikan. SBY sepertinya mau memberikan kesan 
bahwa situasi dalam negeri baik-baik saja,” ujarnya kepada okezone, Selasa 
(17/8/2010).
Menurut Ikhsan, praktik tersebut mirip dengan gaya politik orde baru yang 
cenderung menyimpan persoalan di balik “karpet” sehingga yang terlihat hanya 
bagus-bagus saja, padahal yang terjadi justru sebaliknya.
“Persoalan akan semakin akut dan sewaktu-waktu bisa meledak, atau menjadi 
masalah sosial yang lebih besar," ungkapnya.
Hal ini, menurut Ikhsan, mempertegas bahwa SBY sudah benar-benar tejebak dalam 
praktek komunikasi politik yang hanya berorientasi pada pencitraan yang akut. 
“Sehingga cenderung narsis dan menafikan realitas objektif yang dialami dan 
dirasakan publik," katanya.
Pencitraan yang dimaksud, antara lain politik tebar janji akan menaikan gaji 
PNS TNI/Polri dan Pensiunan rata-rata di atas 10 persen. Padahal, kata Ikhsan, 
hal itu tidak akan banyak memberi arti karena tahun depan pemerintah kembali 
berencana menaikan Tarif dasar listrik (TDL) dan BBM hingga 15 persen.
“Selain itu sebagai pemimpin yang memiliki tinggat legitimasi publik yang 
meyakinkan lewat pemilu, SBY kering dengan gagasan-gagasan besar yang bisa 
menjadi jembatan emas untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik," 
jelasnya.(ded)
 

Kirim email ke