Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Abd Shomad wrote:
> Jangan-jangan jika yang Anda inginkan adalah Astral Travelnya, Anda bisa
> dijerumuskan oleh Jin atau syaithaan yang mengajak Anda kepada kebathilan
> sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang merugi.
Inilah salah satu aspek yang dikhawatirkan dapat terjadi bila
seseorang menjalani tariqat tanpa bimbingan seorang mursyid.
> Dan kalau pun ada di antara salik yang pernah bisa merasa Astral Travel,
> sebaiknya introspeksi lagi, apakah benar ini bonus dari Allah? pantaskah
> saya mendapatkan bonus semacam ini? Apakah tidak mungkin ini adalah fitnah
> (cobaan) dari golongan jin & syaithaan? Lalu dengan sombongnya berkata
> kepada sekalian manusia ... saya kemaren berhasil melakukan astral travel
> ... Dan kalau pun tidak `merasa` sombong, maka ujub (merasa diri suci)
> menggelayuti hatinya, hmm.
[dihapus]
> Marilah kita berhati-hati ... jangan pernah kita merasa suci ...
Benar demikian. Ketika kita merasa diri kita telah suci, maka
perjalanan kita menuju Allah bukan hanya terhenti, tetapi bahkan
berbaik arah: kita menjauh dari Allah.
> Yang lebih penting lagi, apakah Rasulullah s.a.w. mengajarkan Astral Travel
> ini sebagai salah satu ibadah? Adakah ini diajarkan di dalam Al-Qur'an atau
> Al-Hadits? Apakah bukan manipulasi (legalisasi yang dibisikkan) syaithaan
> terhadap perdukunan yang mengatas namakan ajaran islaam?
Tidak ada pembatasan bentuk perbuatan untuk dapat disebut ibadah.
Apapun yang dilakukan seseorang, selama hal itu dilakukan dengan
sepenuh keikhlasan demi mendapatkan ridha Allah, perbuatan itu boleh
disebut ibadah.
Sebaliknya, biarpun perbuatan itu berupa melakukan shalat, haji,
sedekah dll, perbuatan ini belum tentu merupakan ibadah. Kita perlu
melihat motivasi pelakunya. Jika seseorang melakukan shalat demi
menjaga pandangan orang lain, jika seseorang berangkat haji karena
menginginkan status sosial, jika seseorang berpuasa atau bersedekah
demi memperbaiki citranya di masyarakat, maka semua ini bukanlah
ibadah.
Praktek perdukunan yang menggunakan ayat-ayat Al Qur'an pun harus
dinilai dari motivasinya. Kita tidak bisa menilai sesuatu
semata-mata dari penampakan luarnya. Sesuatu yang tampak baik belum
tentu merupakan ibadah, dan sebaliknya, sesuatu yang tampak buruk
belum tentu buruk di mata Allah.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]