Semakin menarik diskusi ini. Berpangkal pada kritik Kol Adjie Suradji terhadap 
presiden SBY alias 'panglima tertinggi', dilengkapi lagi dengan tambahan 
posting Kikin Tarigan soal kedisiplinan milter dan kepemimpinan West Point, 
Akademi Militer USA. Banyak pemimpin cemerlang dilahirkan di West Point seperti 
sering kita dengar. MacArthur misalnya. Dia pimpin perang Korea, pasukannya 
sering lari terbirit-birit dikejar pasukan komunis Korea dan China. Dia takut 
keterlibatan China lalu  menginginkan menggunakan bom atom supaya bisa menang, 
tetapi ditolak. Dia kemudian dipanggil pulang oleh Truman dan oleh Kongres 
dipecat. 
Eisenhower 'berhasil' mengalahkan Hitler dari Normandia ketika Hitler sudah 
babak-belur dihantam Rusia Stalin dengan mengerahkan seluruh kekuatan rakyat 
Rusia dan industri senjata Rusia yang semakin besar karena tanpa gangguan. 
Sisa kekuatan Hitler setelah kembali dari kekalahannya di Timur sudah tidak 
lebih dari 30%. Tidak ada lagi industri senjata, semua pengairan dan insdustri 
sudah lebih dahulu habis dibom dari udara, ekonomi Jerman bangkrut dan hancur 
total, dan juga kehabisan tenaga manusia. Dalam rontaannya Hitler lalu 
membentuk dan mengerahkan pasukan kanak-kanak dan orang tua. Dalam situasi 
demikian bisalah dipastikan siapapun yang memimpin pasukan barat tidak ada 
kemungkinan lain selain menang. Ini gambaran masa lalu dari segi lain, dan 
inilah perubahan masa lalu dan masih akan terus berubah-ubah. 
Kesimpulan selalu dibuat mengabdi kepentingan siapa ketika itu. Sangat sering 
masyarakat taunya hanya dari segi yang digambarkan oleh yang berkepentingan, 
apalagi kalau mereka menguasai 99% berita media. Sangat berlainan dengan era 
sekarang, tetapi itupun baru bagi mereka yang ada akses ke teknik terakhir 
(internet). Bagi yang belum ada akses ke teknik baru ini, masih tetap seperti 
'zaman' West Point, artinya belum mengikuti 'zaman' Adjie Suradji. 
Teringat posting Kikin 'perinde ac cadaver', cari-cari terjemahannya kedalam 
bahasa kita, 'menyerupai mayat' atau bangkai. Begitulah adanya. Dulu kabarnya 
dipakai dalam hubungan murid dengan guru spiritualnya. Murid setia seperti 
mayat atau bangkai. Tersebut juga kesetiaan orang-orang Katolik dulu terhadap 
Paus. Tidak tahu sekarang bagaimana kesetiaan spiritual ini. Tidak lagi seperti 
bangkai saya pikir. Tetapi kesetiaan militer masih begitu. Atau setidaknya 
pemimpinnya masih tetap menginginkan begitu. SBY tentu menginginkan kesetiaan 
Adjie Suradji seperti kesetiaan mayat atau 'perinde ac cadaver'. 
Tetapi apakah yang sudah berubah? Zaman! Adjie Suradji hanya menyesuaikan diri, 
SBY dan sebangsanya belum. "setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh 
akan selalu ditandai oleh perubahan-perubahan signifikan" – kata Kolonel Adjie 
Suradji
Perinde ac cadaver, di Vietnam mati 60 ribuan, masih dikatakan patriot ketika 
itu. Ribuan serdadu Amerika mati konyol di Afganistan, begitu juga di Irak. 
Belakangan sudah sangat jarang orang mengatakan mereka itu mati untuk Amerika, 
apalagi patriot. Bahkan sering tidak pernah diberitakan orang-orang Amerika 
yang mati konyol ini. Yang tahu cuma familinya. Mengapa? Bukankah mereka itu 
patriot bangsa? Dulu iya. Sekarang jelas siapa berkepentingan mengirim serdadu 
Amerika ke Irak. Jelas bagi sebagian kecil, karena penguasaan media tadi 
ditangan yang berkepentingan mengirim serdadu. 
Perinde ac cadaver, dizaman feodal serdadu mati konyol untuk tuan tanah alias 
raja-raja. Orang-orang Jepang berjibaku demi kaisarnya atau tuan tanahnya. 
Masih adakah orang Jepang yang mau mati konyol di Guam atau di Ciliwung demi 
kaisarnya? Atau serdadu Indonesia mati konyol di jalan-jalan kotor Kuala Lumpur 
demi presiden SBY? Lain halnya kalau ada agresi ke Indonesia dan kita masih 
akan jadi patriot membela tanah air kita. Tidak ada keraguan karena hak kita. 
Mempertahankan hak kita adalah bagian dari perjuangan untuk keadilan. SDA 
Indonesia adalah hak kita, hak rakyat. Tapi malah diserahkan orang asing . . . 
perinde ac cadaver.
Bujur ras mejuah-juah
MUG  

