Assalaamu 'alaikum wr. wb.
|Saya jadi bertanya-tanya apakah yang membedakan tarekat islam dari
|tarekat yang non-islam? Kok pada akhirnya sama saja nasehatnya seperti
|di buku Kho-Ping-Hoo isinya adalah "Aku" "Aku" "Aku". Tadinya saya
|berpikir bahwa tarekat dalam islam itu unik karena pengamalannya tidak
|terpisah dari syariat, sehingga yang saya harapkan adalah pemaknaan akan
|syariat (ibadah dan amaliah) sehari-hari seperti sholat, dhikr, puasa,
|haji dst. Bukan dengan meditasi ala Hong-Wilaheng.
Shalat, puasa, zakat, haji, dst adalah syariat lahir yang bertujuan agar
seorang
hamba dapat menjadi hamba yang berserah diri.
Tanpa perlu semedi, yoga dan tapa brata, yang sangat sulit untuk dilakukan
pada
zaman dahulu (apalagi zaman sekarang) asalkan menjalankan syariat tsb
dengan benar, maka seseorang akan menjadi hamba yang berserah diri.
Berbeda dengan pada spiritualisme atau jalan spiritual pada agama lain,
dengan
spiritualisme yang mereka jalankan mereka hanya akan sanggup (kalaupun
bisa -
karena sangat jarang sekali yang bisa) naik ke tingkatan Jiwa Jasmaniyah.
Dan
akan mentok disana.
Namun tidak demikian dengan pelaksanaan spiritualisme syariat Islam
(tasawuf),
ini akan mengantar sang pejalan ke gerbang akhir perjalanannya, bertemu diri
dan menjadi hamba yang muqarrabun. Inilah bedanya Mas Ali.
Itulah kenapa, banyak orang di agama lain, yang menjalankan spritualisme-nya
dengan benar, akan mendapatkan tuntunan (petunjuk) untuk berpindah ke jalan
Islam (seperti yang terjadi dengan kawan thariqah sdri. Yani Qayyimah).
Namun
orang yang seperti ini juga jarang, karena banyak para pejalan spiritualisme
agama lain (begitu juga dalam Islam), yang telah merasa cukup dan bangga
dengan tersingkapnya beberapa lapis alam ke ghaiban, dan menjadikan ini
sebagai tujuan, yang akhirnya malah menghijab (membatasi) antara dirinya
dengan Tuhannya.
Namun (apabila saya tangkap dari penjelasan Pak Sunaraman), jangan sampai
kita memandang rendah mereka-mereka yang diluar Islam. Karena boleh jadi
apabila mereka benar dalam berserah diri kepada Tuhan, tingkatan jiwanya
lebih baik daripada kita sekarang ini.
|Bila memang pada akhirnya pengikut tarekat melakasanakan syariat
|berdasarkan petunjuk Jiwa Muthmainnah (bukan berpegang pada hadist
|nabi), maka pada akhirnya akan membentuk fiqh tersendiri karena cara
|sholat, puasa dll menjadi khas untuk pengikut thareqat tertentu. Bila
|ditambah dengan perbedaan memandang sejarah, perbedaan menafsirkan
|Al-Quran dst maka pada akhirnya akan menjadi bangunan mazhab tersendiri.
|Benarkah demikian? Kita terus menerus mendirikan peti di dalam peti, di
|dalam peti, di dalam peti.
|
|Tidakkah cukup dengan Fiqh yang 5 sudah menimbulkan kebingungan pada
|banyak kaum muslimin. Tasawuf alih-alih menjadi pengikat semua mazhab
|pada akhirnya malah hanya menimbulkan fiqh yang baru, bahkan mazhab yang
|baru lagi. Pada titik ini sebenarnya pengertian saya tentang tasawuf,
|tarekat menjadi hancur lebur.
Kehancur leburan pandangan Mas Ali tentang Tasawuf, boleh saja terjadi.
Satu yang tidak boleh terjadi, keinginan Mas Ali untuk bertemu dengan-Nya.
Karena inilah yang menyelamatkan kita.
Ke lima Imam Mahzab tersebut, kalau Mas Ali ketahui adalah orang-orang
yang bertemu diri semua.
Pertanyaannya... Untuk apa beliau-beliau mendapat Misi dari Allah, untuk
membuat sebuah mahzab fiqih?
Manusia pada dasarnya mempunyai karakter dan tingkatan jiwa yang berbeda.
Ada yang senang dengan pendekatan akal yang kuat. Ada yang cenderung
berhati-hati, dsb.
Untuk itulah tersedia baginya 5 mahzab untuk menjalankan Ibadah sesuai
dengan karakter dan tingkatan jiwanya (sebagai tahap awal) dalam rangka
berusaha menjadi hamba yang berserah diri.
Apabila telah menjadi hamba yang berserah diri, kemudian mendapatkan Jiwa
Muthmainnahnya menuntun untuk melakukan suatu bentuk ibadah, saya sangat
yakin TIDAK AKAN membentuk mahzab fiqh baru dalam ritual. Kalau lebih
sempit lagi, saya kira tidak akan berbeda atau keluar dari Imam 5 mahzab
itu.
Paling kombinasi dari ketentuan hukum Imam 5 mahzab tersebut.
Tentu akan sulit melihat secara jernih memandang hal ini, kalau kita hanya
berpegang kepada 1 Mahzab fiqh saja.
Demikian juga untuk penafsiran Al Qur'an.
Bumi letaknya saja selalu berubah terhadap makrokosmos lainnya.
Demikian pula zaman selalu berubah, dengan perbedaan permasalahan,
dan perbedaan THAGHUT pada zamannya.
Al Qur'an yang dalam QS 18:17 dikatakan mengatur segala sesuatu, tentu
akan menjadi "berbeda" atau bertambah penjelesannya selaras dengan
masalah yang harus dijelaskan.
Hal ini bersangkutan dengan Rahasia apa yang akan Allah buka
kepada ummat manusia pada zaman tersebut. Karena lambat laun, dari waktu
ke waktu Allah akan membuka rahasia Al Qur'an menurut zamannya.
Sehingga pada hari akhir nanti, Al Qur'an sudah demikian jelas, bagi
siapapun.
Wallahu'alam
AIS, Ujungpandang
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)