JALAN SUFI DI ZAMAN GLOBALISASI
Oleh: Muhammad Zuhri
Datang, datanglah, siapapun engkau
Tidak peduli
Meskipun engkau
Seorang kafir, musyrik, atau penyembah api
Datanglah
Rumah kami bukanlah tempat untuk berputus asa
Datanglah
Biarpun engkau telah melanggar sumpahmu
Seratus kali
Datanglah kembali
(Maulana Jalaluddin Rumi)
Tujuh ratus tahun lalu sebelum manusia pernah bermimpi apakah
pikiran tentang globalisasi itu bakal singgah di benak manusia atau
tidak, Maulana Jalaluddin Rumi (lahir 30 September 1207 M di Balkh,
Afghanistan) telah menghimbau kepada siapa saja, baik orang-orang
kafir, musyrik, maupun penyembah api untuk datang menghampirinya
agar dapat ia membisikkan di telinga mereka bahwa Bumi Tuhan
bukanlah tempat untuk berputus asa dan betapa abadinya diri mereka.
Maka masalahnya sekarang bukanlah 'Apa jalan Sufi masih relevan di
zaman globalisasi' melainkan 'Relevankah sikon globalisasi dalam
menempuh jalan Sufi'. Karena sesuatu yang sudah jelas dan final
secara konsep tidak butuh lagi dipermasalahkan melainkan suka
memakainya sebagai way of life atau tidak. Yaitu kesufian,
perjalanan individu manusia yang meng-Allah, yang aktualisasinya
merupakan pengabdian diri kepada seluruh umat manusia seumur hidup.
Sedang globalisasi adalah sebuah nama yang baru saja muncul ke
permukaan dan baru juga dalam proses dimasyarakatkan. Pendatang baru
inilah yang perlu dipermasalahkan. Apakah new comer yang
memperkenalkan diri dengan sebuah nama yang mentereng ini masih
beresensi purba yang fitri (ummatan wahidatan) ataukah sudah
diwarnai kepentingan pasar yang mendunia.
Maka diperlukan jawaban atas serentetan pertanyaan yang akan
menyusun sebuah Aqidah Globaliyah yang berhakekat (bukan buih).
Yaitu kesadaran apa yang mendorong mereka mengidealisasikan
globalisasi, di atas dasar atau landasan apa bangunan globalisme
ditegakkan, dengan apa dan cara bagaimana menegakkannya, dan untuk
tujuan apa gagasan itu diaktualisasikan.
Aqidah Globaliyah harus diungkapkan secara terbuka karena hal itu
sangat penting untuk memperjelas identitas diri manusia yang final,
sejak status sampai fungsinya yang mendasar di tengah semesta,
sehingga menjadi jelas pula apa yang mesti dilakukan di dalam setiap
proses pengungkapan diri (sebab, qodar) dengan potensi dan teknologi
(sumber daya alam, manusia, alat dan malaikat) yang dimiliki,
melewati persyaratan yang membolehkan berlansungnya proses
(moralitas, kerasulan) di dalam batas (hukum, kitabullah) yang
memastikan sampainya tujuan (kemerdekaan yang abadi, malikiyah
Allah).
Kalau aqidah yang hakiki ini telah ditemukan dan disepakati bersama,
maka globalisasi bukanlah masalah baru selain namanya saja. Karena
sejak dini sudah dipancangkan tanpa tedeng aling-aling oleh pembawa
dan pelaksana Risalah Robbul Alamin, Muhammad.
Alternatif lain yang dikhawatirkan adalah bila jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan di atas akan menyusun sebuah paradigma
kapitalisma atau dogma mistika yang keduanya berada dalam kutub
ekstrim yang tak mungkin dapat dipertemukan selamanya, kecuali di
dalam pribadi yang pecah dari dalam.
Yang disebut paradigma kapitalisma adalah seperangkat aturan yang
hanya mengacu kepada pemilikan sarana secara berlimpah bagaimanapun
caranya tanpa peduli apa kata fihak lain tentang dirinya. Suatu
orientasi keruangan yang berbau kolonialis dan imperialis dengan
wajah dan gayanya yang baru, supaya tetap bisa mengeksploitir bumi
sampai keropos.
Teknologi canggih merupakan senjata handalan mereka satu-satunya.
Dan saking mantapnya terhadap pusaka handalan yang telah berhasil
melumpuhkan keganasan alam, akan diberlakukan juga untuk menghadapi
tantangan yang datang dari sumber daya insani. Seolah telah
menemukan suatu keyakinan bahwa apa yang bisa digunakan untuk
menundukkan alam pastilah dapat didayagunakan untuk menguasai
manusia.
