Catatan kecil untuk 'Calon' Pemimpin Karo Bagian terpenting yang mengena dalam buku ini adalah "Kepemimpin bukanlah apa yang diajarkan, melainkan apa yang ditangkap oleh para pengikutnya"
Kepemimpinan Karo, bukanlah apa yang dilakukan oleh para calon, melainkan apa yang ditangkap oleh masyarakat; lebih penting lagi bukan apa yang mereka rasakan, melakinkan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Bujur... ________________________________ From: Inigo Tarigan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, September 8, 2010 8:45:48 AM Subject: Re: [tanahkaro] Re: Inilah Kritik kepada Presiden Itu... "Perinde ac cadaver" Soal kedisiplinan dan kepatuhan dikenal melekat kuat di dunia militer. Karena memang demikianlah tradisi yang terus dirawat di ruang militer. Namun, soal kedisplinan sipil pun bisa mencontohnya. Yang kedua dalam tradisi kemiliteran dikenal melahirkan pemimpin. Nah, bagaimana cara melahirkan kepemimpinan model West Point? Dan mengapa harus melirik cara West Point? West Point dikenal melahirkan tak hanya para pemimpin besar dalam sejarah kemiliteran di Amerika. Sebutlah Douglas MacArthur, Dwight Eisenhower, dan Omar Bradley. CEO dan konsultan seperti halnya Joseph P. Franklin penulis buku ini juga terlahir dari West Point. Pada halaman 51 dituliskan “West point menghasilkan pemimpin-pemimpin, dan pemimpin-pemimpin ini harus, di setiap saat, bertanya kepada diri sendiri pertanyaan yang paling sulit: Apa yang sedang kita lakukan… dan mengapa kita melakukannya?” West Point mencoba menginspirasi kita tentang bagaimana cara melahirkan pemimpin di masa mendatang. Dalam buku diuraikan secara mendetail dan menyeluruh tentang bagaimana membangun kepribadian seorang pemimpin yang visioner dan yang bisa beradaptasi dengan perubahan jaman. Dalam buku Building Leaders The West Point yang ditulis Joseph Franklin dikatakan ada sepuluh prinsip penting untuk menjadi seorang pemimpin. Antara lain : tugas, kehormatan, iman, keberanian, ketekunan, rasa percaya diri, kemampuan untuk dapat didekati, kemampuan untuk beradaptasi, kewelasasihan, dan visi. Nah, bagaimana kesepuluh prinsip itu dipaparkan Franklin? Silakan simak dalam buku yang ditulis dengan sederhana dan sarat dengan pengalaman yang menggugah dan jujur dari Franklin. Selebihnya, Franklin coba membuka wawasan Anda soal kepemimpinan dari West Point. Building Leaders The West Point diterbitkan oleh Gradien Mediatama. http://www.gradienmediatama.com/berita_detail.php?act=view&id=22 ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, September 7, 2010 3:34:58 PM Subject: Re: [tanahkaro] Re: Inilah Kritik kepada Presiden Itu... Namun kita juga bisa belajar dari kritik seorang Jenderal AS yg mengkritik kebijakan Presidennya ihwal perang di Afganistan di majalah Rolling Stone. Tak lama setelah itu, si Jenderal pun mengundurkan diri. Tindakan seorang tentara mengkritik presidennya memang masih menjadi sebuah debatable. Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ________________________________ From: "gintingmu" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 07 Sep 2010 07:44:08 -0000 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [tanahkaro] Re: Inilah Kritik kepada Presiden Itu... Adjie Suradji seorang kolonel AU aktif, dan melancarkan kritiknya sebagai anggota AU. Karena itu tindakan berani, mengeritik 'panglima tertinggi' kata militer SBY, reaksi yang sangat formalitas dan konservatif. Sudah tak pernah muncul istilah 'panglima tertinggi', tetapi demi mobilisasi kekuatan konservatifnya, sekarang dikeluarkan istilah itu. Suradji sudah memperhitungkan risikonya pasti. Dia sengaja mencantumkan AU. Tetapi pendirian dan sikapnya yang teguh, itulah dia. Pikirannya banyak yang baru dalam menentang pikiran lama, terutama dikalangan militer. Suradji pegang dasar utama keadilan atau hukum: moral! Tanpa moral, hukum dan penjalankan hukum semakin bejad. Bujur Kikin posting artikel enda, pelajaren mehuli ras maju. Salam MUG --- In [email protected], Inigo Tarigan <kikintari...@...> wrote: Inilah Kritik kepada Presiden Itu... Senin, 6 September 2010 | 18:38 WIB RUMGAPRES/ABROR RIZKI Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato mengenai hubungan RI-Malaysia usai berbuka puasa bersama prajurit dan perwira TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010) petang. Catatan Redaksi: Tulisan yang dimuat di halaman Opini Harian Kompas ini menjadi perbincangan ramai di Twitter dan media lain. Karena itu, Redaksi Kompas.com mengangkat kembali tulisan ini. Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan Oleh: Adjie Suradji Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan. Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain. Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan. Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu â€�Bersama Kita Bisaâ€� (2004) dan â€�Lanjutkanâ€� (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional. Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundusâ€"hendaklah hukum ditegakkanâ€"walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan. Quid leges sine moribus (Roma)â€"apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas? Keberanian Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan. Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpinâ€"kepentingan rakyatâ€"keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri. Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya. Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi? Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya? Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela). Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannyaâ€"dengan jargon reformasi gelombang keduaâ€"SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini. Adjie Suradji, Anggota TNI AU
