Bahwa hanya masa depan yang sudah pasti, sedangkan masa lalu selalu akan berubah-ubah kelihatannya sudah merupakan perumusan yang harus kita terima dengan ringan (dan berat) hati. Sering meringankan dan tak jarang juga memberatkan hati kita. Itulah paradoxnya, masa lalu yang sudah pasti dan sudah terjadi tetapi masih bisa berubah dan akan selalu berubah-ubah. "jikalau kelak nanti benar kalau Tumbuk Lada memang berasal dari Malaysia, sudikah kita (suku Karo) disebut-sebut berasal dari Malaysia", kata Joey Bangun. Berasal dari Malaysia (sama-sama introversi) atau berasal dari Toba (dari extroversi ke introversi), lagi-lagi satu paradox karena bangsa-bangsa maupun suku bangsa dunia umumnya bisa digolongkan kedalam dua watak besar kemanusiaan. Paradox atau kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan atau perkembangan seperti sudah sering kita bicarakan di milis terlihat tepat juga dalam soal ini. Kalau kita diam dan menerima saja apa adanya, maka tidak akan ada penelitian lebih lanjut dan tidak ada perkembangan. Tapi sekarang ini kita tidak hanya cogito ergo sum, tapi I live I counter sebagai tanda kehidupan. Apakah Pantarei Karo Kuno lebih tua dari Pantarei Yunani Kuno (semuanya mengalir) dan Yunani kuno Heraklitos sebagai penemu pertama dialektika, juga masih bisa berubah-ubah, terutama dilihat dari Pantarei Karo yang sudah lebih lengkap dan sangat sempurna. Dalam Pantarei Karo (aras jadi namo, namo jadi aras) sudah tercakup proses yang tak henti-hentinya + perubahan segi-segi bertentangan didalamnya (tes-antites-syntes). Dalam Pantarei Heraklitos hanya menyebutkan yang pertama, artinya belum sampai menjelaskan tes-antites-syntes. Salam mejuah-juah MUG --- In [email protected], Joey Bangun <joeyban...@...> wrote: Re: [komunitaskaro] Tumbuk Lada diklaim Warisan Kebudayaan Malaysia Pisau Tumbuk Lada pernah masuk daftar klaim warisan budaya Malaysia yang dimuat di harian Kompas. Bahkan Kompas memuat gambar Tumbuk Lada ini di halaman pertama di edisi tahun 2009 lalu bersama gambar daftar budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia. Sayangnya Kompas justru mengatakan kalau Tumbuk Lada yang disebut Badik Tumbuk Lada itu berasal dari Kepulauan Riau, Deli, dan Siak.dan tahun klaim 2005. Kalau memang Tumbuk Lada berasal dari Karo, harian seperti Kompas saja lupa bahwa warisan budaya Indonesia ini berasal dari Karo. Ditengah kecamuknya perdebatan kalau suku Karo berasal dai Batak (baca : Toba), jikalau kelak nanti benar kalau Tumbuk Lada memang berasal dari Malaysia, sudikah kita (suku Karo) disebut-sebut berasal dari Malaysia :) http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg92519.html http://duniawarez.com/archive/index.php/t-2319.html Regards,
Joey Bangun From: Dedy Sinuhaji <dedis...@...> To: Komunitas Karo <[email protected]>; [email protected] Cc: Milis Tanah Karo <[email protected]> Sent: Tue, August 24, 2010 10:40:06 AM Subject: [komunitaskaro] Tumbuk Lada diklaim Warisan Kebudayaan Malaysia Senjata tradisional dari Tanah Karo, Tumbuk Lada sudah diklaim Malaysia menjadi warisan kebudayaan merekaaa. Sebagai masyarakat Karo, apakah kita tinggal diam dan menunggu sampai Presiden SBY ituu mengambil tindakan kepada Malaysiaaa... http://malaysiana.pnm.my/05/0508tumbuk%20_lada.htm Cheersâ„¢ Dedy Sinuhaji Medan, North Sumatera www.sinuhajimage.com
