"Sayang sekali dimilis kita ini tak ada moderator yang bisa mengarahkan diskusi
agar terarah dan ada maknanya." (Mazmur Tarigan)
Enda sada cara pandang soal pengarahan atau kepemimpinan. Labo lit lepakna cara
pandang sibagenda, tapi ngidah perkembangan janah kai pe kapken berkembang nge
la erngadi-ngadi, perubahan ngenca sitetap. Termasuk bas soal pengarahan atau
kepemimpinan atau leadership enggo seh dauhna perkembangenna termasuk bas
tradisi perusahaan/bisnis adi ibandingken ras kai si enggo tercapai bas th
50-60an. Telu arah besar perkembangan dunia (EQ, demokrasi, leadership), soal
leadership enda pasti banci mbaba perubahan besar dan perkembangan besar bas
kita Karo adi ras-ras kita kerina mulaisa. Terakhir emkap soal empowerment.
Sada keuntungen man banta emkap enggo lit bibitna bas kita Karo imulai bas
dasar demokrasi horizontal Karo ras dasar kepemimpinan ije. Enggo lit nai nari
bas Karo sinoria nari. Maka banci ikataken kompatibel ras perkembangan dunia.
Tapi era kolonial janah terutama 30 th Orba melala pengaruhna encedai
dasar-dasar leadership Karo enda. Sope kolonialpe enggo me lit keteraturen bas
kegeluhen masyarakat Karo si dasarna Tritunggal Karo. Gia enda lebih menyeluruh
bas kekeluargaan, tapi terbukti bas sistem kemasyarakatan ('pemerintahan') Karo
nai-nai naripe berjalan lancar. Struktur alamiah la formalitas. Mungkin kin bas
milis enda iterusken praktek kepemimpinan Karo?
Seterusna lebih luas pe kuakap bas masyarakat Karo lit denga nge kemungkinan
kelahiran pemimpin secara alamiah, ertina lahir dari perjuangan itu sendiri
(bukan ditunjuk atau dipilih). Gia gundari si encedai ndai si dominasi, duit
banyak, kekuasaan dsb. Uga ngubah dominasi enda, bage denga nge kuakap tingkat
perkembangan gundari. Adi Rp 5 milyard maka lulus jadi balon/bupati, tentu enda
enggo soal bisnis, ertina jadi Rp 10 milyard selama dinas 5 th gelah lit
untungna. Encage apai si bujur la nggit nggunaken sen gia melala senna, mungkin
kin ia menang? Tentu banci kang nggunaken popularitasna (adi lit), tapi mungkin
kin menang adi la itolong salu duit? Tentu si meganjang popularitasna di
masyarakat lebih pede berani tanpa duit. Tapi pengaruh duit dan pengaruh
kejujuran bagi pemilih Karo masih dalam tingkat perlombaan yang dalam tingkat
kesedaran sekarang sudah bisa dipastikan siapa yang menang. Kita tak mungkin
juga menyalahkan pemilih, begitulah tingkat kita.
Karena itu sudah bisa dipastikan perkembangan balon Karo, pemenang pertama
ialah yang punya duit terbanyak, berikutnya yang jujur + duit, seterusnya yang
jujur tanpa duit. Popularitas calon sedikit membantu atau banyak membantu,
terutama pede balon.
Info atau pengetahuan kita satu persatu soal balon masih sangat minimal, tetapi
pasti juga bisa bertambah dengan masukan dari semua teman yang rela mengirim ke
milis dengan semua data yang diketahui, dengan tak menghiraukan pro-kontra
terhadap balon. Perlu semua pendapat dan data.
Salah satu balon ikut jadi anggota milis (Petrus Sitepu). Banyak pikiran sering
dia postingkan ke milis kita, jadi sedikit banyaknya diantara kita sudah banyak
yang punya gambaran tentang pikirannya. Dari penilaian saya pak PS adalah
seorang serius dan bertanggung jawab, bisa dikatakan juga berhasil dalam bisnis
pertanian dan peternakan, termodern di daerah Sumut.
Balon Riemenda Ginting (anak pejuang Djamin Gintings), ketua HMKI. Sangat
prihatin akan perkembangan Karo dan wanitanya, kalau saya membandingkan
keperihatinan Mega terhadap Indonesia, ada miripnya, artinya disitu tersirat
semua kelebihan dan kekurangannya. "Saya janji bila kami terpilih, masalah air
akan kami tuntaskan" katanya antara lain, dan juga kabarnya telah menyusun
'kontrak politik'. (Waspada online 19 august 2010). Kontrak politik enda sada
tema menarik!