--- In [email protected], Inigo Tarigan <kikintari...@...> wrote:
"Perinde ac cadaver"

Soal kedisiplinan dan kepatuhan dikenal melekat kuat di dunia militer. Karena 
memang demikianlah tradisi  yang terus dirawat di ruang militer. Namun, soal 
kedisplinan sipil pun bisa mencontohnya. Yang kedua dalam tradisi kemiliteran 
dikenal melahirkan pemimpin. Nah, bagaimana cara melahirkan kepemimpinan model 
West Point? Dan mengapa harus melirik cara West Point? 

West Point dikenal melahirkan tak hanya para pemimpin besar dalam sejarah 
kemiliteran di Amerika. Sebutlah Douglas MacArthur, Dwight Eisenhower, dan Omar 
Bradley. CEO dan konsultan seperti halnya Joseph P. Franklin penulis buku ini 
juga terlahir dari West Point. Pada halaman 51 dituliskan “West point 
menghasilkan pemimpin-pemimpin, dan pemimpin-pemimpin ini harus, di setiap 
saat, bertanya kepada diri sendiri pertanyaan yang paling sulit: Apa yang 
sedang kita lakukan… dan mengapa kita melakukannya?”

West Point mencoba menginspirasi kita tentang bagaimana cara melahirkan 
pemimpin di masa mendatang. Dalam buku diuraikan secara mendetail dan 
menyeluruh tentang bagaimana membangun kepribadian seorang pemimpin yang 
visioner dan yang bisa beradaptasi dengan perubahan jaman. 

Dalam buku Building Leaders The West Point yang ditulis Joseph Franklin 
dikatakan ada sepuluh prinsip penting untuk menjadi seorang pemimpin. Antara 
lain : tugas, kehormatan, iman, keberanian, ketekunan, rasa percaya diri, 
kemampuan untuk dapat didekati, kemampuan untuk beradaptasi, kewelasasihan, dan 
visi. 

Nah, bagaimana kesepuluh prinsip itu dipaparkan Franklin? Silakan simak dalam 
buku yang  ditulis dengan sederhana dan sarat dengan pengalaman yang menggugah 
dan jujur dari Franklin. Selebihnya, Franklin coba membuka wawasan Anda soal 
kepemimpinan dari West Point. Building Leaders The West Point diterbitkan oleh 
Gradien Mediatama. 

http://www.gradienmediatama.com/berita_detail.php?act=view&id=22

--------------------------------------------------------------------------------
From: "thinx...@..." <thinx...@...>
To: [email protected]
Sent: Tue, September 7, 2010 3:34:58 PM
Subject: Re: [tanahkaro] Re: Inilah Kritik kepada Presiden Itu...