Target mereka adalah penguasaan kodrat dengan kekuatan intelegensi
untuk memperoleh kenikmatan yang sebesar-besarnya di dalam kehidupan
duniawi. Proses transendensi yang bersifat vertikal keruangan ini
hanyalah akan menggapai tawaran syeitan kepada Adam yang berupa
'Mulkul la yabla', kerajaan yang tak pernah binasa, yang membuat
Adam tergeser tempat tinggalnya dari surga (Surat Thaahaa:120).
memang mereka tergolong orang yang tahu tetapi tidak mau. Di dalam
Ummul Kitab mereka diberi identitas sebagai golongan Maghdlub
(dimurkai).
Berdiri pada kutub lain adalah golongan kharismatik yang
berorientasi pada penguasaan diri tanpa mempedulikan penguasaan
sarana. Target yang hendak dicapai adalah penguasaan Iradah dengan
kekuatan kemauan/willing demi memperoleh Rahmat yang
berkesinambungan di dalam kehidupan spiritiualnya. Dengan
kharismanya yang tinggi akan mudah seseorang menguasai opini
kemudian menggerakkan umat.
Kemampuan mereka mengantisipasi waktu yang bersifat horisontal
membuahkan nama besar sebagai pahlawan kemanusiaan, perdamaian, dan
lain sebagainya. Inilah tawaran setan yang lain kepada Adam yang
berupa 'Syajarotul Khuldi', pohon kehidupan yang abadi, yang sempat
menggugurkannya dari singgasananya di surga. Identitas mereka di
dalam Ummul Kitab sebagai golongan Dlollun (tersesat).
Dua golongan yang berdiri di atas kutub yang bertentangan itu
disimbolkan di dalam Al Quran sebagai golongan Firaun yang tewas
menghadapi Nabi Musa a.s. dan golongan Bilkis yang runtuh di depan
Nabi Sulaiman a.s.
Kalau tidak untuk menghindar dari esensi yang hakiki (Akidah
Globaliyah, Rukun Iman) mengapa kita butuh menampilkan diri dengan
nama baru. Kurang kerenkah Aqidah Islamiyah kita, atau sekedar
penyamaran supaya mereka yang Islam-Phobi meninggalkan kancah
globalisasi.
Mari kita simpan sebentar persepsi kita tentang kenyataan dan tatap
langsung kenyataan secara utuh dan telanjang. Ide apa yang dibungkus
rapat-rapat dengan seribu nama baru yang menjadi satu-satunya
alternatif yang mau tidak mau akan diterima juga oleh manusia dan
zamannya, selain ide yang sejak dulu ditawarkan oleh Rabbul Alamin
kepada kita. Ya, tatkala kebanyakan manusia masih senang menonton
kenyataan dengan seribu kaca mata yang buram.
Takutkah kita dengan konsistensi sebuah nama, atau dengan alasan
primitif bising telinga mendengar suara adzan. Bukankah shalat
merupakan penguapan diri yang akan menggumpal menjadi awan dan turun
menjadi hujan yang menyiram semua, baik yang mukmin maupun yang
kafir. Atau ngeri dihimbau untuk berpuasa di bulan Ramadlan di
tengah gelimang sarana yang mewah dan berlimpah. Bukankah puasa
adalah berhenti memungut isi bumi buat konsumsi fisik shaimin, yang
berarti memberi kesempatan pihak lain untuk memanfaatkannya. Siapa
yang paling awal memberi sebelum mereka melangkah keluar. Bukankah
memberi yang tertinggi nilainya adalah memberi yang tanpa
mengulurkan tangan, sehingga pihak penerimanya tidak pernah merasa
diberi. Dan dengan demikian mereka tidak pernah menanggung beban
moral sebagai pihak penerima.
Aktualisasi globalis mana yang menandingi nilai keikhlasan seorang
mushallin dan shaimin. Padahal di dalam ruang lingkup agama, Fitrah
salat dan puasa masih merupakan tahap awal (pra-eksistensial) di
dalam pembentukan diri sebagai seorang mukmin.
Tanpa dihimbau ummat Islam telah menunaikan Shalat dan Puasa yang
pancarannya mensemesta (bersifat globalis). Mengapa kita tidak
memupuk perkebunan kita yang telah tumbuh sejak dini dan berhasil
mewarnai untaian Nusantara dengan warna zamrut. Bukankah globalisasi
yang murni berwarna zamrut?
---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]