Lit ka Karo Jambi, lenga lit infona ku milista, tapi pernah posting ku milis
infokaro.
Enda ka sitik
Salam
MUG
--- In [email protected], Zoblok Entertainment <zob...@...> wrote:
Semakin tak objektif diskusinya.
Sayang sekali dimilis kita ini tak ada moderator yang bisa mengarahkan diskusi
agar terarah dan ada maknanya.
Kalau begini jumpa kedai kopi saja kita, pala kin susah-susah :)
Satu hal yang merusak karakter anak-anak muda karo karena didikan orang tuanya,
yakni orang tua setiap kali marah pasti akan berkata : "ADI LAKIN PERBAHAN AKU
LABAU KAU JADI KAIPE". Coba kita renungkan dan cerna secara perlahan perkataan
yang sering terucap dari para orang tua tempo dulu ini. Efeknya anaknya juga
akan berkata seperti itu alias tumbuh sifat EGOIS yang tinggi pada kita orang
karo.
Bujur
Pada 30 Agustus 2010 09.55, Inigo Tarigan <kikintari...@...> menulis:
Majulah pejuang...
Tak peduli bapak mu jenderal atau kopral
Tak peduli moyangmu raja atau jelata
Tak peduli mereka semua marhaen atau burjouis....
Tak peduli pada kepahlawanan atau pengkhianatan...
Majulah pejuang,
Masa depan Karo ada padamu
Tergantung sikap dan pilihanmu..
Majulah pejuang..
Walau kau tak kan menang
atau tak kan pernah dikenang...
Tapi aku berkata... KAULAH PEJUANG
Keturunanmu berkata KAULAH PEJUANG...
--------------------------------------------------------------------------------
From: Zoblok Entertainment <zob...@...>
To: [email protected]
Sent: Mon, August 30, 2010 8:28:29 AM
Subject: Re: [komunitaskaro] Majulah anak perjuang!
Link tambahan arogansi dari seorang anak pejuang...mudah mudahan ini juga bisa
dijadikan Indikator tambahan
http://forum.detik.com/showthread.php?t=205753
Salam Mejuah Juah
Pada 29 Agustus 2010 14.10, Zoblok Entertainment <zob...@...> menulis:
Sangat menarik kalau memang kita kaji dari sisi akademisi, karena semua argumen
dan pernyataan tentunya harus mempunyai indikator. Indikator kegagalan Megawati
adalah bikin KTP saja masih bayar Rp 100.000 rupiah di kantor camat waktu itu,
maaf ini hal kecil saja indikator kegagalan pemerintahan dimata masyarakat
kecil.
Kalau kita bicara yang besar, ya di masa Megawati praktek-praktek Mafia Pajak
tidak diungkap walaupun tau sama-sama tau.
Jadi menurut pandangan saya seorang pemimpin cuman berhak mendapat nilai :
SUKSES & GAGAL. Kalau seorang pemimpin mengharapkan nilai TIDAK MAKSIMAL maka
bisa kernep duluan warganya/karyawannya.
Salam
Pada 28 Agustus 2010 21.54, haryanto bode <edob...@...> menulis:
Kita tidak dapat menilai megawati gagal memimpin karena dia hanya kurang 3
tahun memimpin, tapi kita harus juga mengetahui bagaimana menderitanya Mega
saat semua dalam kondisi yang tidak mengenakkan disaat sorkarno harus menjadi
tahanan. Tidak lebih mulia apa yang dilakukan pemerintah sekarang ketimbang
yang dilakukan Mega. Coba buat indikatornya. Korupsi, penipuan hukum, KPK
lemah, Irian tdk berubah, harga diri diinjak-injak malaysia........jadi tidak
benar ada yang mengatakan gagal, namun tidak maksimal.
Secara genetika darah pejuang diturunkan kepada anaknya. Pajuang itu jauh lebih
mulia dari tugas seorang rohaniawan. Coba analisa kalimat itu, pejuang
mempertahankan harga diri bangsa dan negara, itu jauh lebih mulia ketimbang
hanya berkhotbah atau berdakwah. Karena berjuang mempertahankan harga diri
negara artinya, matipun siap.
