Assalamu'alaikum wr wb,
Daripada menimbulkan tanda tanya, lebih baik saya buka saja.
Pendapat anda benar adanya: ketidak-mampuan kita melakukan shalat
dengan khusyu merupakan akibat langsung dari kegagalan kita untuk
melupakan urusan-urusan lain ketika shalat. Khusyu' identik dengan
pikiran terpusat; jadi pikiranlah yang berperan di sini.
Setahu saya, ada dua pendekatan untuk mencapai pemusatan pikiran:
1. Melatih pikiran untuk hanya memperhatikan satu masalah pada satu
saat yang kita kehendaki. Cara inilah yang saya sampaikan melalui
seri ini. Dengan melaksanakan seri latihan ini, pada umumnya dalam
waktu 3 bulan kita sudah mampu mengendalikan pikiran.
Pendekatan ini tidak menghilangkan gangguan-gangguan terhadap
pikiran, tetapi lebih mengarah kepada pembinaan kemampuan pikiran
untuk bertahan dari gangguan apapun yang ada.
2. Melemahkan --dan jika mungkin menghilangkan-- semua gaya dari luar
yang dapat mengganggu, agar pikiran lebih dapat berkonsentrasi
ketika sedang shalat. Cara-caranya sudah banyak dibicarakan, tetapi
tampaknya banyak orang yang tidak mau melaksanakannya.
Saya yakin, kedua cara itu tidak perlu dipertentangkan, bahkan dapat
digabungkan. Yang satu membentuk pertahanan internal, yang kedua
menghilangkan gangguan eksternal. Keduanya sangat serasi untuk
digabungkan. Kalau ada rekan yang mempunyai tip untuk pendekatan yang
kedua ini, silakan diuraikan bagaimana metode praktisnya agar
rekan-rekan tergerak untuk melakukannya. Ya, memang kita hanya
menyodorkan cara dan mendorong kawan-kawan, tetapi hanya Allah-lah
yang mampu membuka hatinya untuk melaksanakannya.
Wassalamu'alaikum wr wb,
RS
[EMAIL PROTECTED] wrote:
> Mas Rajab, konsep yang anda terapkan dalam rangka sholat khusu' sungguh
> menarik dan saya setuju dengan jalan ini. Insya Allah saya juga menempuh
> cara ini dan tentunya dalam melakukan segala aktivitas disamping berniat
> ibadah juga berusaha ihlas. Hasilnya alhamdulillah ada perkembangan
> membaik dari sebelumnya, dimana segala aktivitas biasanya secara tidak
> disengaja ter-replay kembali sekalipun dalam sholat.
> ................... (selanjutnya disebut cara
> pertama)................................
>
> Saya belum tahu persis akhir dari cerbungnya pak Sunarman sampai dengan
> seri ke 07 ini.
> Pendapat saya sementara metodenya Pak Sunarman ini (mungkin) pada akhirnya
> seseorang akan mempunyai 'ilmu mengendalikan' imaginasi/pikirannya. Maaf ya
> Pak ini bukan kesimpulan lho wong ceritanya juga belum selesai kok. Ini
> hanya praduga tak bersalah saja.....
> ................... (selanjutnya disebut cara
> kedua)................................
>
> Obyek utama dalam sholat menurut pendapat saya adalah Allah. Sedangkan
> obyek itu sendiri sifatnya 'Maha Abstrak' yang tidak mungkin dijangkau
> dengan rekayasa akal/ imaginasi.
> Bagaimana pun hebatnya rekayasa akal/imaginasi, hasilnya pasti berdimensi
> makluk (kondisi ini isi tapi .........). Dia bukan itu! Dia Maha Sempurna
> Dari itu semua.
>
> Salah satu jalan yang mungkin adalah dengan berbekal cermin yang bersih dan
> totalitas kepasrahan seorang hamba di depan Kholiknya (kosong) sehingga
> 'isi' nya insya Allah dari ridloNya Dia sendiri.
>
> Tulisan saya ini tidak bermaksud mengukur metodenya pak Sunarman, toh akhir
> ceritanya belum ketahuan. Saya bermaksud mengajak untuk sharing pengalaman
> dari kedua 'kubu' yakni rekan yang belajar dengan cara pertama dan rekan
> yang belajar dengan cara kedua.
> Atau mungkin ada yang mengkonvergensikan dari kedua metode itu.
>
> Insya Allah dengan sedikit keterbukaan pengalaman dari masing-masing cara
> itu akan memberikan gambaran baru usaha kita untuk bisa khusu' .
Rahim Rajab wrote:
> Ini menurut logika saya :
> Penyebab orang tidak bisa khusu' adalah mengingat kegiatan duniawi pada
> saat sedang shalat.
> Jadi,..satu-satunya cara agar bisa khusu' adalah menghindari
> penyebabnya.
> Cara menghindarinya adalah menciptakan kondisi dalam hidup dimana segala
> aktivitas setiap hari
> yang dilaksanakan semuanya bertujuan untuk ibadah kepada Allah.
>
> Adapun ritual yg berupa gerakan fisik adalah expresi dari usaha untuk
> menciptakan kondisi tersebut.
> Tapi sekali lagi saya lebih menekankan pada gerakan hati bukan pada
> gerakan fisik.
>
> Dan pada akhirnya jika kondisi tersebut telah dicapai maka yakinlah
> anda bisa khusu' karena tidak ada lagi kegiatan duniawi yg mengganggu
> shalat anda.
>
> Kesimpulannya :
> Activitas sehari-hari anda akan terus mengganggu kekhusu'an shalat anda
> sepanjang activitas yg dilaksanakan tersebut tidak bertujuan ibadah.
>
> Sekali lagi ini hanya logika saya,
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)