Muncullah para Nabi. Dengan petunjuk Ilahi mereka berusaha
menyatukan kembali kenyataan ummat dengan menawarkan 'Hamba Allah'
sebagai identitas setiap individu manusia. 

Tawaran ini memang akurat, masuk akal dan efektif bagi hati nurani
yang demen pada kehidupan dan mencintai kedamaian. Tetapi betapa pun
hal itu masih berupa 'pengetahuan verbal' atau 'ilmul-yakin' yang
perlu diuji kebenarannya di dalam kenyataan. 

Setelah kita benar-benar menyaksikan wujud hamba Allah yang
berintegritas mensemesta yang selalu aktual di dalam pengabdian yang
tinggi kepada seluruh ummat manusia di mana dan kapan saja ia
berada, barulah dapat dikatakan kita telah memiliki 'pengetahuan
visual' atau 'ainul-yakin' terhadapnya. 

Secara kondisional pribadi seperti tersebut di atas layak diangkat
sebagai Mursyid, kendati ia bukan seorang ustad dari sebuah halaqah
spiritual. Karena Mursyid bukanlah fungsi yang dapat diamanatkan
oleh sebuah lembaga atau lingkungan ummat untuk melaksanakan tugas
pembentukan pribadi, melainkan kualitas spiritual seseorang. 

Bila dengan panduannya kita berhasil memiliki konsistensi aktual
secara 'ihsan', barulah kita dapat disebut memiliki 'pengetahuan
aktual' atau 'haqqul-yakin'. 

Dari kondisi seorang beriman secara doktrinal hingga mencapai
derajad Muhsin membutuhkan proses panjang yang didukung dengan tekad
yang membaja, himmah yang kuat, disiplin yang keras dan
praktikum-praktikum dengan diri yang tak kenal jenuh, disertai gemar
berkontemplasi, berefleksi dan berkoeksistensi dengan
akhlakul-karimah terhadap siapa saja, baik berwujud manusia atau pun
hayawan, sebagaimana dibentangkan secara rinci di dalam Maqamat Para
Penempuh Jalan Sufi. 

Bila para Nabi dengan Kitab-Sucinya telah berhasil mengungkapkan
'kebenaran universal' yang tidak berkerut oleh zaman para Sufi telah
melahirkan kebenaran 'kontekstual' yang tak berulang sepanjang
zaman. Itulah 'hikmah' yang tidak akan pernah bisa ditiru, tetapi
sangat tinggi nilainya sebagai pengetahuan antar subyek di kalangan
hamba Allah. 

Kehadiran para Sufi di dalam realita kehidupan orang beriman
menunjukkan kepada kita wujudnya 'seni bertuhan' yang tak kalah
mengasyikkan dibanding dengan pengembaraan di bidang keilmuan dan
seni apa pun di dunia ini. 

Marilah kita jamah keotentikannya melewati analisa berikut ini. 


TAWAKKAL, PERAN, DUNIA DIRI DAN TITIK BEDA 

Gaya hidup profetik para Sufi memiliki kemiripan dengan gaya hidup
kenabian Sayidina Isa AS. Mereka lebih dominan berorientasi pada
pembentukan diri yang akurat dibanding dengan berekspansi ke dalam
semesta-struktural, sehingga mereka dapat mencapai kondisi sempurna
secara individual. 

Bagi golongan tersebut Allah berkenan memindahkan kepengurusan hidup
mereka langsung ke tangan-Nya tanpa dukungan ilmu pengetahuan
obyektif yang lazim digunakan di dalam mengatasi kebutuhan hidup. 

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah cukup
baginya." (Ath-Thalaq: 3).

Di dalam kondisi diri orang yang bertawakkal kepada Allah telah
terjadi transendensi dari urusan hamba menjadi urusan Tuhan,
disebabkan 'aku-insaniyah' orang tersebut telah mati. Wujudnya
tinggal instrumen jasadi yang digerakkan langsung oleh
iradah-ilahiyah. Kalangan Sufi menyebutnya sebagai maqam fana'
(fana' fi iradatillah) atau 'manunggaling kawula Gusti' dalam idiom
Jawa. Kenyataan yang demikian hanya bisa terjadi bagi mereka yang
benar-benar putus-asa kepada dunia. 

"Dan tiadalah kehidupan dunia itu, kecuali kesenangan yang menipu."
(Ali-Imran: 185;)
"Dan tiadalah kehidupan dunia itu, kecuali permainan dan senda
gurau." (Al-An'am: 32).


---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]


Kirim email ke