Iya…, bedil di medan Juang tak pernah berdentam,
Pertanda perang tak pernah ada,
Ataukah sang pejuang telah kalah sebelum berjuang?
Nyatanya musuh masih juga bebas berpesta ria,
Menari ria di punggung sengsara bunda pertiwi.
 
Iya…mulut-mulut itu memang telah berdentam,
Membahana bak auman harimau liar sumatera,
Pertanda niat berjuang memang ada.
Namun niat juang itu masih mengundang tanya,
Perjuangan mengusir sengsara bunda pertiwi kah?
Ataukah juang mengundang decak kagumnya si pandir pasar?
 
Kadang ku bertanya,
Mengapa auman itu baru terdengah dimusim seperti ini,
Bertapakah dia selama ini?
Ataukah terus saja sibuk menghitung peluru?
Ataukah sibuk menonton pertiwi digerus musuh?
Ataukah pesta di dirumahmu belum usai?
 
Achh…bedil sianak juang rupanya telah siap-siap berdentam,
Bunda pertiwi menanti perjuanganmu yang nyata.
Kuberharap, janganlah kau menjadi pejuang musiman,
Juang sekedar meraih tahta.
Lebih dari itu, berjuanglah  disegala musim,
Juang meraih bahagia bagi seantero pertiwi,
Bagai juangnya pahlawan bangsa.
 
Selamat berjuang wahai calon pahlawan.
 
California, Agustus 10


      

Kirim email ke