Bismillaahirrahmaanirrahiim
Doha, 28 Ramadhan 1419 H
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Pak Sunarman:
>Para sufi memperoleh kemampuan itu hanya sebagai bonus atau hasil
>samping dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara
>membersihkan jiwanya dari kekuasaan hasrat duniawi, sedangkan kaidah
>barat menempatkan astral travel itu sebagai alat untuk mencapai
>suatu tujuan tanpa mempedulikan kebersihan jiwa.
Kalau boleh merangkumkan dari pendapat Pak Sunarman di atas, bahwasanya
Astral Travel hanyalah merupakan `bonus` saja, maka seyogyanya kita tidak
meminta Astral Travel ini dengan upaya yang sungguh-sungguh, seperti halnya
teman-teman saya yang kebanyakan mereka mempraktekkan (=mengatakan, saya
tidak tahu apakah mereka benar-benar bisa Astral Travel, red) Astral Travel
ini dengan cara yang aneh-aneh.
Jangan-jangan jika yang Anda inginkan adalah Astral Travelnya, Anda bisa
dijerumuskan oleh Jin atau syaithaan yang mengajak Anda kepada kebathilan
sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang merugi.
Dan kalau pun ada di antara salik yang pernah bisa merasa Astral Travel,
sebaiknya introspeksi lagi, apakah benar ini bonus dari Allah? pantaskah
saya mendapatkan bonus semacam ini? Apakah tidak mungkin ini adalah fitnah
(cobaan) dari golongan jin & syaithaan? Lalu dengan sombongnya berkata
kepada sekalian manusia ... saya kemaren berhasil melakukan astral travel
... Dan kalau pun tidak `merasa` sombong, maka ujub (merasa diri suci)
menggelayuti hatinya, hmm.
Na'uudzu billaah min dzaalika.
QS: Al-An'aam:128
Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah
berfirman):"Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak
(menyesatkan) manusia", lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan
manusia:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian dari pada kami telah dapat
kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu
yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman:"Neraka itulah tempat
diam kamu, sedang kamu kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki
(yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS.
6:128)
QS: Sabaa':41
Malaikat-malaikat itu menjawab:"Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami,
bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman
kepada jin itu". (QS. 34:41)
Bahkan pernah diriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah didatangi
oleh JIN yang mengaku sebagai Tuhan dan memberitahu beliau bahwa Allah telah
ridha dengan amal beliau, yang akhirnya menyuruh beliau untuk "berhenti
beribadat", tapi Syaikh Abdul Qadir Jailani membantah dengan ucapan (yang
intinya): "Rasulullah s.a.w. saja yang telah ma'sum tidak diperintahkan
seperti ini ... ". dst.
Catatan: redaksinya riwayat di atas belum saya temukan, tapi diceritakan
oleh guru-guru ngaji di kalangan masyarakat awam di desa secara
turun-temurun. Ada juga yang mengatakan Imaam Al-Ghazali difitnah dengan hal
yang serupa di atas.
Wallaahu a'lam.
Marilah kita berhati-hati ... jangan pernah kita merasa suci ...
An-Najm:32
Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari
tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu
mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang
bertakwa.
Yang lebih penting lagi, apakah Rasulullah s.a.w. mengajarkan Astral Travel
ini sebagai salah satu ibadah? Adakah ini diajarkan di dalam Al-Qur'an atau
Al-Hadits? Apakah bukan manipulasi (legalisasi yang dibisikkan) syaithaan
terhadap perdukunan yang mengatas namakan ajaran islaam?
Dan hanya kepada Allah aku mengabdi dan hanya kepada Allah aku meminta
pertolongan.
_____________________________________________________
Wassalam
Abd Shomad (Doel So Much)
-----Original Message-----
From: R. Sunarman <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 23 Ramadhan 1419 04:13
>sham mz wrote:
>
>> Saya ingin tahu, perbezaan astral travel yang dilakukan oleh orang
>> barat dan ahli sufi?
>> Bolehkah orang Islam mempelajari dan melaksanakan kaedah barat?
>
>Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
>
>Perbedaannya terletak pada
>1. Bagaimana kemampuan astral travel itu diperoleh
>2. Untuk apa kemampuan astral travel itu dimanfaatkan.
>
>Para sufi memperoleh kemampuan itu hanya sebagai bonus atau hasil
>samping dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara
>membersihkan jiwanya dari kekuasaan hasrat duniawi, sedangkan kaidah
>barat menempatkan astral travel itu sebagai alat untuk mencapai
>suatu tujuan tanpa mempedulikan kebersihan jiwa.
>
>Bolehkah orang Islam mempelajari dan melaksanakan kaedah barat?
>
>Kebanyakan orang akan menjawab langsung "Tidak!" supaya aman.
>Mereka khawatir, kemampuan itu akan anda pergunakan untuk memenuhi
>hasrat-hasrat duniawi sehingga anda masuk ke dalam golongan 'musuh
>yang berbahaya'. Misalnya, dengan kemampuan astral travel, seseorang
>mendapat kemudahan dalam merencanakan perampokan sebuah bank.
>
>Sebenarnya kekhawatiran itu tidak perlu ada, apabila anda sudah
>terbiasa membersihkan diri dengan mengendalikan hasrat-hasrat
>duniawi. Salah satu ukuran yang dapat dipakai ialah apabila
>seseorang yang kasyaf telah melihat anda sebagai orang yang bersih
>jiwa; maka anda akan dibolehkan mempelajari ilmu apa saja. Itulah
>sebabnya, menu utama dalam tasawuf (sufisme) adalah membersihkan
>diri.
>
>Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
>RS
>
>---------------------------------------------------------------------
>Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]