Dengan pengalaman yang ada selama ini, maka kita berharap anak pejuang maju
membawa genetika orang tuannya. Semangat juang, matipun rela itu yang kita
harapkan. Apa yang dihasilkan oleh penguasa sebelumnya melakukan pendekatan
ilmu dan pangkat dll, tapi sekali ini selain berilmu juga memilki Genetika
seorang pahlawan.
Menurut Jurnal biokimia, pembawa sifat ayah ibu itu 30+30 =60 % turun ke anak,
secara sistem menyeluruh pada seorang individu. Jadi kalau bapak pejuang anak
pasti memiliki darah pejuang.
Salam memilihlah dengan semangat seorang pejuang.
BHTRG, Tw
--------------------------------------------------------------------------------
From: MU Ginting <gintin...@...>
To: [email protected]; [email protected];
[email protected]
Sent: Sat, August 28, 2010 9:56:46 PM
Subject: Re: [komunitaskaro] Majulah anak perjuang!
Re: [komunitaskaro] Majulah anak perjuang!
"Tapi coba kita lihat siapa yg akan kita pilih.
Pejuangnyakah atau anaknya.Kalau anaknya ya mari kita bicarakan kapabilitas
dari org tersebut, supaya warga jambur ini bisa tau isinya." (Mazmur Tarigan)
Mejuah-juah permilis kerina
Kai si turiken Tarigan mergana enda bas postingna payo nggugah perukurenta
kerina, terutama kita Karo bas milis enda. Ise si ipilih jadi bupati tentu ia
ka nge kari simenentuken uga perkembangen kab Karo 5 th kulebe. Maka payo perlu
nge "kita bicarakan kapabilitas dari org tersebut" nina, arah ukur bujur janah
kekelengen man Karo gelah ula ka kari terjadi bagi si enggo 2x5 th silepus. Adi
salah ka kari milih sekali enda, maka 3x5 th enggo percuma atau salah milih.
Encage seterusna lit denga kang kemungkinen salah jadi 4x5 th ka, menam bage
bas kerina kabupaten, bagi kemerdekaanta enggo 65 th ntah ja ka ndai salahna
lalap la lit ertina man jelma sienterem.
Proses penentuan pemimpin enda, proses perdalanen bangsa enda, entah perbahan
lenga kin lit lahir pemimpin si cocok maka kai pe ipilih salah kidah rusur?
Pilkada silepus jelas salah pilih, lit kin ndai pilihen si la salah? Ise nge
mindai si arus ipilih gelah ula salah pilih? Enda me rusur jadi penungkunen bas
ukur bujur ras mehuli bas rayat sirulo nari.
Bagi si enggo teridah bas pengalamenta kerina maka labo sada pe kita simungkin
njawab pertanyaan enda, sebab labo ngenca bas daerah tapi bagepe pusat,
eksekutif, legislatif bagepe yudikatifna. Uga ka kin kari daerah enda pang lain
sisada (tampil beda, make different) ibas guru "kencing berdiri" ma pasti kang
murid malah sambil berlari. Encage pusat enda niruken atau matuhi perintah
internasional ka. 'Tampil beda' enda ndai luar biasa nge, tapi labo la
mungkin. Perubahan, change, enda sada pedomanna, ise si nggit berubah, ise si
pang berubah janah pang 'tampil beda' adah ndai. Risikona pe berat kang. Era
duit berlimpah enda ndai . . . "Material abundance without character" nina
Thomas Jefferson, 200 th kemudian baru menjadi kenyataan global yang sedang
akan mencapai puncaknya, artinya kehancuran dunia dan kemanusiaan sedang
diambang pintu hanya sebagai akibat dari moral keserakahan tak terbatas (duit
tak terbatas, material abundance). Di zaman Jefferson baru permulaan thesis,
dalam proses tesis-antites-syntes.
Kelebihan manusia dari makhluk lain ialah, manusia bisa dan mampu mengendalikan
dan mengarahkan kontradiksi mengelakkan akibat fatal proses tenang-kacau-tenang
lagi atau order-disorder-oder lagi. Proses disorder dalam melawan diktatoris
Orba membawa korban dan kerusakan minimal dibandingkan dengan revolusi
Perancis, Rusia atau China.
Ajakan Mazmur Tarigan "mari kita bicarakan kapabilitas dari org tersebut",
adalah cara kemanusiaan sekarang untuk mencari kebenaran atau mendekati
kebenaran, sangat mantap dan dibutuhkan mencari solusi persoalan, menghindari
korban yang tak perlu seperti korban-korban dalam revolusi Perancis.
