Assalamu'alaikum ww,
Dari penuturan Pak Karim, saya menyimpulkan bahwa anda bingung
sebagai akibat dari menjajarkan pengertian-pengertian yang
masing-masing didefinisikan dengan kacamata yang berlainan. Karena
itu, untuk menghilangkan kebingungan itu, maka kita harus melihat
tiap statement menurut sudut pandang pembicaranya masing-masing.
Anda menemukan kontradiksi dari kedua pembicara itu dalam perkara
'memudahkan' ibadah.
Pembicara pertama mengarahkan pembicaraan kepada orang yang terlalu
banyak mempunyai urusan duniawi sehingga urusan ibadah menjadi
terbengkalai, kepada mereka yang lalai dalam menjalankan ibadah
karena terlalu sibuk hingga ibadah merupakan suatu beban yang
memberatkan. Pembicara merasa perlu menolong meringankan beban
orang-orang ini dengan menganjurkan agar urusan-urusan duniawi itu
dikurangi jumlahnya.
Pembicara kedua mengarahkan pembicaraan kepada orang-orang yang
tidak terhalang urusan duniawi, tetapi menganggap enteng urusan
ibadah sehingga 'membuat' kemudahan-kemudahan sendiri dan cenderung
untuk tidak berhati-hati serta congkak dalam beribadah. Rupanya,
pembicara khawatir bahwa gejala ini akan mengarah kepada riya'.
[Tetapi, dengan hanya sekedar menganggap mudah ibadah, perbuatan itu
sendiri belum dapat disebut riya']
Jadi, karena sasarannya lain, tidak ada kontradiksi, bukan?
Dalam pandangan saya pribadi, kita sebenarnya tidak perlu harus
meniru Nabi Sulaiman atau Abu Bakar dengan 'membunuh kuda' atau
'mewakafkan kebun' kita, apalagi kalau kuda atau kebun itu menjadi
satu-satunya sumber nafkah kita. [Nabi Sulaiman adalah raja
terkaya di sepanjang zaman; tentu kematian kuda-kudanya tak banyak
berarti baginya. Demikian pula, Abu Bakar bukanlah orang yang
miskin]. Cukuplah bagi kita berzuhud dengan mengatur kegiatan kita
sehari-hari sedemikian rupa sehingga urusan ibadah tidak
terkorbankan. Kalaupun urusan pekerjaan kadang-kadang [tidak selalu,
bukan?] mamaksa, bolehlah kita menjama' shalat dzuhur dengan 'asyar,
dan shalat maghrib dengan isya.
Demikian pula, meskipun kepada kita diberi kemudahan dalam menjama'
shalat, hendaklah kita tidak mencari-cari alasan untuk tidak shalat
pada waktunya.
Islam tidak menganjurkan kita untuk menjadi pertapa yang
meninggalkan seluruh urusan duniawi, namun juga tidak menghendaki
kita selalu tenggelam dalam urusan duniawi. Islam adalah pertengahan
di antara kedua ekstrim itu.
Wassalamu'alaikum ww.
RS
SK Karim wrote:
> 1. Dalam suatu ceramah disampaikan bahwa :
>
> �Orang yang zuhud akan diberi Allah ilmu tanpa belajar dan kepekaan
> pandangan (basiron).
>
> Dijelaskan bahwa pengertian zuhud adalah dunia tidak menghalangi ibadah
> kepada Allah.
>
> Sehubungan dengan zuhud tsb, diceritakan tentang Nabi. Sulaiman dan Abu
> Bakar .
>
> Nabi Sulaiman, karena asyiknya mengurus kuda sampai beliau lupa sholat.
> Kelupaan ini dikarenakan kuda sehingga kuda tersebut beliau bunuh.
>
> Abu Bakar, juga demikian. Pada suatu waktu beliau sangat asyik mengurus
> kebunnya sehingga melalaikan beliau untuk berjamaah. Karena kebun itu
> yang menyebabkan beliau lalai, maka kebun tersebut beliau wakafkan.
>
> Demikian hati-hatinya beliau untuk mencapai zuhud sehingga beliau
> korbankan dunia beliau, dengan maksud agar beliau dapat melakukan ibadah
> dengan enak/nikmat.
>
> 2. Dalam kempatan lain, saya mendapatkan penjelasan bahwa salah-satu
> cara untuk menjadi kekasih Allah adalah menghindari RIYA�.
>
> Sedangkan tanda-tanda riya� antara lain menganggap enak melakukan
> ibadah.
>
> 3. Saya menjadi bingung dengan penjelasan diatas, karena menurut saya
> penjelasan tersebut saling bertentangan.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)