Namun kita juga bisa belajar dari kritik seorang Jenderal AS yg mengkritik 
kebijakan Presidennya ihwal perang di Afganistan di majalah Rolling Stone. Tak 
lama setelah itu, si Jenderal pun mengundurkan diri. Tindakan seorang tentara 
mengkritik presidennya memang masih menjadi sebuah debatable.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!

--------------------------------------------------------------------------------

From: "gintingmu" <gintin...@...> 
Sender: [email protected] 
Date: Tue, 07 Sep 2010 07:44:08 -0000
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [tanahkaro] Re: Inilah Kritik kepada Presiden Itu...

Adjie Suradji seorang kolonel AU aktif, dan melancarkan kritiknya sebagai 
anggota AU. Karena itu tindakan berani, mengeritik 'panglima tertinggi' kata 
militer SBY, reaksi yang sangat formalitas dan konservatif. Sudah tak pernah 
muncul istilah 'panglima tertinggi', tetapi demi mobilisasi kekuatan 
konservatifnya, sekarang dikeluarkan istilah itu. Suradji sudah memperhitungkan 
risikonya pasti. Dia sengaja mencantumkan AU. Tetapi pendirian dan sikapnya 
yang teguh, itulah dia. Pikirannya banyak yang baru dalam menentang pikiran 
lama, terutama dikalangan militer. Suradji pegang dasar utama keadilan atau 
hukum: moral! Tanpa moral, hukum dan penjalankan hukum semakin bejad.
Bujur Kikin posting artikel enda, pelajaren mehuli ras maju.
Salam
MUG

--- In [email protected], Inigo Tarigan <kikintari...@...> wrote:
Inilah Kritik kepada Presiden Itu...
Senin, 6 September 2010 | 18:38 WIB

RUMGAPRES/ABROR RIZKI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato mengenai hubungan 
RI-Malaysia usai berbuka puasa bersama prajurit dan perwira TNI di Mabes TNI, 
Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (1/9/2010) petang. 
Catatan Redaksi: 

Tulisan yang dimuat di halaman Opini Harian Kompas ini menjadi perbincangan 
ramai di Twitter dan media lain. Karena itu, Redaksi Kompas.com mengangkat 
kembali tulisan ini. 

Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
Oleh: Adjie Suradji 

Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin 
cerdas yang bisa membawa perubahan. 

Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin 
sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. 
Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk 
keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter 
risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis 
tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik 
populis atau pencitraan lain. 

Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan 
perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. 
Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati. 

Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan 
Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial 
ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan 
egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, 
karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. 
Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang 
membuat mereka lengser secara tidak elegan. 

Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum 
berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi 
warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye 
politik, isu �Bersama Kita Bisa� (2004) dan 
�Lanjutkan� (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara 
proporsional. 

Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat 
justitia pereat mundusâ€"hendaklah hukum ditegakkanâ€"walaupun dunia 
harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, 
Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. 
Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di 
negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, 
tetapi tak mampu menegakkan. 

Quid leges sine moribus (Roma)â€"apa artinya hukum jika tak disertai 
moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral 
pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan 
pemalas? 

Keberanian 

Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan 
seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 
Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini 
benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin 
tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen 
visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan. 

Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari 
kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek 
kepentingan keselamatan di luar diri pemimpinâ€"kepentingan 
rakyatâ€"keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu 
sendiri. 

Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 
60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin 
yang dulu pernah memimpinnya. 

Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap 
konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan 
situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, 
tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul 
terbebas dari korupsi? 

Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau 
justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye 
karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY 
dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten 
dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan 
berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala 
pencitraannya? 

Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani 
membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin 
tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah 
hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh 
akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah 
lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi 
negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. 
Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo 
Chavez (Venezuela). 

Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu 
kepemimpinannyaâ€"dengan jargon reformasi gelombang keduaâ€"SBY bisa 
memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi 
bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. 
Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara 
negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi 
negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden 
SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini. 

Adjie Suradji, Anggota TNI AU






Kirim email ke