Pengetahuan manusia sekarang tentang manusia dan kemanusiaan sangat jauh
berbeda dari 200-300 th lalu.
Salam mejuah-juah
MUG
--- In [email protected], Zoblok Entertainment <zob...@...> wrote:
Ehmmm.... Ya kita coba aja seperti Ibu Mega dahulu kita elu-elukan
bahkan sampai ngampaiken tudung sebagai warga kehormatan di
peninggaren.
Ternyata sosok sebagai anak Proklamator tidak menjamin kalau Ibu Mega
bisa suskses menjalankan roda pemerintahan.
Jadi ada baiknya saat ini kita selaku warga karo yg peduli pembangunan
tanah karo simalem memberi wawasan yg objektif kepada masyarakat karo
yg mempunyai hak pilih nantinya untuk menentukan siapa pemimpin tanah
karo 5 tahun kedepan.
Kalau saya baca secara seksama tulisan Pak Ginting ini bangga pada
pejuang, saya setuju. Tapi coba kita lihat siapa yg akan kita pilih.
Pejuangnyakah atau anaknya.Kalau anaknya ya mari kita bicarakan
kapabilitas dari org tersebut, supaya warga jambur ini bisa tau
isinya.
Bujur
On 8/23/10, MU Ginting <gintin...@...> wrote:
Majulah anak perjuang!
Majulah anak perjuang!
Saya teringat seorang pejuang kemerdekaan, Djamin Gintings di Sumatera Utara
sebagai seorang yang dengan sekuat tenaga dan pikirannya melawan penjajahan dan
setelah merdeka masih tetap begitu setia mempertahankan serta mendukung terus
republik ini dari segala macam rongrongan imperialis yang pada akhir 50an dan
awal 60an ditujukan dengan menghancurkan kekuasaan nasionalis Soekarno. Jiwa
dan pikiran nasionalisme Djamin Gintings yang telah terpupuk dalam perang
kemerdekaan serta sebagai warisan nyata dari kebesaran patriotisme Soekarno
sebagai pejuang besar kemerdekaan Indonesia, telah membawa Djamin Gintings ke
posisi pemikiran patriot nasional yang tak tergoyahkan. Dalam aksi lanjutan
usaha kolonial menggagalkan kemerdekaan Indonesia dengan melancarkan agresi I
dan II, Djamin Gintings dari Tentara Republik (kemudian TNI) serta Payung
Bangun sebagai salah satu dari pimpinan Laskar Rakyat, kedua pejuang ini telah
menjadi penghalang besar bagi usaha Belanda dan Sekutu menduduki kembali tanah
air Indonesia di daerah Sumatera Utara terutama di daerah Sumatera Timur.
Jiwa besar nsional patriotis Djamin Gintings seterusnya juga teruji dan
terbukti dari sikap dan ketegasannya menghadapi pemberontakan PRRI/Dewa Gajah
di Sumut, dengan cepat mengambil alih kekuasaan militer setelah mendapatkan
penunjukan langsung dari presiden Soekarno di Jakarta. Dalam proses pengebiran
kekuasaan nasionalis Soekarno diawal 60an (kudeta 65 adalah bentuk yang lebih
sempurna dari PRRI/Permesta), berangsur-angsur posisi serta pemikiran pejuang
patriotis Djamin Gintings juga semakin tak mungkin bertahan, dan setelah
Soekarno secara definitif tersingkir, pada dasarnya sudah tidak ada tempat bagi
semua pejuang nasionalis yang setia terhadap Soekarno dan ide-idenya.
Keteguhan jiwa dan wataknya sebagai pejuang yang tak pernah menyerah demi
kemerdekaan Indonesia dan keadilan, serta kejujurannya dalam menghadapi segala
macam tantangan nyata, telah dan akan tetap menjadi contoh yang tak terlupakan
bagi rakyat Indonesia yang cinta kemerdekaan dan keadilan.
Dalam usahanya meringankan beban kehidupan di kab Karo, Riemenda Gintings dan
Aksi Bangun terlihat berusaha keras mewarisi jiwa besar pejuang Djamin Gintings
dan Payung Bangun.
"Yes, we did produce a near-perfect republic. But will they keep it? Or will
they, in the enjoyment of plenty, lose the memory of freedom? Material
abundance without character is the path of destruction.", Thomas Jefferson
Mejuah-juah kita kerina
MUG