Waalaikumussalam Wr. Wb

Dalam memahami hal ini dengan 'akal bawah' (otak) saya juga sempat koclak.
Bingung and lieur begitulah :)

Namun Alhamdulillah, Allah memberikan pengetahuan tentang hal tsb, yang
sedikit banyak menjawab kebingungan tersebut.

Ketika kita menelaah kata JIWA dikatakan di Al Qur'an dengan kata dasar
Al-Nafs, bukan Ar-Ruh, karena Ar-Ruh berarti RUH bukan JIWA.

Al-Nafs berbentuk tunggal jamaknya adalah Al-Anfus atau Al-Nufus.

Al-Nafs, yang tunggal merujuk kepada Jiwa Muthmainnah (Hakikat DIri
Manusia).
Al-Anfus dan Al-Nufus yang tunggal merujuk kepada Hawa Nafsu (Nafsu Amarah)
atau kumpulan dari Al-Nafs (Jiwa Muthmainnah).

Kenapa Hawa Nafsu (Nafsu Amarah) dalam bentuk jamak?
Karena memang Hawa Nafsu itu berjumlah banyak.

Imam Ja'far Ash Shodiq dalam keterangannya yang dikutip dalam buku +ACI-Tao of
Islam+ACI- mengatakan bahwa jumlah Hawa Nafsu (prajurit kebodohan) sebanyak 75
jenis.

Dengan demikian maka :

+AD4AWw-AL-ANFUS+AF0- Allah memegang jiwa orang (al-anfus) ketika matinya ....maka
+AD4-Ia tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya.
+AD4-Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah
+AD4-bagi kaum yang berfikir (QS. 39:42)
+AD4-
+AD4AWw-KULLU NAFSIN+AF0- (Alyawma tujza kullu nafsin...) Pada hari ini tiap-tiap
+AD4-jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya.Tidak ada yang
+AD4-dirugikan pada hari ini.Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (QS.
+AD4-40:17)
+AD4-
+AD4AWw-NAFSUN+AF0- (AAalimat nafsun ma qaddamat waakhkharat)
+AD4-Apabila langit terbelah,dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
+AD4-dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan
+AD4-dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan
+AD4-dan yang dilalaikannya. (QS. 82:1-5)


Siksaan kepada Jiwa, terjadi dalam Kubur.
Sesuai dengan keadaan Jiwa Muthmainnahnya.

Bagi manusia yang Jiwa Muthmainnah-nya sehat ketika mati (kembali ke fitrah
asal seperti baru lahir), maka akan terbebaslah ia dari siksa kubur.
Tetapi bila Jiwa Muthmainnah-nya tidak sehat ketika mati (buta, tuli, bahkan
lebih dari itu), maka ia akan terkena siksa kubur.

+AD4-Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali)
+AD4-tulang belulangnya (QS. 75:3) Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa
+AD4-menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (QS. 75:4)


Bila melihat ayat ini, ini merupakan penjelasan bahwa kalau di akhirat nanti
yang di siksa bukan hanya jiwa tetapi jasadnya pun.

+AD4-2. Ruh itu nanti kemana larinya? Kembali kepada Allah SWT? Saya berpikir
+AD4-liar akan teori Reinkarnasi yang ada di agama hindu +ACY- budha. Rasanya
+AD4-mereka mengatakan bahwa Ruh-lah yang berulang-ulang ditiupkan (daur
+AD4-ulang?) pada berbagai jasad dan bukan jiwa yang diturunkan
+AD4-berulang-ulang. Jika demikian barangkali Ruh itu kembali ke kotak lalu
+AD4-ditiupkan lagi ke tubuh yang lain gitu? :-) Ruh rasanya tidak pernah
+AD4-dianggap salah ya di dalam al-quran. Apakah mungkin yang diajarkan dalam
+AD4-agama-agama tersebut bahwa Ruhul Awwal yang belum berkembang menjadi
+AD4-Ruhul Quddus akan terus menerus ditiupkan kepada jasad yang lain,
+AD4-kecuali hingga berkembang sempurna menjadi Ruhul Quddus maka akan
+AD4-kembali kepada Allah dengan sukarela bersama Jiwa Muthmainnah (QS 39:42)
+AD4-?. Perkataan Ruh selalu terkait dengan kepatuhan kepada Allah seperti
+AD4-pada ayat di bawah:
+AD4-
+AD4AWw-ALROOHU+AF0- Pada hari, ketika ruh (alrroohu) dan para malaikat berdiri
+AD4-bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin
+AD4-kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah+ADs- dan ia mengucapkan kata yang
+AD4-benar. (QS. 78:38)

Bagi bumi sumber cahaya yang paling besar adalah matahari.
Ketika diruangan kita menjadi terang karena ada cahaya, pada dasarnya adalah
cahaya matahari.
Demikian pula diruangan-ruangan lainnya.

Nyawa yang membuat hidup jasad manusia pada dasarnya adalah ruh Allah.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke
dalamnya ruh-Ku. (QS. 15:29 +ADs- 38:72)

Apabila seorang mati jasadnya, maka Ruh kembali kepada sumbernya (Allah).
Jasadnya dikubur dan hancur. Dalam kubur Jiwa yang tidak sempurna ke
muthmainnahannya (karena dosa) disiksa.
Jiwa yang sempurna kemuthmainnahannya hidup disisi Allah (QS 2:154) dan
dapat berada dimanapun ditengah manusia (QS 6:122) namun banyak orang yang
tidak menyadarinya.

Ketika hari berbangkit (akhirat), Allah maha kuasa untuk membentuk kembali
jasad manusia (QS 75:3-4) untuk digabungkan kembali dengan Jiwanya.

Bagi yang Jiwanya berdosa (kecuali Kafir-Syirik), akan disiksa untuk
pensucian dirinya.
Ketika sudah bersih, maka akan masuk ke surga.


+AD4-3. Yang pernah bersaksi kepada Allah itu Ruh atau Jiwa? Kalau membaca QS
+AD4-7:172 maka itu adalah jiwa. Tapi jiwa yang mana ya? Apakah Jiwa
+AD4-Muthmainnah-saja kah ataukah semua Jiwa? Rasanya malah selain Jiwa
+AD4-Muthmainnah karena kata yang dipergunakan adalah Anfus? Lho kok malah
+AD4-Jiwa Muthmainnah itu tidak pernah bersaksi kepada Allah ya?
+AD4-
+AD4AWw-ANFUS+AF0- (....waashhadahum AAala anfusihim alastu birabbikum qaloo bala
+AD4-shahidna...) Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
+AD4-anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
+AD4-jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman):+ACI-Bukankah Aku ini Tuhanmu+ACI-. Mereka
+AD4-menjawab:+ACI-Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi+ACI-. (Kami lakukan
+AD4-yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
+AD4-mengatakan:+ACI-Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
+AD4-terhadap ini (keesaan Tuhan)+ACI-. (QS. 7:172)


Al-Nafs (Jiwa) dari banyak orang yang berkumpul disebut pula Anfus
(Jiwa-Jiwa).





---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke